Kamis, 17 Desember 2009

Implementasi Kurikulum Terintegrasi TIK dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menyongsong Era Digital

Implementasi Kurikulum Terintegrasi TIK dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menyongsong Era Digital
Implementasi Kurikulum Terintegrasi TIK dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menyongsong Era Digital Temu Ilmiah Nasional Guru yang akan diselenggarakan pada 7-8 Agustus mendatang, merupakan kegiatan yang bertujuan membangun sinergi dan komitmen profesional guru melalui pertemuan ilimiah. Dengan mengangkat tema “Profesionalisme Guru untuk Pembelajaran yang Berkualitas: Berbagi Gagasan Keunggulan dan Pengalaman Terpetik” acara yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka (UT) ini akan dibuka oleh Mendiknas di UTSS, Tangerang, Banten. Acara yang digelar nanti juga akan dihadiri oleh berbagai nara sumber dari Kualalumpur, Bangkok, Filipina. Brunei, Singapore dan Dirjen PMPTK serta Dikti. Selain nara sumber dari negara tetangga, hadir nara sumber dari kalangan guru di seluruh Indonesia, salah satunya adalah Penulis (Elizabeth T dari SMA Xaverius 1 Jambi) yang terpilih dalam menyajikan makalah pada acara tersebut. Berikut petikan tulisan yang akan turut memperkaya pengalaman belajar dalam dunia pendidikan kita. Kurikulum Pendidikan (KTSP), Seberapa Pentingkah?Kata kurikulum, kerap terkait dengan hal-hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari. Tugas-tugas yang dikerjakan dan diselesaikan sudah seharusnya dilakukan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan harapan memperoleh hasil yang memuaskan. Oliva (1984), seorang ahli kurikulum, menyebutkan bahwa pada awal munculnya kata "curriculum" di jaman Romawi mempunyai arti yaitu jalur atau gelanggang pacu yang harus dilewati pada perlombaan kereta kuda. Ternyata, dua puluh satu abad kemudian. kata kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan dan berkembang menjadi konsep yang artinya luas. Memahami kata kurikulum sendiri bak memasuki hutan rimba yang penuh dengan segala kemungkinan. Definisi yang diberikan bisa saja dipandang dari segi teknis, segi isi, atau bahkan dianggap sebagai kompas yang akan menentukan ke arah mana suatu proses pendidikan akan berjalan. Dampak yang terjadi seringkali dikatakan bahwa proses pendidikan dikendalikan, diatur, dan dinilai berdasarkan kriteria yang ada dalam kurikulum. Sebelum melangkah lebih jauh dalam mengembangkan kurikulum agar mencapai tujuan kurikulum yang merupakan bagian dari proses keberhasilan pendidikan, para pengembang kurikulum perlu memahami pengertian dan posisi kurikulum yang akan menentukan apa yang seharusnya menjadi tolok ukur keberhasilan kurikulum, sebagai bagian dari keberhasilan pendidikan. Berbagai literatur mengemukakan bahwa kurikulum diartikan sebagai suatu dokumen berisi rencana tertulis mengenai kualitas pendidikan yang diharapkan harus dimiliki oleh peserta didik melalui suatu pengalaman belajar. Salah satunya dikemukakan oleh Oliva (1997:12) bahwa "Curriculum itself is a construct or concept, a verbalization of an extremely complex idea or set of ideas". Sementara pendapat George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa : “ A Curriculun is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935). Adapun kurikulum dalam UU No 20/2003 dinyatakan sebagai "seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu" (pasal 1 ayat 19). Pendidikan harus membekali peserta didik baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat, sehingga mampu mengembangkan potensinya dalam menghadapi kehidupan. Intinya adalah kurikulum sebagai upaya untuk mengembangkan diri peserta didik, pengembangan disiplin ilmu, atau kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik untuk suatu pekerjaan tertentu. Sementara definisi kurikulum dalam arti teknis pendidikan, memandang keterkaitan antara kurikulum dengan proses pembelajaran dalam kelas, Saylor, Alexander,dan Lewis, 1981 mengemukakan bahwa kurikulum adalah rencana bagi guru untuk mengembangkan proses pembelajaran. Adapun Zais,1976:10 mengatakan bahwa kurikulum adalah dokumen tertulis yang berisikan berbagai komponen sebagai dasar bagi guru untuk mengembangkan aktivitas yang akan terjadi dalam kelas. Dari berbagai ulasan pengertian kurikulum, tentunya kita dapat menempatkan bahwa kurikulum adalah jantung pendidikan. Semua aktivitas kependidikan yang dilakukan sekolah didasarkan pada apa yang direncanakan kurikulum sekolah tersebut sehingga outcome yang diharapkan merupakan bukti terhadap keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Hal ini sekaligus merupakan salah satu bentuk akuntabilitas (academic accountability) suatu lembaga pendidikan terhadap masyarakat. Tidaklah berlebihan jika sebelum memasukkan anaknya ke dalam suatu sekolah, hendaknya orangtua perlu melihat dan mengkaji kurikulum sekolah tersebut untuk mengetahui kegiatan sekolah apa yang akan dilaksanakan dan apa yang ingin dihasilkan oleh sekolah tersebut, meskipun kenyataannya jarang orangtua yang menanyakan hal ini. Kendati kenyataan yang terjadi dalam sistem pendidikan di Indonesia yang telah berganti-ganti kurikulum sejak 1975, kurikulum yang berlaku saat ini masih berisi kumpulan materi dari berbagai disiplin ilmu yang lebih dominan menekankan pada penguasaan konsep dan teori. Oleh karena itu, sesuai dengan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006/Nomor 6 Tahun 2007 bahwa sekolah-sekolah telah diberi amanat untuk menerapkan kurikulum KTSP mulai tahun pelajaran 2006/2007. Sementara adanya Undang-Undang (UU) Republik Indonesia (RI) Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, menegaskan bahwa kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hal ini merupakan angin segar yang mendorong pelaksanaan KTSP justru merupakan kesempatan bagi setiap lembaga pendidikan untuk menjawab kebutuhan pendidikan yang ada saat sekarang dan bukan teoretis semata. Artinya bahwa KTSP merupakan tantangan untuk menjawab apakah kurikulum dapat mengakomodir berbagai masalah sosial yang berkenaan dengan pendidikan, apakah kurikulum dapat membangun kehidupan masa depan seiring dengan era yang terjadi saat sekarang, atau kurikulum hanyalah “construct" yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan, tanpa melihat kebutuhan peserta didik dan masyarakat yang ada. Sesuaikah Kurikulum (KTSP) dengan Teori Pendidikan?Keterkaitan antara kurikulum dengan teori pendidikan berdasarkan atas pemikiran bahwa kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum dan teori kurikulum dijabarkan berdasarkan teori pendidikan tertentu. Menurut Sukmadinata (1997), dikenal 4 teori pendidikan. Teori pertama menyatakan bahwa jika peserta didik dilatih agar menggunakan daya pikirnya berupa ide melalui proses belajar yang mengakomodasi latihan meneliti, menemukan sesuatu (inquiry) serta ekspositori berarti kurikulum disusun berdasarkan teori pendidikan klasik. Pada bagian ini, kurikulum sendiri bersifat akademis karena berfokus pada pemberian pengetahuan bagi peserta didik. Sementara teori pendidikan pribadi yang mengakomodir model kurikulum humanis berfokus pada masalah sosial sehingga peserta didik dilatih mengembangkan diri, memiliki kesadaran diri, serta mampu mengaktualisasi diri. Teori pendidikan berbasis teknologi pendidikan menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum teknologis, yaitu model kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi para peserta didik, melalui berbagai teknologi baik metode pembelajaran atau media pembelajaran sehingga peserta didik dapat menguasai keterampilan-keterampilan dasar tertentu. Teori pendidikan keempat yaitu pendidikan interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi sosial, yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para peserta didik pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Implementasi yang sesuai untuk model kurikulum ini salah satunya adalah PBL (problem based learning) sebagai salah satu model pembelajaran yang mendorong peserta didik berkolaborasi dalam kelompok untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Mencermati uraian di atas, kurikulum KTSP sangat sesuai diterapkan mengingat KTSP dapat mengakomodir ke-4 teori pendidikan yang menjadi dasar penyusunan kurikulum disesuaikan dengan keadaan, kemampuan dan kepentingan sekolah masing-masing. Seharusnya hal ini bukanlah hambatan bagi setiap sekolah khususnya guru selaku ujung tombak pembelajaran agar mampu melaksanakan KTSP, yang karena fleksibilitasnya justru akan membawa peningkatan proses dan hasil belajar sesuai dengan apa yang diharapkan.Guru sebagai Salah Satu Implementator KurikulumImplementasi kurikulum merupakan bagian dari proses pengembangan kurikulum yang akan dipengaruhi berbagai faktor seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, ilmu, dan teknologi. Seperti pada ulasan sebelumnya, dikatakan bahwa kurikulum yang dikembangkan akan menjadi rangkaian kegiatan proses pembelajaran yang bakal dilaksanakan dalam kelas maka sudah seharusnya aspek kualitas manusia yang bagaimana yang akan dikembangkan sehingga diperoleh masyarakat dengan kualitas yang bagaimana juga, merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan sejak awal tanpa menyimpang dari tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, guru sebagai penanggung jawab kegiatan belajar dalam kelas perlu memahami kurikulum secara luas sehingga akan terhindar dari jerat bahwa seolah pendidikan hanya untuk mencapai target demi mengantarkan peserta didik mencapai nilai setinggi-tingginya pada Ujian Nasional. Cara pandang ini menuntut guru untuk mampu berkreativitas, merancang proses pembelajaran yang menjawab kebutuhan siswa dalam menghadapi eranya, memfasilitasi kegiatan belajar yang melibatkan aktivitas siswa secara penuh sehingga pengalaman belajar diingat seumur hidup. Intinya bahwa orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik (learner centred). Dengan berbekal pemahaman terhadap aspek pedagogi seharusnya bukanlah menjadi beban bagi guru dalam melaksanakan berbagai model, pendekatan, atau strategi pembelajaran dalam kelas demi memfasilitasi tercapainya tujuan pembelajaran yang ada. Integrasi TIK dalam Kurikulum sebagai Tantangan Era Digital?Seperti telah dibahas di awal bahwa pengembangan kurikulum harus mampu menjawab tantangan pendidikan di era digital abad ke-21 ini. Penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar memungkinkan proses pendidikan yang lebih interaktif dan membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di era digital ini, yaitu ICT literacy, kemampuan berkolaborasi, kemampuan berkomunikasi secara efektif, berpikir kritis dan problem solver. Dengan ditunjang semakin murah, mudah, dan cepatnya akses internet bukan alasan lagi jika guru mulai mengintegrasikan TIK dalam menunjang perubahan paradigma bahwa peserta didik adalah pelaku aktif pembelajaran dan guru sebagai fasilitator. Di balik idealisme tercapainya outcome pendidikan yang mampu menjawab tantangan era digital, ternyata kehadiran TIK akan turut memengaruhi tatakelola sekolah, terkait dengan merumuskan visi dan misi serta menata ulang pola pengelolaan sekolah dan reformasi terhadap kurikulum yang dilaksanakan. Implikasinya, perubahan model pembelajaran dalam konteks pranata pendidikan yang diarahkan kepada manajemen pendidikan berbasis TIK tidak bisa ditawar-tawar lagi. Namun, persoalan yang mengemuka, pertama, guru dihadapkan oleh persoalan yang amat pelik dalam hal perubahan paradigma pola pembelajaran TIK masih dimaknai sebagai kajian teoritis belaka dan belum menyentuh akar persoalan dalam menerapkannya dalam pembelajaran sehari-hari. Kondisi ini diperparah oleh sebagian guru menganggap pola pembelajaran yang inovatif dan kolaboratif masih sebatas wacana. Dalam perspektif pedagogis, yang merujuk pada Sulinet Digital Knowledge Base (SDKB) merekomendasikan empat komponen utama dalam mewujudkan guru dalam penguasaan dasar pengetahuan standar digital dalam konteks pembelajaran. Standar ini memfasilitasi penguasaan guru dalam merancang desain instruksional yang berwilayahkan pada kertas kerja siswa, sistem umpan balik dari siswa, standar multimedia dan penguasaan kurikulum dengan menggunakan kata operasional secara terukur berbasis TIK. Perubahan paradigma guru dari pola pembelajaran secara tradisional bermigrasi ke arah sistem komunikatif yang diimbangi oleh pemecahan berbasis masalah serta didukung oleh sistem evaluasi pembelajaran berbasis portofolio perlu didukung kompetensi guru dalam penguasaan model-model pembelajaran. Jika dicermati, setidaknya terdapat tiga wilayah untuk menyikapi pembelajaran berbasis TIK terkait dengan keterampilan dan kemampuan integratif TIK. Pertama, bagi guru dibutuhkan kemampuan dan strategi berkomunikasi dalam menumbuhkan belajar secara kolaboratif. Kedua, integrasi TIK sebagai bentuk perwujudan teknologi dapat memberikan kontribusi dalam pembelajaran. Ketiga, desain pembelajaran sebagai bentuk peningkatan guru dalam memperbaiki kurikulum serta desain instruksionalnya. Untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengintegrasi TIK dalam bidang studi telah dikembangkan di berbagai negara. Berbagai kegiatan telah dilakukan melalui kursus hingga pendidikan formal. Bahkan, dalam ranah kebijakan terkait dengan kompetensi guru di bidang TIK dan integrasinya dalam pembelajaran UNESCO secara gamblang menuangkannya dalam dokumen ICT competency standards for teachers (2008). Sementara menurut (Bate, 2008) secara teknis berikut komponen terkait dengan kolaborasi dan kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran berbasis TIK yakni Engaged learning principles: Design tenets for each facet of the program reflect our belief that technology is best employed when paired with engaged learning strategies. Activities reflect engaged learning principles. Curriculum planning skills: The heart of technology integration is effective teaching practices. Planning is key to effective teaching. Program will practice using tools and processes that provide a framework for planning standards-based, technology-rich learning activities. Modeling: Model different instructional strategies to engage participants in active learning. Technology skills: Use technology, including software, resources from Learning Essentials, and other ICT tools, to help them develop the skills and comfort needed to assist other teachers to use these same teaching tools in their classrooms. Intinya adalah perubahan paradigma dalam perspektif pedagogi baru dan untuk ini dibutuhkan komitmen pribadi dalam diri guru untuk mau berubah dengan banyak belajar dan berlatih serta dedikasi yang tinggi terhadap kemajuan peserta didik.Tips Mengimplementasikan Kurikulum Terintegrasi TIK di SekolahIsu penting yang menyangkut integrasi TIK dengan kurikulum terdapat komponen utama yang harus dimiliki bahkan sebagai bentuk komitmen untuk membangun kapasitas sekolah berbasis TIK. Pertama, pentingnya strategi penerapan terkait dengan subtansi pembelajaran dan aspek teknisnya. Kedua, ketersediaan sumber belajar secara memadai yang didukung oleh infrastruktur berbasis TIK. Sedangkan yang ketiga adalah kompetensi guru dalam aspek pedagogi baru untuk melaksanakan manajemen kelas yang mengikuti kaedah-kaedah pembelajaran berbasis TIK. Pengalaman Penulis selama mengajar bidang studi kimia di SMA Xaverius 1 Jambi telah menerapkan hal-hal ini khususnya pada kelas XI IPA baik melalui multimedia, pembelajaran berbasis website dengan merancang website khusus yang digunakan sebagai interaksi belajar antar murid dan guru. Hasilnya ternyata kita dapat menemukan bahwa setiap peserta didik mampu mengembangkan kapasitasnya baik dari segi kognitif, psikomotorik, maupun afektif dalam bentuk soft skill disertai suasana belajar yang menyenangkan sehingga belajar menjadi bermakna di samping bekal keterampilan TIK bagi peserta didik dalam menunjang era digital.Dukungan kebijakan untuk menyongsong pembelajaran berbasis TIK, Departemen Pendidikan Nasional telah menghadirkan buku putih tentang TIK sebagai sarana pembelajaran. Setidaknya, telah dirumuskan dalam tujuh komponen penting peran TIK dalam pembelajaran, mulai dari sebagai sumber belajar hingga ranah kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa dalam pembelajaran. Dengan demikian, mengimplementasikan TIK dalam pembelajaran yang terintegrasi disertai keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum, dukungan sekolah, serta tuntutan kebutuhan era demi peningkatan kualitas outcome pendidikan merupakan hal urgen yang tidak bisa ditawar lagi. Sanggupkah??

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

bloguez.com