Senin, 21 Desember 2009

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS BERITA DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL KOMPONEN PEMODELAN PADA SISWA KELAS VIIIA SMP NEGERI I KAJORAN KABUPAT

Peningkatan ketrampilan menulis teks berita dengan Pembelajaran Kontekstual Komponen Pemodelan pada siswa kelas VIII…..

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS BERITA

DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL KOMPONEN PEMODELAN

PADA SISWA KELAS VIIIA SMP NEGERI I KAJORAN

KABUPATEN MAGELANG

TAHUN PENGAJARAN 2004/2005

SKRIPSI

untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

oleh

Nama : Korib Farhan

NIM : 2101401053

Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2005


PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi.

Semarang, 14 September 2005

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dra. Mimi Mulyani, M.Hum. Drs. Haryadi, M.Pd.

NIP 131863779 NIP 132058082


ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

pada hari : Rabu

tanggal : 14 September 2005

Panitia Ujian Skripsi

Ketua,

Prof. Dr. Rustono, M.Hum.

NIP 131281222

Sekretaris,

Drs. Mukh Doyin, M.Si.

NIP 132106367

Penguji I,

Drs. Wagiran, M.Hum.

NIP 132050001

Penguji II,

Drs. Haryadi, M.Pd.

NIP 132058082

Penguji III,

Dra. Mimi Mulyani, M.Hum.

NIP 131863779


iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 14 September 2005

Korib Farhan


iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto: - Keinginan, angan-angan, dan harapan tidak akan terwujud tanpa adanya sebuah perbuatan.

- Akulah yang bisa menentukan masa depanku, yang lain hanya bisa membantu.

Kupersembahkan untuk:

- Ibuku yang melahirkan, menyusui, dan membesarkanku.

- Ayahku yang mendidik dan menafkahiku.

- Kakak-kakakku yang memberi teladan bagiku.

- Krucil-krucil yang memberi senyuman manis dihatiku.

- Adinda Farell yang selalu memberi semangat dan harapan.

- Guru dan almamaterku yang mengantarkan langkahku.


v

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Skripsi ini dapat diselesaikan berkat bantuan dan fasilitas yang diberikan oleh berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Rustono, M.Hum., Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan skripsi ini;

2. Drs. Mukh Doyin, M.Si., Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian;

3. Dra. Mimi Mulyani, M.Hum., dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, masukan ide, dan koreksi dengan kesabaran dan kesungguhan selama proses penyelesaian skripsi;

4. Drs. Haryadi, M.Pd., dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, masukan ide, dan dorongan sehingga skripsi ini dapat selesai;

5. Semua dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan ilmu dan pengalamannya kepada penulis;

6. Petugas TU Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, TU Fakultas Bahasa dan Seni, dan petugas Kombat yang telah membantu dan memberikan kemudahan dalam urusan administrasi dan peminjaman buku;

7. Teman-teman PBSI angkatan 2001 yang selalu semangat dalam kebersamaan; serta

8. Semua pihak dan instansi yang membantu terselesaikannya skripsi ini.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua yang membaca dan dapat menjadi sumbangan bagi dunia pendidikan.

Semarang, 14 September 2005

Penulis


vi

SARI

Farhan, Korib. 2005. Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Berita dengan Pembelajaran Kontekstual Komponen Pemodelan pada Siswa Kelas VIIIA SMP Negeri I Kajoran Kabupaten Magelang Tahun Pengajaran 2004/2005. Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Dra. Mimi Mulyani, M.Hum., Pembimbing II: Drs. Haryadi, M.Pd.

Kata kunci: keterampilan menulis teks berita, pembelajaran kontekstual, pemodelan.

Keterampilan menulis teks berita siswa SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang masih kurang. Hal ini disebabkan oleh faktor ketidaktepatan pemilihan pendekatan pembelajaran yang digunakan guru. Pendekatan yang digunakan oleh guru masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan sehingga ceramah menjadi pilihan utama dalam pembelajaran tersebut. Faktor lain yang berasal dari siswa adalah kurangnya motivasi untuk menulis teks berita karena ada anggapan bahwa menulis teks berita adalah kegiatan yang sulit.

Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana peningkatan keterampilan menulis teks berita pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang setelah mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dan (2) perubahan tingkah laku siswa setelah pembelajaran menulis teks berita dilaksanakan dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah (1) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis teks berita siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, dan (2) perubahan tingkah laku pada siswa. Penelitian ini mempunyai manfaat teoretis dan praktis. Manfaat teoretis penelitian ini adalah menambah khasanah pengetahuan tentang menulis teks berita dan mengembangkan teori pembelajaran menulis teks berita melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, manfaat bagi guru adalah memberikan alternatif pemilihan pendekatan pembelajaran menulis teks berita khususnya dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, sedangkan bagi siswa dapat meningkatkan keterampilan menulis teks berita.

Subjek penelitian ini adalah keterampilan menulis teks berita siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang. Variabel dalam penelitian ini adalah keterampilan menulis teks berita dan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan dua siklus. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu teknik tes dan nontes. Teknik tes digunakan untuk mengetahui perhitungan dari masing-masing siklus kemudian dibandingkan yaitu antara hasil siklus I dengan hasil siklus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai persentase


vii

peningkatan keterampilan menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan, sedangkan teknik nontes yang digunakan adalah melalui observasi, wawancara, dan jurnal. Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Teknik kuantitatif dipakai untuk menganalisis data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes menulis teks berita pada siklus I dan II.

Keterampilan menulis teks berita pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang meningkat setelah menggunakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan sebesar 12,39%. Rata-rata skor pada siklus I menunjukan peningkatan dibandingkan dengan rata-rata skor pada prasiklus 68,29%menjadi 74,51%. Rata-rata skor yang dicapai pada siklus II sebesar 80,68% , ini menunjukan peningkatan sebesar 13,50% dari prasiklus ke siklus I, 69,29% dari siklus I ke siklus II, dan 18,93% dari siklus prasiklus ke siklus II. Perubahan tingkah laku yang tampak dalam pembelajaran menulis teks berita dengan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan yaitu siswa merasa senang, lebih bersemangat, aktif, dan lebih mandiri dalam mengerjakan tugasnya.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis menyarankan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya menggunakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam kegiatan menulis teks berita. Kemudian, siswa supaya mengikuti pembelajaran dengan baik dan berlatih menulis khususnya teks berita. Saran yang ditujukan kepada peneliti lain adalah agar melaksanakan penelitian lanjutan dari penelitian ini dengan aspek yang lain, untuk khasanah ilmu bahasa.


viii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL..................................................................................... i

PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING.................................................. ii

PENGESAHAN KELULUSAN................................................................... iii

PERNYATAAN............................................................................................ iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN................................................................ v

PRAKATA.................................................................................................... vi

SARI ........................................................................................................... vii

DAFTAR ISI................................................................................................. ix

DAFTAR TABEL......................................................................................... xii

DAFTAR BAGAN....................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. xiv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................... 1

1.2 Identifikasi Masalah.......................................................................... 7

1.3 Pembatasan Masalah......................................................................... 8

1.4 Rumusan Masalah............................................................................. 9

1.5 Tujuan Penelitian.............................................................................. 9

1.6 Manfaat Penelitian............................................................................ 10

BAB II LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Pustaka............................................................................... 11

2.2 Landasan Teoretis............................................................................. 15

2.2.1 Hakikat Menulis................................................................................ 15

2.2.2 Tujuan Menulis................................................................................. 17

2.2.3 Manfaat Menulis............................................................................... 18

2.2.4 Hakikat Teks Berita.......................................................................... 20


ix

2.2.5 Persyaratan Berita............................................................................. 21

2.2.6 Unsur Berita...................................................................................... 23

2.2.7 Bahasa Berita.................................................................................... 26

2.2.8 Sifat Berita........................................................................................ 27

2.2.9 Jenis dan Macam Berita.................................................................... 28

2.2.10 Pembelajaran Kontekstual................................................................. 30

2.2.11 Komponen Modeling (Pemodelan)................................................... 33

2.2.12 Metode Pembelajaran Menulis.......................................................... 35

2.2.13 Pembelajaran Menulis Teks Berita dengan Pembelajaran Kontekstual Komponen Pemodelan...................................................................... 38

2.3 Kerangka Berpikir............................................................................. 39

2.4 Hipotesis............................................................................................ 42

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian............................................................................... 43

3.1.1 Prosedur Tindakan pada Siklus I...................................................... 44

3.1.2 Prosedur Tindakan pada Siklus II..................................................... 46

3.2 Subjek Penelitian............................................................................... 49

3.3 Variabel Penelitian............................................................................ 50

3.3.1 Variabel Keterampilan Menulis Teks Berita..................................... 50

3.3.2 Variabel Penggunaan Pembelajaran Kontekstual Komponen

Pemodelan......................................................................................... 51

3.4 Instrumen Penelitian......................................................................... 51

3.4.1 Tes..................................................................................................... 51

3.4.2 Nontes............................................................................................... 57

3.5 Teknik Pengumpulan Data................................................................ 58

3.5.1 Teknik Tes......................................................................................... 58

3.5.2 Teknik Nontes................................................................................... 59

3.6 Teknik Analisis Data......................................................................... 61

3.6.1 Teknik Kuantitatif............................................................................ 61

3.6.2 Teknik Kualitatif............................................................................... 62


x

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Prasiklus............................................................................................ 63

4.2 Siklus I.............................................................................................. 64

4.2.1 Data Tes............................................................................................ 64

4.2.2 Data Nontes....................................................................................... 72

4.3 Siklus II............................................................................................. 77

4.3.1 Data Tes............................................................................................ 77

4.3.2 Data Nontes....................................................................................... 85

4.4 Pembahasan....................................................................................... 89

4.4.1 Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Berita............................... 90

4.4.2 Perubahan Perilaku siswa.................................................................. 93

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan........................................................................................... 96

5.2 Saran.................................................................................................. 97

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 99

LAMPIRAN................................................................................................. 101


xi

DAFTAR TABEL

TABEL Halaman

1. Skor Penilaian......................................................................................... 52

2. Kriteria Penilaian Teks Berita................................................................. 53

3. Penilaian Keterampilan Menulis Teks Berita......................................... 56

4. Hasil Keterampilan menulis Teks Berita Prasiklus................................. 63

5. Hasil Keterampilan menulis Teks Berita Siklus I................................... 65

6. Hasil Kelengkapan Isi BeritaSiklus I...................................................... 66

7. Hasil Keruntututan Pemaparan Siklus I................................................... 67

8. Hasil Penggunaan Kalimat Siklus I.......................................................... 68

9. Hasil Kosakata yang Digunakan Siklus I................................................ 69

10. Hasil Kemenarikan Judul Siklus I........................................................... 70

11. Hasil Ketepatan Penggunaan Ejaan Dalam Berita Siklus I..................... 71

12. Hasil Observasi Siklus I.......................................................................... 73

13. Hasil Keterampilan menulis Teks Berita Siklus II.................................. 77

14. Hasil Kelengkapan Isi BeritaSiklus II..................................................... 78

15. Hasil Keruntututan Pemaparan Siklus II................................................. 79

16. Hasil Penggunaan Kalimat Siklus II....................................................... 80

17. Hasil Kosakata yang Digunakan Siklus II.............................................. 81

18. Hasil Kemenarikan Judul Siklus II......................................................... 83

19. Hasil Ketepatan Penggunaan Ejaan Dalam Berita Siklus II................... 84

20. Hasil Observasi Siklus I.......................................................................... 85

21. Rekapitulasi Rata-Rata Pencapaian Keterampilan.................................. 90

22. rekapitulasi Hasil Observasi.................................................................... 94


xii

DAFTAR BAGAN

BAGAN Halaman

1. Kerangka berpikir...................................................................................... 41

2. Siklus Penelitian Tindakan Kelas............................................................. 43


xiii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN Halaman

1. Rencana Pembelajaran Siklus I......................................................... 101

2. Rencana Pembelajaran Siklus II........................................................ 105

3. Contoh Model Teks Berita................................................................ 109

4. Lembar Jawaban Siswa..................................................................... 115

5. Lembar Rekapitulasi Nilai Tes.......................................................... 116

6. Lembar Observasi............................................................................. 117

7. Lembar Jurnal.................................................................................... 118

8. Lembar Pedoman Wawancara........................................................... 119

9. Rekapitulasi Nilai Hasil Tes Kondisi Awal...................................... 120

10. Rakapitulasi Nilai Hasil Tes Siklus I................................................ 121

11. Rekapitulasi Nilai Hasil Tes Siklus II............................................... 122

12. Tabel Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Berita Tahap Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II....................................................... 123

13. Data Observasi Siklus I..................................................................... 124

14. Data Observasi Siklus II................................................................... 125

15. Tabel Perubahan Perilaku Siswa....................................................... 126

16. Hasil Tes Prasiklus............................................................................ 127

17. Hasil Tes Siswa Siklus I.................................................................... 129

18. Hasil Tes Siswa Siklus II.................................................................. 131

19. Hasil Jurnal Siklus I.......................................................................... 132

20. Hasil Jurnal Siklus II......................................................................... 134

21. Surat Izin Penelitian......................................................................... 136

22. Surat Keterangan Selesai Penelitian.................................................. 137


xiv

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kurikulum disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Mutu pendidikan yang tinggi menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis, dan mampu bersaing sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga negara Indonesia. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara responsif terhadap penyerapan hak asasi manusia, kehidupan demokratis, globalisasi, dan otonomi daerah.

Pemberlakuan Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi oleh pemerintah menghendaki terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya (Depdiknas 2003a:2).

Standar Kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia SMP dan MTs adalah: (1) mampu mendengarkan dan memahami beraneka ragam wacana lisan, baik sastra maupun nonsastra; (2) mampu mengungkapkan pikiran, pendapat,


2

gagasan, dan perasaan secara lisan; (3) mampu membaca dan memahami suatu teks bacaan sastra dan nonsastra dengan kecepatan yang memadai; (4) mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan; (5) mampu mengapresiasi berbagai ragam sastra (Depdiknas 2003b:4).

Untuk mencapai standar kompetensi di atas maka kegiatan belajar adalah lebih daripada sekedar pengajaran. Kegiatan belajar adalah kegiatan pembelajaran. Siswa belajar bukan hanya dari guru melainkan dari teman-teman sekelas, sesekolah, dari sumber belajar lain. Pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru juga harus dapat membawa siswa ke pembelajaran yang bermakna.

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan materi yang disajikan secara sistematis sesuai dengan kenyataan bahasa di masyarakat, diharapkan siswa mampu menyerap materi tentang berbagai hal, mampu mencari sumber, mengumpulkan, menyaring, dan menyerap pelajaran yang sebanyak-banyaknya sekaligus dapat berlatih mengenai Bahasa Indonesia, khususnya keterampilan menulis.

Kurikulum Berbasis Kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah salah satu program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa siswa, serta sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. Standar Kompetensi yang disiapkan dengan bahasa nasional dan bahasa negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta intelektual dalam produk budaya, yang berkonsekuensi pada fungsi dan tujuan mata pelajaran Bahasa dan


3

Sastra Indonesia sebagai (1) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, (2) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, (3) sarana peningkatan pengetahuan, teknologi, dan seni, (4) sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa dan Sastra Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan, (5) sarana pengembangan penalaran, dan (6) sarana pemahaman keberanekaragaman budaya Indonesia melalui kahasanah kesastraan Indonesia (Depdiknas 2003d : 2-3). Untuk itulah, tujuan pembelajaran disajikan dalam komponen kebahasaan, komponen pemahaman, dan komponen penggunaan secara terpadu.

Pembelajaran menulis pada siswa SMP yang dilaksanakan selama ini kurang produktif. Guru pada umumnya menerangkan hal-hal yang berkenaan dengan teori menulis. Sementara pelatihan menulis yang sebenarnya jarang dibahas atau disampaikan, seperti penggunaan tanda baca dalam menulis, memadukan kalimat, menyatukan paragraf yang baik, kurang mendapat perhatian. Padahal tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SMP adalah mempertinggi kemahiran siswa dalam menggunakan bahasa yang meliputi kemahiran menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemahiran bahasa merupakan proses belajar bahasa yang pada umumnya melalui hubungan yang teratur (Depdiknas 1994:1)

Keberhasilan belajar mengajar bergantung pada faktor-faktor pendukung terjadinya pembelajaran yang efisien. Beberapa faktor mengajar yang perlu diperhatikan supaya proses belajar berlangsung baik adalah kesempatan untuk belajar, pengetahuan awal siswa, refleksi, motivasi, dan suasana yang


4

mendukung. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, diharapkan dapat tercipta situasi belajar mengajar yang memungkinkan siswa melakukan aktivitas secara optimal untuk mencapai tujuan keterampilan berbahasa yang terdiri atas empat keterampilan yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.

Dari keempat aspek yang dilatihkan siswa, menulis merupakan keterampilan yang harus mendapat perhatian secara sungguh-sungguh. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis masih rendah. Padahal kemampuan ini sangat penting. Menulis juga merupakan kemampuan puncak berbahasa seseorang, yang meliputi keterampilan memilih kosa kata, menggunakan struktur kalimat, menerapkan ejaan maupun tanda baca, dan menulis teks berita.

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung atau tanpa tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis, seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Keterampilan menulis tidak akan dimiliki seseorang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik secara terus-menerus. Dengan menulis secara terus-menerus dan latihan yang sungguh-sungguh, keterampilan tersebut dapat dimiliki oleh siapa saja. Keterampilan itu juga bukanlah suatu keterampilan yang sederhana, melainkan menuntut sejumlah


5

kemampuan. Betapapun sederhananya tulisan yang dibuat, penulis tetap dituntut memenuhi persyaratan seperti yang dituntut apabila menulis tulisan yang rumit.

Berdasarkan pengamatan peneliti selama ini alokasi waktu pembelajaran menulis di sekolah-sekolah yang salah satunya di SMP, relatif lebih kecil. Hal ini berdampak pada keterampilan menulis mereka belum maksimal sehingga setelah para siswa menamatkan jenjang sekolah, dikhawatirkan belum mampu menggunakan keterampilan berbahasa secara baik dan benar.

Dari observasi di kelas, peneliti menemukan fenomena bahwa pada saat diberi kesempatan menulis teks berita, para siswa tidak mementingkan isi berita. Mereka belum paham betul cara membuat tek berita dengan memperhatikan 5W + H (siapa yang menjadi bahan berita, apa yang terjadi, di mana peristiwa itu terjadi, kapan peristiwa itu terjadi, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana jalannya peristiwa itu). Mereka lebih mementingkan dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh gurunya dan terselesaikan dengan cepat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang kelas VIIIA saat ini kondisi kemampuan menulis berita siswa kelas tersebut rendah. Adapun rendahnya kemampuan tersebut disebabkan kurang mampu menemukan 5W + H (siapa yang menjadi bahan berita, apa yang terjadi, di mana peristiwa itu terjadi, kapan peristiwa itu terjadi, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana jalannya peristiwa itu) dalam sebuah teks berita dan belum dapat menerapkan unsur 5W + H tersebut dalam menulis teks berita. Sedangkan hasil wawancara dengan siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang tahun pengajaran


6

2004/2005 diperoleh data sebagai berikut. Sebanyak 30 dari 41 siswa menyukai mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Siswa yang menyatakan bahwa menulis teks berita tidak mudah sebanyak 30, sedangkan yang menyatakan bahwa menulis mudah sebanyak 11 siswa. Di samping itu, berdasarkan wawancara dengan siswa, pada umumnya mereka tidak termotivasi untuk menulis teks berita sebab setiap menulis teks berita mereka jarang memperoleh nilai tinggi. Dengan demikian, keterampilan menulis teks berita siswa VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang perlu ditingkatkan.

Pembelajaran kontekstual merupakan konsep guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektifitas, yakni kontruktivisme (Contructivisme), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdikbud 2002 : 5).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat membawa pengaruh yang besar pada pendidikan di Indonesia. Hal ini juga berpengaruh pada perubahan dan perkembangan pendidikan, metode dan media atau sarana pendidikan. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan (modeling) diharapkan dapat mengatasi kesulitan dalam menulis teks berita siswa SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang, khususnya siswa kelas VIIIA. Dalam pembelajaran tersebut akan mengaitkan antara materi yang


7

diajarkannya dengan dunia nyata siswa. Di samping itu, dalam pembelajaran tersebut akan dihadirkan sebuah model teks berita saat pembelajaran. Dengan model ini, siswa berdiskusi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan unsur-unsur teks berita dan menemukan (mencatat) apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana tentang peristiwa yang terjadi sebelum mereka membuat teks berita, sehingga siswa mampu menulis teks berita secara singkat, padat, dan jelas. Dengan menghadirkan model teks berita dalam pembelajaran, mereka dapat meniru struktur sebuah teks berita.

Penggunaan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan (modeling) dalam menulis teks berita ini dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai salah satu tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP. Untuk itulah, peneliti akan melakukan penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis teks berita dengan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang.

1.2 Identifikasi Masalah

Keberhasilan dalam pembelajaran bahasa Indonesia berkaitan erat dengan keterampilan menulis dan ditentukan pula oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor pendekatan pembelajaran yang digunakan guru dan faktor siswa.

Keterampilan menulis teks berita siswa SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang masih kurang memuaskan. Hal ini disebabkan oleh faktor 1)


8

ketidaktepatan pemilihan pendekatan pembelajaran, selama ini pendekatan yang digunakan oleh guru masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan sehingga ceramah menjadi pilihan utama dalam pembelajaran tersebut; 2) guru banyak menerangkan tentang teori menulis tetapi tidak banyak memberikan latihan membuat karangan teks berita; 3) guru tidak pernah memberikan contoh konkret teks berita kepada siswa. Berdasarkan observasi dengan wawancara secara langsung kepada siswa, faktor lain yang mempengaruhi nilai keterampilan menulis teks berita adalah 1) siswa kurang latihan menulis teks berita; 2) siswa kurangnya motivasi untuk menulis teks berita; 3) ada anggapan bahwa menulis teks berita adalah kegiatan yang sulit; 4) siswa kurang pengetahuan tantang contoh nyata teks berita.

1.3 Pembatasan Masalah

Masalah yang dibahas dalam skripsi adalah peningkatan keterampilan menulis teks berita siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang tahun pengajaran 2004/2005 dengan pembelajaran pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Untuk meningkatkan keterampilan menulis teks berita di dalam penelitian ini, peneliti berupaya mengatasi kesulitan-kesulitan dalam menulis teks berita. Peneliti membatasi permasalahan karena peneliti berfokus pada peningkatan kemampuan siswa menulis teks berita dengan memperhatikan aspek kelengkapan isi berita (mengandung 5W + H), keruntututan pemaparan (isi urut dan jelas sehingga mudah dipahami), penggunaan kalimat


9

(singkat dan jelas), kosakata yang digunakan bahasa yang tepat, kemenarikan judul, dan ketepatan penggunaan ejaan dalam berita.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis teks berita pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang setelah mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?

2. Bagaimanakah perubahan tingkah laku siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang setelah pembelajaran menulis teks berita dilaksanakan dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis teks berita siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang setelah mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.


10

2. Mendeskripsikan perubahan tingkah laku siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang setelah pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini mempunyai manfaat teoretis maupun praktis.

1. Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis penelitian ini adalah menambah khasanah pengetahuan tentang menulis teks berita. Selain itu, mengembangkan teori pembelajaran menulis teks berita melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis penelitian ini adalah bagi guru, siswa, dan peneliti.

a. Manfaat bagi guru adalah memberikan alternatif pemilihan pendekatan pembelajaran menulis teks berita dan dapat mengembangkan keterampilan guru Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

b. Manfaat bagi siswa adalah dapat meningkatkan keterampilan menulis teks berita.

c. Manfaat bagi peneliti adalah dapat menambah wawasan mengenai penggunaan pendekatan kontekstual.


BAB II

LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam komunikasi adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis adalah suatu proses berpikir yang dituangkan dalam bentuk tertulis. Ide atau gagasan tersebut kemudian dikembangkan dalam wujud rangkaian kalimat. Hasil kegiatan menulis dibaca orang lain. Agar orang lain dapat membaca tulisan tersebut dituntut adanya bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, keterampilan ini membutuhkan perhatian dan keseriusan dari seluruh penyelenggara pendidikan, terutama guru dan kurikulum yang mendukung.

Realitas menunjukkan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa. Pada umumnya mereka menganggap bahwa menulis bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Menulis memerlukan sejumlah potensi pendukung yang untuk mencapainya dibutuhkan kesungguhan, kemauan keras, bahkan belajar dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, wajar bila dikatakan bahwa menciptakan iklim budaya tulis-menulis atau mengarang akan mendorong seorang untuk lebih aktif, kreatif, dan cerdas (Nursito,1999:4).

Siregar (1987:197) tidak mempercayai apabila ada orang yang menyatakan tidak bisa menulis, dia mengomentari bahwa yang ada hanya rasa malas. Hal terseut dikarenakan setiap manusia memiliki otak dan perasaan yang pada dasarnya sudah memiliki konsep penulisan. Oleh karena itu, guru hendaknya


12

mencari dan menerapkan metode maupun pembinaan media dalam upaya peningkatan kemampuan keterampilan menulis siswa.

Penelitian tentang keterampilan menulis telah banyak dilakukan. Penelitian tersebut antara lain penelitian keterampilan menulis naratif, deskriptif, dan argumentatif. Penelitian tentang menulis teks berita masih terbatas. Oleh karena itu, peneliti menganggap perlu untuk melakukan penelitian keterampilan menulis teks berita. Penelitian ini berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Berita dengan Pembelajaran Kontekstual Komponen Pemodelan pada Siswa Kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang.

Penelitian tindakan kelas tentang keterampilan menulis merupakan penelitian yang menarik. Banyaknnya penelitian tentang keterampilan menulis itu dapat dijadikan salah satu bukti bahwa keterampilan di sekolah-sekolah sangat menarik untuk diteliti. Penelitian keterampilan menulis telah dilakukan, antara lain oleh Sukris (2000), Thomas Bagiyo (2004), Suryanto (2004), dan Dwi Astuti (2004).

Sukris (2000) dalam penelitiannya yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Wacana Narasi Melalui Media Rekacerita Bergambar Siswa Kelas II E SLTP N 3 Jekulo mengkaji peran media rekacerita bergambar dalam karangan narasi eksipositoris dan perubahan tingkah laku siswa. Hasil yang diperoleh adalah bahwa media reka cerita bergambar sangat efektif untuk melatih keterampilan berbahasa siswa, khususnya menulis. Hal ini dibuktikan adanya peningkatan denga rata-rata kelas pada siklus I yang mendapat 64,24% dan 69,78% pada siklus II serta tingkah laku siswa juga berubah dilihat dari data


13

nontes. Perubahan tingkah laku siswa, seperti kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, perhatian siswa menerima pembelajaran. Keaktifan dalam mengerjakan tugas.

Bagiyo (2004) dalam skripsinya yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Drama dengan Teknik Modeling pada Siswa-siswi Kelas IV D PL Bernadus Semarang. Bagiyo mencoba teknik Modeling sebagai upaya peningkatan kemampuan keterampilan menulis teks drama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terbukti keterampilan menulis teks drama siswa meningkat setelah pembelajaran menggunakan teknik modeling. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil siklus I sebesar 90,00 dengan rata-rata 64,48 dan pada siklus II meningkat menjadi 90,00 dengan nilai rata-rata 73,6.

Suryanto (2004) dalam skripsinya yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi dengan Teknik Modeling pada Siswa Kelas II SLTP I Sukorejo Kendal mengkaji peran teknik modeing dalam peningkatan menulis karangan narasi dan perubahan tingkah laku siswa. Hasil penelitian ini menerangkan bahwa teknik modeling dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi. Selain itu, terjadi perubahan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil presentase rata-rata siklus I yang mencapai 72,2% dan hasil siklus II 80%, terlihat adanya peningkatan dari siklus I dan siklus II sebesar 7,8% berdasarkan hasil nontes dalam mengikuti pembelajaran, perhatian sisa dalam menerima pembelajaran.

Astuti (2004) dalam penelitiannya yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Narasi dengan Pendekatan Kontekstual


14

Komponen Pemodelan pada Siswa Kelas II PS SMK Negeri 8 Semarang yang mengkaji peran pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam peningkatan keterampilan menulis karangan narasi dan perubahan tingkah laku. Hasil penelitian ini adalah pendekatan kontekstual komponen pemodelan dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi dan adanya perubahan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil rata-rata tes siklus I yang mencapai 63,77 dan hasil siklus II dan silus II sebesar 74,23. Adanya peningkatan dengan presentase rata-rata 80%. Berdasarkan hasil nontes juga mengalami perubahan tingkah laku, seperti kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, perhatian siswa dalam menerima pembelajaran.

Penelitian yang dilakukan oleh Astuti merupakan penelitian tindakan kelas yang paling relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Hal tersebut dibuktikan dengan kesamaan teknik pemodelan melalui pendekatan kontekstual. Perbedaan yang tampak pada penelitian yang dilakukan oleh Astuti menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi tingkat SMK. Sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan untuk meningkatkan keterampilan menulis teks berita pada tingkat SMP.

Penelitian ini berkedudukan sebagai pelengkap dari penelitian-penelitian yang lain. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Pada penelitian ini akan dikaji tentang peningkatan menulis teks berita dan perubahan tingkah laku siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran


15

Kabupaten Magelang terhadap pembelajaran menulis teks berita. Pada penelitian ini, guru akan menghadirkan contoh atau model teks berita saat pembelajaran sehingga siswa dapat membuat tek berita yang baik dan benar karena sebelumnya siswa telah membaca dan mengamati struktur teks berita yang ada dalam model tersebut. Dengan demikian, diharapkan keterampilan menulis teks berita meningkat dan terjadi perubahan tingkah laku yang positif.

2.2 Landasan Teoretis

2.2.1 Hakikat Menulis

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung tidak tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini, penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur kata, dan kosa kata. Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktek yang banyak dan teratur (Tarigan 1986:3-4).

Sujanto (1988: 56) mengungkapkan bahwa menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dilandasi dengan pengetahuan kebahasaan, baik tentang kaidah-kaidah maupun laras-larasnya dan menulis juga merupakan suatu proses yang tidak mungkin datang adanya latihan. Menurut Lado (dalam Ahmadi 1997:143), menulis adalah meletakkan atau mengatur simbol-simbol grafis yang menyatakan pemahaman suatu bahasa sedemikian rupa sehingga orang lain dapat


16

membaca simbol-simbol grafis itu, sebagai penyajian satuan-satuan ekspresi bahasa.

Menurut Akhadiah (1997:3) menulis adalah suatu kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam tulisan. Tulisan merupakan sebuah sistem komunikasi antar manusia yang menggunakan simbol atau lambang bahasa yang sudah disepakati pemakaiannya. Komunikasi tertulis terdapat empat unsur yang terlibat di dalamnya, yaitu (1) penulis sebagai suatu pesan, (2) pesan atau isi tulisan, (3) saluran atau medium tulisan, (4) pembaca sebagai penerima pesan.

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan suatu pesan kepada orang lain dengan medium bahasa yang telah disepakati bersama dan tidak secara tatap muka. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif, maka keterampilan ini harus selalu dilatihkan dan disertai dengan praktek yang teratur.

2.2.2 Tujuan Menulis

Hartig (dalam Tarigan 1986:24-25) mengungkapkan bahwa tujuan menulis adalah (1) assignment purpose (tujuan penugasan) yaitu penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan karena kemauan sendiri; (2) altruistic purpose (tujuan altruistic) yaitu penulis bertujuan untuk menyenangkan pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya,


17

ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu; (3) persuasive purpose (tujuan persuasif) yaitu tulisan yang bertujuan untuk menyakinkan para pembaca dan kebenaran gagasan yang diutarakan; (4) informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan) yaitu tulisan yang bertujuan untuk memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada para pembaca; (5) self-expressive purpose (tujuan pernyataan diri) yaitu tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sebagai sang pengarang kepada para pembaca; (6) creative purpose (tujuan kreatif) yaitu tulisan yang bertujuan untuk mencapai nilai-nilai artistic dan nilai-nilai kesenian; (7) problem-solving purpose (tujuan pemecahan masalah) yaitu tulisan yang bertujuan untuk mencerminkan atau menjelajahi pikiran-pikiran agar dapat dimengerti oleh pengarang.

Menurut Sujanto (1988: 68) tujuan menulis adalah memproyeksikan sesuatu mengenai diri seseorang. Tulisan mengandung nada yang serasi dengan maksud dan tujuannya. Menulis tidak mengharuskan memilih suatu pokok pembicaraan yang cocok dan serasi, tetapi harus menentukan siapa yang akan membaca tulisan tersebut.

Semi (1990:19) berpendapat bahwa tujuan menulis adalah: (1) memberikan arahan, yakni memberikan petunjuk kepada orang lain dalam mengerjakan sesuatu; (2) menjelaskan sesuatu, yakni memberikan uraian atau penjelasan tentang sesuatu hal yang diketahui oleh orang lain; (3) menceritakan kejadian, yaitu memberikan informasi tentang sesuatu yang berlangsung di suatu tempat pada suatu waktu; (4) meringkaskan, yaitu


18

membuat rangkuman suatu tulisan sehingga menjadi singkat; (5) meyakinkan, yaitu tulisan yang berusaha meyakinkan orang lain agar setuju atau sependapat dengannya.

Dari ketiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan menulis adalah untuk mengekspresikan perasaan, memberi informasi, mempengaruhi pembaca, meyakinkan, dan memberi hiburan. Tujuan menulis juga dapat memberikan arahan, menjelaskan sesuatu, menceritakan kejadian, memberikan informasi tentang sesuatu yang berlangsung di suatu tempat pada suatu waktu, meringkas atau membuat rangkuman suatu tulisan sehingga menjadi lebih singkat.

2.2.3 Manfaat Menulis

Menulis merupakan sesuatu yang kompleks. Kekompleksitasan menulis terletak pada tuntutan kemampuan menyelaraskan beberapa aspek, yaitu kemampuan menuangkan ide, gagasan, pendapat yang diramu dengan aturan yang ada, serta keinginan pembaca. Seorang penulis perlu memiliki kemampuan mengungkapkan sesuatu dari tahap prapenulisan sampai dengan perevisian, karena menulis selain untuk membaca tulisan seseorang kalau tulisan itu dikemas sesuai dengan keadaan pembacanya. Dengan demikian, mau tidak mau penulis harus memiliki nalar, menghubung-hubungkan, serta membanding-bandingkan fakta untuk mengembangkan berbagai gagasannya.

Seorang penulis dalam menulis harus memiliki keterampilan menyerap, mencari, dan menguasai informasi yang berhubungan dengan topik


19

tulisan sehingga dengan wawasan itu pembaca menjadi ketagihan membaca tulisannya karena pembaca merasa puas. Hal-hal itulah yang menyebabkan kegiatan menulis merupakan sesuatu yang sangat sulit sehingga orang/siswa kurang berminat untuk dapat menulis dengan baik dan benar.

Akhadiah, dkk (1991 dalam Suriamiharja dkk. 1997:4-5) banyak manfaat yang didapat dari kegiatan menulis bagi penulis itu sendiri yang diantaranya adalah (1) penulis dapat mengenali kemampuan dan potensi dirinya; (2) penulis dapat terlatih dalam mengembangkan berbagai gagasan; (3) penulis dapat lebih banyak menyerap, mencari, serta menguaasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis; (4) penulis dapat terlatih dalam mengorganisasikan gagasan secara sistematis serta mengungkapkannya secara tersurat; (5) penulis akan dapat meninjau serta menilai gagasannya sendiri secara objektif; (6) dengan menulis sesuatu di atas kertas, penulis akan lebih mudah memecahkan permasalahan, yaitu dengan menganalisisnya secara tersurat dalam konteks yang lebih kongkret; (7) dengan menulis, penulis terdorong untuk terus belajar secara aktif; dan (8) dengan kegiatan menulis yang terencanakan membiasakan penulis berpikir serta berbahasa secara tertib dan teratur.

Akhadiah (1997 : 14) mengemukakan bahwa manfaat menulis adalah (1) menulis menyumbang kecerdasan; (2) menulis mengembangkan daya inisiatif dan kreatif; (3) menulis menumbuhkan keberanian; dan (4) menulis mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.


20

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat menulis adalah dapat membantu untuk mengungkapkan kemampuan menulis, mengembangkan daya imajinatif dan kreatif, dan menulis sangat membantu penulis menjadi terbiasa berpikir sistematis serta berbahasa secara tertib dan teratur.

2.2.4 Hakikat Teks Berita

Syarifudin (1972 dalam Djuroto 2003 :6) menyatakan bahwa berita adalah suatu laporan kejadian yang ditimbulkan sebagai bahan yang menarik perhatian publik massa media. Pendapat yang senada diutarakan oleh Wahyudi (1991 dalam Djuroto 2003:6), bahwa berita adalah laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai yang penting, menarik bagi sebagian khalayak, masih baru dan dipublikasikan secara luas melalui media massa periodik. Peristiwa atau pendapat tidak dipublikasikan melalui media massa periodik.

Berita adalah pernyataan antar manusia sebagai pemberitahuan tentang peristiwa atau keadaan atau gagasan yang disampaikan secara tertulis atau lisan, atau dengan isyarat jika pernyataan atau pemberitahuan ini disalurkan melalui media pers, orang menyebutnya berita pers (Suriamiharja, dkk 1996/1997:64).

Menurut Suhandang (2004 :103), berita adalah laporan atau pemberitahuan tentang segala peristiwa aktual yang menarik perhatian orang


21

banyak. Peristiwa yang melibatkan fakta dan data yang ada di alam semesta ini, yang terjadipun aktual dalam arti “baru saja” atau hangat dibicarakan orang banyak.

Dari keempat pendapat tesebut di atas, dapat diambil simpulan bahwa berita adalah laporan tentang kejadian atau peristiwa yang menarik atau memiliki nilai yang penting, masih baru, dan ditujukan atau dipublikasikan kepada masyarakat luas melalui media massa.

2.2.5 Persyaratan Berita

Untuk bisa menulis berita kita harus mengetahui persyaratan berita. Persyaratan dalam menulis berita yaitu 5W+ H (What, Who, Where, Why, When dan How). Untuk negara kita Indonesia rumusan ini ditambah satu lagi S (Security) atau keamanan (Djuroto 2003 : 10-11).

What (apa) : Artinya, apa yang tengah terjadi. Peristiwa atau kejadian apa yang sedang terjadi. Misalnya kecelakaan, kebakaran, pembunuhan, petampokan, perang, olahraga, dan sebagainya.

Who (siapa) : Artinya, siapa pelaku kejadian atau peristiwa itu. Siapa saja yang terlibat. Misalnya peristiwa perkelahian antar pelajar. Siapa pelakunya? SMP “SESUKAKU” lawan SMP “SEMAUKU”.


22

Where (di mana) : Artinya, di mana peristiwa atau kejadian itu berlangsung. Misalnya di sepanjang jalan menuju lapangan olahraga.

When (kapan) : Artinya, kapan peristiwa atau kejadian itu berlangsung. Misalnya pagi tadi, sore kemarin, atau pagi kemarin.

Why (mengapa) : Artinya, mengapa kejadian itu bisa terjadi. Misalnya, karena pelajar putrid SMP “SESUKAKU” diganggu oleh pelajar putra SMP “SEMAUKU”, sehingga menimbulkan kemarahan para pelajar putra SMP “SESUKAKU”,maka terjadilah perkelahian itu.

How (bagaimana) : Artinya, bagaimana kejadian itu bisa berlangsung. Misalnya, ketika pelajar putri SMP SESUKAKU mengambil bola di dekat kerumunan anak-anak SMP SEMAUKU, tiba-tiba pelajar putra SMP SEMAUKU mencolek pantat pelajar putri SESUKAKU itu. Akibatnya teman-teman pelajar putri menjadi gerang. Terjadilah perkelahian itu. Mula-mula seorang lawan seorang, namun akhirnya menjadi perkelahian massal.

Security (aman) : Keamanan (aman bagi keseluruhan) artinya, apakah data yang kita ambil dari peristiwa atau kejadian itu apabila kita jadikan berita kemudian kita siarkan, bisa menjadi aman. Misalnya: peristiwa penganiayaan pembantu rumah tangga (kasus Ira di Surabaya tahun 1989). Meskipun kasus didukung data yang benar, tetapi karena


23

tindakan yang tidak manusiawi itu sempat termuat di surat kabar, masyarakat menjadi marah. Akibatnya terjadi demontrasi massal yang mengganggu keamanan secara nasional. Ini tidak boleh terjadi.

Djuroto (2003:12) menyatakan bahwa selain 5W+H+S, satu lagi yang masuk dalam persyaratan berita, yakni kebenaran. Artinya sebuah berita harus benar. Karena banyak kejadian atau peristiwa atau pendapat orang yang (dikira) merupakan fakta tetapi ternyata banyak mengandung kebohongan. Padahal fakta merupakan data utama.

2.2.6 Unsur Berita

Menurut Djuroto (2003:13-25), untuk bisa membuat berita yang baik, selain mengetahui pengertian dan persyaratan berita, harus pula memahami unsur berita, yakni unsur-unsur yang harus terdapat dalam berita. Sebuah berita harus dapat menarik perhatian pembaca. Unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam menulis berita adalah sebagai berikut.

1. Aktual atau baru (termasa)

Unsur aktual atau baru merupakan bagian penting agar berita kita dapat menarik perhatian. Sesuatu yang baru, peristiwa yang baru terjadi, kejadian yang masih hangat dibicarakan masyarakat lebih menarik, dibandingkan dengan kejadian atau peristiwa yang sudah lama.


24

2. Jarak

Jauh dekatnya jarak yang terimbas pada berita merupakan unsur yang perlu diperhatikan. Apabila kita membuat berita untuk kepentingan warga kota, maka peristiwa yang terjadi di lingkungan kota, lebih menarik perhatian daripada peristiwa di kota lain.

3. Terkenal (ternama)

Penting tidaknya perstiwa untuk diberitakan, tidak hanya terletak pada besar kecilnya peristiwa, menarik atau tidaknya kejadian itu, tetapi juga terkenal atau tidaknya subjek yang terkait pada peristiwa tersebut.

4. Keluarbiasaan

Kejadian atau peristiwa yang aneh dan luar biasa, selalu menarik perhatian.

5. Akibat

Kejadian yang dapat menimbulkan akibat atau pengaruh biasanya menarik perhatian masyarakat. Suatu kejadian yang mempunyai pengaruh atau akibat, selalu menarik perhatian masyarakat karena menggugah sifat egosentris manusia.

6. Ketegangan

Unsur ketegangan dijadikan dasar untuk membuat pembaca tetap terangsang negikuti pemberitaan kita.

7. Pertentangan


25

Perang dan tinju merupakan gambaran dari suatu pertentangan bahkan sampai dengan mengadu fisik. Perang dan tinju merupakan berita yang banyak dibaca oleh masyarakat, karena menimbulkan pertentangan yang dapat menarik perhatian masyarakat.

8. Seks

Masalah seks, ternyata juga dapat menarik perhatian. Seks dapat menimbulkan rangsangan tersendiri. Itulah sebabnya pemberitaan tentang seks banyak diminati.

9. Kemajuan

Pemberitaan tentang kemajuan selalu menarik, karena semua manusia ingin maju.

10. Human Interest

Human interst di sebut juga satu kehidupan yang menarik. Kehidupan yang menarik pada penampilan berita, merupakan rangsangan tersendiri bagi pembaca. Ini dikarenakan sifat manusia yang selalu ingin mengetahui yang aneh dan menarik.

11. Emosi (perasaan)

Emosi merupakan salah satu sifat manusia yang didahului dengan rasa simpati. Simpati yang ditimbulkan oleh suatu berita, selalu menarik perhatian pembaca


26

12. Humor

Sesuatu yang lucu biasanya menyenangkan. Humor yang ringan yang dapat merangsang pembaca untuk ikut tertawa merupakan bagian dari sisi pembuatan berita agar disenangi.

2.2.7 Bahasa Berita

Pada dasarnya bahasa berita tidak berbeda dengan Bahasa Indonesia yang kita gunakan sehari-hari. Siregar (1987: 138), ciri khas bahasa berita terletak pada kata, kalimat, dan isi pernyataan.

a. Kata

Ciri khas kosakata dalam jurnalistik adalah: 1) mudah dimengerti, artinya setiap kata yang digunakan itu mudah dipahami pembaca dan pendengar; 2) dinamis, artinya, kata yang ditampilkan haris memberi arti yang lebih hidup, bersemangat, sesuai dengan kondisi dan situasi pernyataan yang disampaikan; 3) demokratis, artinya, setiap kata yang ditampilkan harus bermakna satu dan dapat diterima oleh orang banyak sejauh media itu sampai; 4) kata yang tepat, artinya, sesuai dengan kebutuhannya.

b. Kalimat

Kalimat yang digunakan dalam berita adalah kalimat yang baik, praktis, sederhana dengan kata yang secukupnya saja. Tidak berlebihan, mubasir, dan berbunga-bunga.


27

c. Isi Pernyataan

Isi pernyataan yang dimaksud adalah cara penyampaian yang akan disampaikan kepada pembaca. Isi pernyataan yang baik terdapat pedoman dalam kalimat, yaitu: 1) kesatuan pikiran, setiap kalimat harus mengandung kesatuan pikiran, satu ide yang utuh, antara pokok yang satu dengan yang lain harus mempunyai kaitan; 2) Koherensi, atinya terdapat hubungan yang jelas antara unsur yang membentuk kalimat; 3) penekanan, artinya, setiap pikiran dalam kalimat mendapat tekanan sesuai dengan maksud pernyataan; 4) variasi, artinya terdapat variasi penggunaan kata dan kalimat yang sampai digunakan kata atau kalimat yang diulang-ulang; 5) paralelisme, artinya, kesamaan letak penekanan pada setiap kalimat yaitu di awal, di tengah, maupun di akhir; 6) logika, artinya semua dituliskan dengan pemikiran yang logis, wajar, dan apa adanya.

2.2.8 Sifat Berita

Berita, baik untuk surat kabar, radio, maupun televisi memiliki tiga sifat yang harus dipenuhi, Menurut Djuroto (2003:27) tiga sifat tersebut yaitu:

a. Mengarahkan, artinya berita yang kita buat harus mampu mengarahkan perhatian pembaca, pendengar atau pemirsa sehingga mengikuti alur pemikiran kita.

b. Menumbuhkan atau membangkitkan semangat, artinya berita harus dapat memberi rangsangan, dorongan, dan semangat bagi pembacanya.


28

c. Berita yang bersifat memberi penerangan, artinya berita harus mampu memberi penerangan kepada masyarakat. Memberi penerangan di sini maksudnya adalah memberikan penjelasan atau contoh-contoh kejadian yang tidak baik agar tidak ditiru oleh masyarakat.

2.2.9 Jenis dan Macam Berita

Menurut Djuroto (2003: 38), jenis berita dilihat dari penyajiannya ada tiga macam, yaitu sebagai berikut.

1. Berita Selebaran

Berita selebaran dalam bahasa asing disebut news bulletin. Berita bulletin adalah berita yang disiarkan secara kilat atau cepat. Biasanya berita yang bersifat hangat dan singkat, penyajiannya sangat terikat dengan waktu. Jenis berita ini penyajiannya terikat oleh waktu. Berita aitu makin cepat disiarkan akan menjadi baik. Yang termasuk dalam kategori bulletin antara lain:

a. Berita keras : Berita yang biasanya tidak menyenangkan. Misalnya tentang kekerasan, kesengsaraan, dan lain-lain.

b. Berita lunak : Berita yang menyenangkan. Misalnya pemberian gelar, keberhasilan seseorang, dan lain-lain.

c. Berita singkat : Berita yang memiliki nilai tinggi. Karena itu penyajiannya secara langsung hanya pada inti berita saja


29

d. Berita pendek : Berita yang amat penting dan menarik untuk diberitakan justru pada saat berita itu masih jadi pembicaraan masyarakat luas.

e. Berita sisipan : Berita yang memiliki nilai tinggi serta dinantikan oleh masyarakat luas.

2. Berita Majalah

Berita majalah adalah jenis berita yang penerbitannya secara berkala dan teratur. Misalnya majalah mingguan, dua mingguan atau bulanan. Yang termasuk dalam kelompok berita majalah antara lain:

a. Feature : Sesuatu uraian berita dalam ruang lingkup satu pokok yang merupakan pendalaman tema tersebut, yang dilihat dari berbagai segi latar belakang perkembangan berita tersebut.

b. Human Interes : Uraian berita tentang sesuatu yang dapat menyentuh rasa kemanusiaan.

c. Berita Ringan : Uraian berita tentang sesuatu yang dapat menyentuh rasa kemanusiaan.

d. Berita Nyata : Uraian berita yang secara sistematis memiliki kepekaan dalam ruang lingkup yang sejenis dan tidak perlu terikat pada keadaan baru dan lamanya berita.


30

e. Analisis Berita : Berita yang disusun atas dasra data dan fakta serta keseimbangan analisis tanpa ditambahi pendapat pribadi baik secara langsung ataupun secara tidak langsung.

3. Berita Penerangan.

Berita penerangan adalah berita yang mengandung penjelasan lebih lanjut dari suatu berita yang telah disiarkan, atau penjelasan yang bertitik tolak dari berita yang sudah disajikan tetapi sangat terkait dengan waktu.

2.2.10 Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan selalu mendudukkan siswa sebagai pusat perhatian. Peranan guru dalam menentukan pola KBM di kelas bukan ditentukan oleh diktatik metodik “apa yang akan dipelajari” saja, tetapi pada “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak.” Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi secara aktif lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan, serta berkonsultasi dengan nara sumber lain (Depdiknas 2002:1).

Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar di mana menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan keluarga dan masyarakat. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk


31

memecahkan persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjang (Nurhadi 2003:4)

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan komponen kontruktivisme, bertanya, menirukan, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian yang sebenarnya. Dengan konsep seperti itu, hasil belajar diharapkan akan lebih bermakna bagi siswa karena proses pembelajaran akan berlangsung secara alamiah.

Pembelajaran Kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang dialaminya, siswa akan menjadi peserta aktif bukan pengamat yang pasif dan bertanggung jawab terhadap belajarnya. Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peranan guru (Nurhadi 2003:19).

Karakteristrik pembelajaran berbasis kontekstual adalah (1) kerja sama; (2) saling menunjang; (3) menyenangkan, tidak membosankan; (4) belajar dengan gairah; (5) pembelajaran terintegerasi; (6) menggunakan berbagai sumber; (7) siswa aktif; (8) sharing dengan teman; (9) siswa kritis guru kreatif; (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain; (11) laporan kepada


32

orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain (Depdiknas 2001 : 20-21).

Blanchard (2001 dalam Depdiknas 2004:48) mengembangkan strategi pembelajaran metode kontekstual dengan: 1) menekankan pemecahan masalah; 2) menyadari kebutuhan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan pekerjaan; 3) mengajarkan siswa memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri sehingga menjadi mandiri; 4) mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda; 5) mendorong siswa untuk belajar dari sesama teman dan belajar bersama; dan 6) menerapkan penilaian autentic.

Pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Learning) menawarkan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa dalam belajar lebih bermakna dan menyenangkan. Strategi yang ditawarkan dalam CTL ini diharapkan dapat membantu siswa aktif dan kreatif. Untuk itu, dalam menjalankan strategi ini, guru dituntut lebih kreatif.

Dalam strategi pembelajaran kontekstual ini ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Menurut Nurhadi (2003:31), ketujuh komponen utama itu adalah konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).


33

Dari ketujuh komponen yang ada di dalam pembelajaran kontekstual, dalam penelitian ini peneliti menggunakan komponen pemodelan untuk meningkatkan keterampilan menulis teks berita pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang. Pembelajaran dalam keterampilan menulis teks berita ini mengacu pada pembelajaran kontekstual yang mempunyai ciri-ciri, yaitu kerja sama, saling menunjang, menyenangkan, tidak membosankan, belajar dengan gairah, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis guru kreatif, dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain.

2.2.11 Komponen Modeling (Pemodelan)

Salah satu komponen pembelajaran kontekstual adalah komponen modeling (pemodelan). Komponen pemodelan pada pembelajaran maksudnya yaitu bahwa dalam sebuah pembelajaran keterampilan berbahasa atau keterampilan tertentu ada model yang ditiru. Menurut Nurhadi dan Senduk (2003:49) Pemodelan pada dasarnya membahas gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Dengan kata lain, model itu bisa berupa cara melempar bola dalam olahraga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris, dan sebagainya.


34

Dalam pendekatan kontekstual komponen pemodelan, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya caara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemostrasikan keahliannya. Siswa “ contoh” tersebut sebagai “standar” kompetensi yang harus dicapainya. Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang penulis asli berbahasa Inggris, sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi “model” cara berujar, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara dan sebagainya (Nurhadi dan Senduk 2003:50).

Menurut Tarigan dan Tarigan (1986:194), pemodelan pada pembelajaran yaitu bahwa pembelajaran, guru mempersiapkan suatu karangan model yang akan dijadikan sebagai model atau contoh dalam menulis karangan baru. Karangan tidak sama persis dengan karangan model. Struktur memang akan sama, tetapi berbeda isinya.

Dengan demikian dalam pembelajaran menulis teks berita misalnya, guru akan menghadirkan contoh teks berita yang diambil dari surat kabar kepada siswa saat pembelajaran. Sehingga sebelum mengerjakan tes menulis teks berita siswa sudah meengetahui hal-hal yang berkaitan dengan teks berita. Dengan demikian, hasil teks berita siswa baik dan benar, dan memenuhi syarat penulisan teks berita. Kemudian untuk pembelajaran selain menulis teks berita, guru dapat memberi contoh cara mengerjakan sesuatu atau memberi model cara belajar sebelum melaksanakan tugas, sehingga siswa dapat


35

mengamati atau meniru. Namun demikian, tentunya guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, dan model dapat pula dihadirkan dari luar.

2.2.12 Metode Pembelajaran Menulis

Menurut Jupp dan Milne (1978 dalam Subyantoro dan Hartono 2003:8), dalam pengajaran menulis dalam tahap awal dapat dengan metode menulis terbimbing. Langkah-langkah pengajaran (1) memperkenalkan subjek; (2) memperkenalkan struktur yang akan dilatihkan; (3) latihan struktur secara lisan dan intensif; (4) membacakan contoh karangan; (5) latihan menulis struktur; (6) meneliti karangan; (7) menulis karangan.

Kemudian Ardiana, dkk. (2002 dalam Subyantoro dan Hartono 2003 : 8) memberikan alternatif lain untuk menulis terbimbing, yang tahap-tahapnya adalah (1) tahap berbicara menulis, tahap ini merupakan tahap pramenulis, pada tahap ini siswa diajak mendiskusikan topik tulisan; (2) tahap menyimak menulis, pada tahap ini siswa akan memperoleh kertas dari guru yang harus diisi tentang komentar mereka mengenai karangan temannya serta membuat koreksi yang dianggap perlu. Setelah itu mereka harus berlatih lagi tentang struktur dan kosa kata yang berkaitan dengan subjek yang ditulisnya. Akhirnya mereka meenuliskan ringkasan yang berkaitan dengan karangannya; (3) diskusi berpasangan, sesudah diskusi kelas, siswa melanjutkan diskusinya secara berpasangan; (4) menulis karangan, siswa disuruh menulis karangan sesuai dengan kerangka yang telah didiskusikan. Mereka mencoba


36

mengerjakannya sendiri dan tidak diperkenankan mengutip sumber-sumber lain, (5) proses penguatan, setelah karaangan diserahkan dan diperiksa guru, guru harus memberikan penguatan. Kesalahan yang sekiranya dapat dibetulkan oleh siswa, guru tidak perlu membetulkannya. Guru cukup memberikan tanda lingkaran pada bentuk atau kata yang dianggap salah.

Sedangkan Akhadiah, dkk. (1997:6), mengungkapkan bahwa metode menulis meliputi tiga tahap yaitu prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap revisi. Tahap prapenulisan yaitu tahap memikirkan dan mengerjakan berbagai kegiatan sebelum kegiatan menulis yang sebenarnya. Tahap ini meliputi pemilihan topik, pembatasan topik, penentuan judul, penentuan tujuan, dan pengembangan topik. Pemilihan topik, berarti menetukan hal yang harus dibahas dalam tulisan, dalam meenentukan topik harus mempertimbangkan (1) topik itu ada bermaanfaatnya; (2) topik itu menarik bagi penulis; (3) topik itu dikenal. Pembatasan topik, penulis harus membatasi topik yang akan dibahas agar dalam pengembangannya tidak terlalu luas. Penentuan judul, judul ditentukan di akhir kegiatan menulis hanya saja agar kegiatan menulis lebih terpadu, akan lebih baik jika judul ditentukan lebih dahulu. Judul harus sesuai dengan topik, judul harus menjiwai seluruh karangan. Penentuan tujuan, setiap tulisan pasti mempunyai tujuan, tujuan tulisan biasanya tercermin lewat ragam karangan. Pengembangan topik, topik yang dipilih kemudian dikembangkan menjadi sebuah karangan. Cara yang dapat dilakukan dalaam pengembangan topik adalah (1) mempersiapkan para siswa menuliskan apa saja yang ada dalam benak mereka tentang topik


37

tersebut; (2) setelah terkumpul beberapa kalimat pengembangan, urutkanlah kalimat itu berdasarkan urutan kepentingannya; (3) dari setiap butir kembangkan lagi atas butir-butir yang lebih detil sehingga diperoleh gambaran yang semakin jelas; (4) setelah semua terkumpul para siswa tinggal menulis.

Tahap penulisan, yaitu tahap siswa diingatkan pada berbagai bentuk karangan untuk mengembangkan karangan. Cara-cara pengembangan paragraf, apakah paragraf deduktif, induktif, ataukah campuran. Diingatkan pula mengenai koherensi atau hubungan antar paragraf. Dengan demikian, pada pelaksanaan menulis ini siswa berkreasi secara multi sistem. Artinya, mereka memanfaatkan segala pengetahuan yang telah mereka miliki tentang penulisan.

Tahap revisi, yaitu pemeriksaan hasil karangan. Dalam taraf latihan, tulisan yang dibuat siswa tidak mungkin sempurna. Oleh karena itu siswa dipersilakan untuk memeriksa kembali hasil tulisan mereka, mulai dari pilihan kata, tanda baca, penggunaan kalimat efektif, dan sistematika karangan yang tidak tepat. Kegiatan pemeriksaan ini dilakukan oleh siswa itu sendiri dengan bantuan guru. Dengan tahap-tahap ini, tidak berarti bahwa kegiatan-kegiatan penulisan dilakukan secara terpisah-pisah.

Metode-metode menulis karangan yang diungkapkan oleh Juup dan Milne (1978) dan Akhadiah (2002) (dalam Subyantoro dan Hartono 2003:8) ini diharapkan untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis karangan di sekolah-sekolah. Kegiatan yang semacam ini akan menghasilkan sebuah karangan yang memuaskan. Sebab dengan langkah-langkah semacam


38

ini siswa akan dibawa kepada pengertian dan proses yang sebenarnya. Mereka akan sadar bahwa untuk menulis dengan baik dibutuhkan kerja keras dan dibutuhkan pula kerja sama dengan teman atau guru mereka. Disinilah guru berperan. Guru dapat memberikan arahan, bimbingan, dorongan, dan motivasi agar siswa dapat bekerja secara efektif dan efisien. Untuk menunjang kegiatan semacam itu, pihak sekolah bisa berperan aktif mengupayakan penyediaan sarana penunjang seperti majalah, proyek ilmiah popular, lomba menulis dan sebagainya dapat memberikan kesempatan siswa berlomba untuk berkarya mengekspresikan potensi dirinya.

2.2.12 Pembelajaran Menulis Teks Berita dengan Pembelajaran Kontekstual Komponen Pemodelan

Kegiatan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran ini adalah tahap apersepsi, siswa dikondisikan untuk siap mengikuti proses pembelajaran. Guru memberikan penjelasan kepada siswa mengenai tujuan pembelajaran serta manfaat yang akan diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

Setelah siswa siap menerima pelajaran menulis teks berita, pembelajaran langsung dilaksanakan. Siswa dibentuk dalam beberapa kelompok, kemudian ditugaskan untuk merumuskan masalah tentang apa dan bagaimana teks berita. Guru membagikan contoh teks berita kepada masing-masing kelompok untuk diamati dan dipelajari. Dalam mengamati model tersebut, siswa dituntut untuk menemukan hal-hal yang berkaitan


39

dengan masalah yang dirumuskan, kemudian berdiskusi dengan kelompoknya. Unsur-unsur tentang teks berita yang telah mereka temukan dari contoh atau model mereka analisis dan dituliskan pada kertas dan dibacakan di depan kelas ntuk mendapatkan masukan dari teman dan guru. Setelah disajikan di depan kelas, hasilnya ditempelkan di dinding kelas agar siswa dari kelompok lain dapat membacanya.

Kegiatan yang selanjutnya adalah siswa menulis teks berita dengan tema bebas yang sesuai denga realita yang ada. Mereka dapat membuat teks berita dengan mengingat berita-berita yang ada di televisi atau berita yang ada di surat kabar. Teks berita yang telah ditulis disajikan di depan kelas untuk ditanggapi teman yang lain. Berdasarkan masukan teman dan guru, siswa melakukan perbaikan terhadap teks berita yang telah ditulis. Agar hasil karyanya dapat dilihat oleh teman-temannya yang lain, teks berita yang telah dibuat ditempelkan di dinding kelas. Hasil tulisan siswa yang berupa teks berita dinilai oleh guru untuk mengetahui sampai di mana keterampilan siswa dalam menulis teks berita.

2.3 Kerangka Berpikir

Keterampilan menulis teks berita siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang belum memuaskan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor itu diantaranya dari siswa itu sendiri, maupun strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Pemilihan strategi dalam pembelajaran merupakan salah satu faktor yang berpengaruh besar. Selama ini


40

pembelajaran teks berita yang dilakukan oleh guru masih dengan strategi ceramah dan pemberian contoh secara lisan. Hal ini menyebabkan siswa tidak memiliki contoh konkrit, sehingga siswa kesulitan dalam menuangkan idenya dalam menulis teks berita.

Dengan munculnya permasalahan tersebut, peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus. Tiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanan, tindakan, observasi, dan refleksi.

Silkus I dimulai dengan tahap Perencanaan, yaitu berupa rencana kegiatan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Pada tahap tindakan, peneliti melakukan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Tindakan yang dilakukan adalah mengadakan proses pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual elemen modeling. Tahap observasi dilakukan ketika proses pembelajaran berlangsung. Hasil yang diperoleh dalam pembelajaran kemudian direfleksi. Kelebihan yang diperoleh dalam siklus I dipertahankan, sedangkan kelemahan yang ada dicarikan pemecahannya dalam siklus II.

Setelah perencanaan pada siklus II diperbaiki, tahap berikutnya yaitu tindakan, dan observasi dilakukan sama dengan siklus I. Hasil yang diperoleh pada tahap tindakan dan observasi pada siklus II kemudian direfleksi untuk menentukan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dalam proses pembelajaran. Hasil tes siklus I dan siklus II kemudian dibandingkan dalam hal pencapaian nilai. Hal ini digunakan untuk mengetahui peningkatan


41

keterampilan menulis teks berita dengan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan.

Kerangka berpikir digambarkan dengan bagan 1 sebagai berikut.

Terampil menulis teks berita Masalah Kurang terampil menulis teks berita Siklus I Hasil Siklus IRefleksi : kelemahan dicari dan dicarikan penyelesaiann untuk siklus II. Kelebihan dipertahankan Siklus IIKoreksi Bersama Memperbaiki kelemahan siklus I dan kelebihan siklus I dipertahankan Tindakan Latihan Menulis - mengamati model - menemukan unsur teks berita - menuliskan teks berita - presentasi di depan kelas Analisis data yang akan dijadikan hasil penelitian Hasil Siklus II Pembelajaran Kontekstual Komponen Pemodelan


42

2.4 Hipotesis

Berdasarkan uraian di atas, hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah keterampilan menulis teks berita dan tingkah laku siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang akan meningkat dan terjadi perubahan tingkah laku jika menggunakan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukan. Siklus ini terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus. Jika siklus I nilai rata-rata belum mencapai target yang telah ditentukan, akan dilakukan tindakan siklus II.

Bagan 2. Siklus PTK

P RP

OBA

R T R T Siklus Siklus II

O O

Keterangan:

OBA : Observasi Awal

P : Perencanaan

T : Tindakan

O : Observasi

R : Refleksi

RP : Revisi Perencanaan.

Berdasarkan gambar di atas peneliti melaksanakan dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II.


44

3.1.1 Prosedur Tindakan pada Siklus I

1. Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini dilakukan persiapan pembelajaran menulis teks berita. Rencana kegiatan yang akan dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran, membuat dan menyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi, wawancara, jurnal, dan model yang akan digunakan dalam pembelajaran, menyiapkan perangkat tes yang berupa kisi-kisi soal dan pedoman penskoran.

2. Tindakan

Tindakan merupakan pelaksanaan rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan. Tindakan yang akan dilakukan secara garis besar adalah pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Pada tahap ini, dilakukan tiga tahap proses belajar mengajar, yaitu apersepsi, proses pembelajaran, dan evaluasi.

Pada tahap apersepsi, siswa dikondisikan untuk siap mengikuti proses pembelajaran. Guru memberikan penjelasan kepada siswa mengenai tujuan pembelajaran serta manfaat yang akan diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

Setelah siswa siap mengikuti kegiatan pembelajaran menulis teks berita dilaksanakan. Siswa membentuk kelompok yang terdiri dari 2 orang, siswa diberikan contoh berita yang ditayangkan di televisi berupa CD selama


45

kurang lebih 15 menit untuk illustrasi, tugas yang akan dibuat yaitu tentang unsur-unsur teks berita dan jenis-jenis berita, membuat teks berita yang aktual. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terjadi di dalam tayangan televisi. Langkah selanjutnya adalah guru membagikan contoh teks berita kepada masing-masing kelompok untuk diamati dan dipelajari. Dalam mengamati model tersebut, siswa diminta menemukan unsur-unsur yang ada dalam teks berita seperti 5W + H, kemudian berdiskusi dengan kelompoknya. Unsur-unsur teks berita yang telah mereka temukan dari contoh atau model mereka analisis dan dituliskan pada kertas dan dipresentasikan di depan kelas untuk mendapatkan masukan dari teman dan guru.

Kegiatan selanjutnya adalah siswa secara individu diberikan model baru untuk dicari unsur-unsurnya dan menulis teks berita dengan singkat, padat, dan jelas, dengan tema bebas yang sesuai dengan realita atau kenyataan yang ada. Mereka dapat membuat teks berita dengan mengingat berita-berita yang terdapat di televisi atau di surat kabar. Hasil tulisan siswa yang berupa teks berita dinilai oleh guru untuk mengetahui sampai di mana keterampilan siswa dalam menulis teks berita.

3. Observasi

Observasi adalah mengamati kegiatan dan tingkah laku siswa selama penelitian berlangsung. Dalam melakukan pengamatan peneliti dibantu oleh guru pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Sasaran yang diamati meliputi kerja sama dengan kelompoknya, keaktifan dalam mengerjakan tugas,


46

keaktifan dan keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran, keseriusan mengamati model, dan sikap/ tanggapan siswa terhadap teknik pembelajaran.

Setelah kegiatan pembelajaran selesai, guru membagikan jurnal kepada siswa untuk mengetahui kesan, tanggapan dan saran siswa terhadap pembelajaran yang baru saja dilakukan, baik terhadap materi, teknik maupun cara mengajar guru.

4. Refleksi

Setelah pelaksanaan tindakan, selanjutnya peneliti melakukan refleksi. Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes dan nontes siklus I dengan tujuan mengetahui hasil atau dampak pelaksanaan tindakan. Dari hasil refleksi tersebut dapat disusun rencana untuk siklus II. Masalah-masalah pada siklus I dicari pemecahannya, sedangkan kelebihan-kelebihannya dipertahankan dan ditingkatkan.

3.1.2 Prosedur Tindakan pada Siklus II

1. Perencanaan

Pada tahap Perencanaan dalam siklus II ini dipersiapkan rencana pembelajaran yang telah diperbaiki dan disempurnakan. Dalam tahap ini kekurangan-kekurangan yang terjadi tahap siklus I diperbaiki. Guru juga menyiapkan soal tes dan nontes untuk siklus II dan mengkoordinasikan kembali dengan guru mata pelajaran.


47

2. Tindakan

Tindakan pada siklus II adalah penyempurnaan tindakan pada siklus I. Pada tahap ini guru menjelaskan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada penulisan teks berita yang telah dibuat siswa. Kemudian siswa diberi bimbingan dan arahan agar dalam pelaksanaan kegiatan menulis teks berita pada siklus II akan menjadi lebih baik. Kegiatan dalam siklus II adalah apersepsi, proses pembelajaran, dan evaluasi.

Pada tahap apersepsi, siswa dikondisikan untuk siap mengikuti proses pembelajaran. Guru memberikan penjelasan kepada siswa mengenai tujuan, manfaat yang akan diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, dan memotivasi siswa untuk semakin lebih baik dalam menulis teks berita. Guru menjelaskan kesalahan-kesalahan yang telah siswa lakukan dan memberikan penjelasan tentang cara memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam menulis teks berita.

Setelah siswa siap mengikuti kegiatan pembelajaran menulis teks berita dilaksanakan. Siswa secara berkelompok, kemudian merumuskan masalah tentang apa dan bagaimana teks berita itu. Setiap kelompok diwajibkan untuk mencari dan mengamati surat kabar sebagai model pembelajaran. Dalam mengamati model surat kabar tersebut, siswa diminta menemukan unsur-unsur yang ada dalam teks berita seperti 5W + H pada salah satu berita, kemudian berdiskusi dengan kelompoknya. Unsur-unsur teks berita yang telah mereka temukan dari contoh atau model mereka analisis dan


48

dituliskan pada kertas dan dipresentasikan di depan kelas untuk mendapatkan masukan dari teman dan guru.

Kegiatan selanjutnya adalah siswa secara individu diberikan model baru untuk dicari unsur-unsurnya dan menulis teks berita dengan singkat, padat, dan jelas, dengan tema bebas yang sesuai dengan realita atau kenyataan yang ada. Mereka dapat membuat teks berita dengan mengingat berita-berita yang terdapat di televisi atau di surat kabar. Hasil tulisan siswa yang berupa teks berita dinilai oleh guru untuk mengetahui sampai di mana keterampilan siswa dalam menulis teks berita.

3. Observasi

Pada siklus II ini selama proses pembelajaran berlangsung, siswa tetap diamati. Pengamatan dilakukan untuk peningkatan hasil tes dan perilaku siswa. Observasi ini adalah mengamati kegiatan dan tingkah laku siswa selama penelitian berlangsung. Dalam melakukan pengamatan peneliti dibantu oleh guru pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia seperti pada siklus pertama. Sasaran yang diamati meliputi kerja sama dengan kelompoknya, keaktifan dalam mengerjakan tugas, keaktifan dan keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran, keseriusan mengamati model, dan sikap/tanggapan siswa terhadap teknik pembelajaran.

Setelah kegiatan pembelajaran selesai, guru membagikan jurnal kepada siswa untuk mengetahui kesan, tanggapan dan saran siswa terhadap


49

pembelajaran yang baru saja dilakukan, baik terhadap materi, teknik maupun cara mengajar guru.

4. Refleksi

Refleksi dilakukan untuk mengetahui keefektifan penggunaan model dalam pembelajaran menulis teks berita, untuk melihat peningkatan keterampilan menulis teks berita dan mengetahui perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.

3.2 Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah keterampilan menulis teks berita siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang tahun pengajaran 2004/2005. Kelas VIIIA terdiri atas dari 41 siswa. Kelas ini dipilih karena kemampuan menulis tes berita masih rendah atau nilai yang telah dicapai belum memuaskan dan kelas ini memiliki kemampuan menulis yang lebih rendah dari kelas lainnya. Hal tersebut dikarenakan (1) tidak banyak dari siswa yang mempunyai prestasi tinggi di kelas tersebut; (2) kelas VIIIA adalah penggolongan dari siswa yang berprestasi sedang; (3) tidak banyak dari siswa yang memiliki hobby menulis.


50

3.3 Variabel Penelitian

Variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah variabel peningkatan keterampilan menulis teks berita dan variabel penggunaan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan.

3.3.1 Variabel Keterampilan Menulis Teks Berita

Variabel keterampilan menulis teks berita merupakan keterampilan siswa dalam menulis teks berita, yaitu suatu penyusunan teks berita yang mengandung unsur-unsur dalam berita. Target keterampilan yang diharapkan adalah siswa mampu menulis teks berita sesuai dengan aspek penilaian. Aspek-aspek tersebut adalah (1) kelengkapan isi berita (mengandung 5W + H); (2) keruntututan pemaparan (isi urut dan jelas sehingga mudah dipahami); (3) penggunaan kalimat (singkat dan jelas); (4) kosakata yang digunakan bahasa sehari-hari; (5) kemenarikan judul; dan (6) ketepatan penggunaan ejaan dalam berita (Depdiknas 2003e: 67). Dengan pembelajaran menulis teks berita ini diharapkan dapat memenuhi target keterampilan menulis para siswa kelas VIIIA SMP N 1 Kajoran Kabupaten Magelang dan perubahan tingkah laku setelah pembelajaran.


51

3.3.2 Variabel Penggunaan Pembelajaran Kontekstual Komponen Pemodelan

Variabel pembelajaran kontekstual komponen pemodelan adalah pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Langkah-langkah pembelajarannya adalah siswa berkelompok, kemudian masing-masing kelompok mendapatkan contoh teks berita. Siswa mengamati model/contoh teks berita tersebut kemudian berusaha sendiri menemukan unsur-unsur yang ada dalam teks berita, seperti apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Apa yang mereka temukan kemudian didiskusikan dengan kelompoknya. Setelah berdiskusi hasilnya ditulis di selembar kertas lalu disajikan di depan kelas untuk didiskusikan bersama-sama dan mendapat tanggapan atau masukan dari kelompok lain. Berdasarkan masukan dari teman dan guru, siswa melengkapi pekerjaannya lalu ditempelkan di dinding.

Kegiatan selanjutnya adalah siswa menulis teks berita dengan kriteria bebas/peristiwa yang sedang aktual. Saat menulis teks berita dapat berdiskusi dengan temannya atau bertanya hal-hal yang kurang dipahami kepada guru.

3.4 Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan bentuk instrumen tes dan nontes.

3.4.1 Tes

Penelitian ini diawali dengan pelaksanaan tes awal atau pretes untuk mengetahui pengetahuan dan kemampuan siswa tentang teks berita. Pada tes awal


52

ini siswa juga menulis teks berita untuk mengetahui keterampilan siswa menulis teks berita. Setelah proses pembelajaran, diadakan tes menulis teks berita. Tes ini dilaksanakan untuk mengetahui pengetahuan dan kemampuan siswa tentang menulis teks berita setelah mengikuti proses pembelajaran.

Ada enam aspek pokok yang dijadikan kriteria penilaian, yaitu (1) kelengkapan isi berita (mengandung 5W + H); (2) keruntututan pemaparan (isi urut dan jelas sehingga mudah dipahami); (3) penggunaan kalimat (singkat dan jelas); (4) kosakata yang digunakan bahasa yang tepat; (5) kemenarikan judul; dan (6) ketepatan penggunaan ejaan dalam berita (Depdiknas 2003e: 67).

Tabel 1 Skor Penilaian

No

Aspek Penilaian

Skor Maksimal

1

2

3

4

5

6

Kelengkapan isi berita

Keruntututan pemaparan

Penggunaan kalimat

Kosakata yang digunakan adalah bahasa yang tepat

Kemenarikan judul

Ketepatan penggunaan ejaan dalam berita

30

15

15

15

10

15

Jumlah

100


53

Pada tabel berikut dapat dilihat aspek-aspek yang dinilai dengan rentang skor dan kategori penilaian.

Tabel 2. Kriteria Penilaian Teks Berita

No

Aspek Penilaian

Skor

Kategori

1

Kelengkapan isi berita (mengandung 5W + H)

a. lengkap, terdapat 6 unsur

b. cukup lengkap, terdapat 5 unsur

c. kurang lengkap, terdapat 4 unsur

d. tidak lengkap, kurang dari 4 unsur

30

25

10

15

sangat baik

baik

cukup

kurang

2

Keruntututan pemaparan

a. urut dan jelas sehingga mudah dipahami

b. tidak urut, jelas, tetapi mudah dipahami

c. urut, kurang jelas, tetapi dapat dipahami

d. tidak urut, tidak jelas, dan kurang dapat dipahami

15

10

5

3

sangat baik

baik

cukup

kurang

3

Penggunaan kalimat

a. singkat dan jelas

b. tidak terlalu panjang tetapi jelas (berputar-putar)

c. panjang dan kurang jelas

d. tidak jelas dan terlalu panjang

15

10

5

3

sangat baik

baik

cukup

kurang

4

Kosakata

a. tepat dan mudah dipahami

b. terdapat kata yang tidak dapat dipahami

c. terdapat kata yang tidak lazim dipakai

d. tidak dapat dipahami

15

10

5

3

sangat baik

baik

cukup

kurang

5

Kemenarikan judul

a. sangat menarik

b. cukup menarik

c. kurang menarik

d. tidak menarik

10

8

6

4

sangat baik

baik

cukup

kurang


54

No.

Aspek Penilaian

Skor

Kategori

6

Ketepatan penggunaan ejaan dalam berita

a. sesuai dengan EYD

b. sedikit kesalahan tidak merubah ide

c. sedikit kesalahan tetapi merubah ide

d. banyak kesalahan

15

10

5

3

sangat baik

baik

cukup

kurang

Keterangan pedoman penilaian menulis teks berita sebagai berikut.

1. Kelengkapan Unsur-Unsur Teks Berita

a. lengkap : semua unsur-unsur yang harus dicantumkan dalam teks berita ada

b. cukup lengkap : 5 unsur yang tercantum

c. kurang lengkap : 4 unsur yang tercantum

d. tidak lengkap : kurang dari 4 unsur yang tercantum atau tidak lengkap

2. Keruntututan Pemaparan

a. urut dan jelas : sederhana, mudah dipahami, berirama/dinamis, semua ide tersampaikan

b. tidak urut, jelas : jalan cerita dalam teks berita tidak runtut (beriama/dinamis), tetapi jelas dan mudah dipahami

c. urut, kurang jelas : jalan cerita dalam teks berita runtut, tetapi kurang dapat dipahami

d. tidak urut, tidak jelas : jalan cerita dalam teks berita tidak runtut, dan tidak jelas serta tidak dapat dipahami

Lanjutan tabel 2


55

3. Penggunaan Kalimat

a. singkat dan jelas : penyusunan kalimat singkat dan jelas

b. tidak terlalu panjang tetapi jelas: penyusunan kalimat tidak terlalu panjang dan jelas

c. panjang dan kurang jelas : penyusunan kalimat panjang dan kurang jelas

d. tidak jelas dan terlalu panjang : penyusunan kalimat tidak jelas dan terlalu panjang

4. Kosakata

a. tepat dan mudah dipahami : kata-kata merupakan bahasa yang tepat, dinamis dan demokratis (bermakna satu), dan mudah dipahami

b. terdapat kata yang tidak baku : terdapat kata yang tidak baku dan kurang dapat dipahami

c. terdapat kata yang tidak lazim dipakai : terdapat kata yang tidak boleh atau tidak lazim digunakan

d. tidak dapat dipahami : kata-kata yang digunakan tidak dapat dipahami

5. Kemenarikan Judul

a. sangat menarik : judul yang digunakan sangat relevan dan selaras dengan isi informasi yang disajikan dan merangsang untuk dibaca


56

b. cukup menarik : judul yang digunakan cukup relevan dengan isi informasi dan kurang menarik untuk dibaca

c. kurang menarik : judul yang digunakan kurang relevan dengan isi informasi dan kurang menarik untuk dibaca

d. tidak menarik : judul yang digunakan tidak relevan dengan isi informasi dan tidak menarik untuk dibaca

6. Ketepatan Penggunaan Ejaan dalam Berita

a. sesuai dengan EYD : tidak ada kesalahan EYD

b. terdapat sedikit kesalahan : kesalahan tidak merubah ide dan gagasan.

c. terdapat sedikit kesalahan : kesalahan merubah salah satu ide dan gagasan.

d. tidak terbaca dan tidak rapi : kesalahan merubah semua ide dan gagasan yang disampaikan.

Dari pedoman di atas, guru dapat mengetahui kemampuan menulis teks beriata siswa berhasil mencapai kategori sangat baik, baik, cukup, dan kurang.

Tabel 3 Penilaian Keterampilan Menulis Teks Berita

No

Kategori

Rentang Skor

1.

2.

3.

4.

Sangat baik

Baik

Cukup baik

Kurang baik

85-100

70-84

55-69

0-54


57

3.4.2 Nontes

Bentuk instrumen nontes yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, pedoman wawancara, dan jurnal.

1. Lembar Observasi

Lembar observasi digunakan mengamati tingkah laku dan respons siswa selama proses pembelajaran. Aspek yang diamati dalam penelitian ini meliputi kerja sama dengan kelompoknya atau teman, keaktifan dalam mengerjakan tugas, keaktifan dan keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran, sharing dengan teman, sikap siswa terhadap model yang disajikan/keseriusan mengamati model, sikap atau tanggapan siswa terhadap teknik pembelajaran, pembelajaran menyenangkan.

2. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara digunakan untuk mendapatkan data tentang pembelajaran menulis teks berita. Wawancara dilakukan terhadap siswa yang nilai tesnya tinggi, sedang, dan rendah. Wawancara ini untuk mengetahui minat siswa terhadap pembelajaran menulis, khususnya menulis teks berita, untuk mengetahui permasalahan/kesulitan yang dialami siswa dalam menulis teks berita, tanggapan mengenai pembelajaran, tanggapan mengenai model yang disajikan, perasaan ketika menulis teks berita, keinginan siswa dalam pembelajaran menulis teks berita, dan saran pembelajaran menulis teks berita dengan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan. Dari wawancara ini juga digali saran siswa untuk memperbaiki pembelajaran dan saran perbaikan model.


58

3. Jurnal

Jurnal digunakan untuk mendapatkan data tentang respons siswa sebagai subjek penelitian selama proses pembelajaran. Jurnal dibuat ada dua macam yaitu jurnal peneliti/guru. Jurnal siswa diisi oleh siswa, sedangkan jurnal guru diisi oleh guru. Jurnal siswa berisi tentang kesan dan pesan siswa, siswa memberikan respons positif atau negatif terhadap pembelajaran menulis teks berita menggunakan pendekatan kontesktual komponen pemodelan. Jurnal guru berisi tentang uraian pendapat dan seluruh kejadian yang dilihat dan dirasakan oleh guru selama kegiatan pembelajaran menulis berlangsung.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu teknik tes dan nontes.

3.5.1 Teknik Tes

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes awal dan tes akhir. Tes awal dilakukan sekali pada siklus I untuk mengetahui sejauhmana pengetahuan siswa tentang teks berita dan sampai di mana keterampilan mereka menulis teks berita. Setelah itu, pada akhir siklus I dan II diadakan tes akhir. Tes akhir dilakukan dengan memberikan tugas untuk menulis teks berita secara individu. Tes ini untuk mengetahui kemampuan siswa menulis teks berita dengan memperhatikan aspek kelengkapan isi berita (mengandung 5W + H), keruntututan pemaparan (isi urut dan jelas sehingga mudah dipahami), penggunaan kalimat


59

(singkat dan jelas), kosakata yang digunakan bahasa yang tepat, kemenarikan judul, dan ketepatan penggunaan ejaan dalam berita.

Langkah-langkah yang dilakukan di dalam pengambilan data dengan tes adalah

a. menyiapkan bahan tes berdasarkan model yang disajikan;

b. siswa ditugasi menemukan unsur-unsur dalam teks berita pada model;

c. siswa diminta untuk menulis teks berita;

d. menilai dan mengolah data dari hasil penelitian;

e. peneliti mengukur keterampilan menulis siswa berdasarkan hasil tes pada siklus I dan siklus II.

3.5.2 Teknik Nontes

Teknik nontes yang digunakan adalah melalui observasi, wawancara, dan jurnal.

1. Observasi

Observasi digunakan untuk mengungkap data keaktifan siswa selama proses pembelajaran menggunakan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan. Observasi dilakukan oleh peneliti dibantu dengan seorang teman dan peneliti. Adapun tahap observasinya yaitu (1) mempersiapkan lembar observasi yang berisi butir-butir sasaran amatan tentang keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan guru, keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tes; (2) melaksanakan observasi selama proses pembelajaran yaitu mulai dari penjelasan guru, proses belajar-


60

mengajar sampai dengan siswa menulis teks berita; (3) mencatat hasil observasi dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan.

2. Wawancara

Teknik wawancara digunakan untuk mengungkap data penyebab kesulitan dan hambatan dalam pembelajaran menulis teks berita. Wawancara dilakukan pada 6 orang siswa yaitu 2 orang siswa yang mendapatkan nilai tes yang tinggi, 2 orang siswa yang mendapatkan nilai tes yang sedang, dan 2 orang siswa yang mendapatkan nilai tes yang rendah. Hal ini berdasarkan nilai tes pada tiap siklus dan berdasarkan observasi yang dilakukan guru selama proses pembelajaran.

Wawancara dilaksanakan peneliti setelah pembelajaran menulis teks berita dengan pembelajaran kontekstual komponen pedoman selesai dilaksanakan. Adapun cara yang ditempuh peneliti dalam pelaksanaan wawancara yaitu (1) mempersiapkan lembar wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan pada siswa, (2) menentukan siswa yang nilai tesnya kurang, cukup, dan baik, untuk kemudian diajak wawancara, (3) merekam dan mencatat hasil wawancara dengan menulis tanggapan terhadap tiap butir pertanyaan.

3. Jurnal

Setiap akhir pembelajaran siswa menulis jurnal yang berisi kesulitan yang mereka hadapi dalam menulis teks berita, pendapat mereka tentang pembelajaran


61

menulis teks berita dengan pendekatan kontesktual komponen pemodelan, hal-hal yang ingin dikemukakan siswa berkaitan dengan pembelajaran menulis teks berita.

3.6 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.

1. Teknik Kuantitatif

Teknik kuantitatif dipakai untuk menganalisis data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes menulis teks berita pada siklus I dan II. Hasil tes ditulis secara persentase dengan langkah-langkah berikut ini.

a. merekap nilai yang diperoleh siswa.

b. menghitung nilai komulatif dari tugas-tugas siswa.

c. menghitung nilai rata-rata.

d. menghitung persentase.

Persentase ditulis dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

Keterangan :

P : Nilai persentase

K : Nilai komulatif satu kelas

N : Nilai maksimal soal tes

S : Jumlah responden

P =

X 100%

K

N x S


62

Hasil perhitungan dari masing-masing siklus kemudian dibandingkan yaitu antara hasil siklus I dengan hasil siklus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai persentase peningkatan keterampilan menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

2. Teknik Kualitatif

Teknik kualitatif dipakai untuk menganalisis data kualitatif yang diperoleh dari hasil nontes. Hasil analisis digunakan untuk mengetahui siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Hasil ini sebagai dasar untuk menentukan siswa yang akan diwawancarai selain hasil nilai tes. Hasil wawancara dipakai untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Hasil analisis tersebut sebagai dasar untuk mengetahui peningkatan keterampilan menulis teks berita.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian tindakan kelas ini diperoleh dari observasi pada prasiklus, tindakan siklus I, dan tindakan siklus II. Hasil tes tindakan pada siklus I dan siklus II berupa keterampilan menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dan hasil non tes berupa observasi, wawancara, dan jurnal.

4.1 Prasiklus

Pengukuran keterampilan menulis teks berita pada tes prasiklus adalah siswa mencari unsur-unsur berita 5W + H pada teks berita dan menulis teks berita dengan tema bebas sebelum dilakukan tindakan penelitian. Hasil tes prasiklus digunakan untuk mengetahui keadaan awal keterampilan menulis teks berita.

Tabel 4 Hasil Keterampilan Menulis Teks Berita

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

Rata-rata

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

85-100

70-84

55-69

0-54

11

16

3

11

1010

1103

173

514

26,83

39,02

7,32

26,83

68,29%

Kategori Cukup

Jumlah

41

2800

100


64

Tabel 4 menunjukkan hasil keterampilan menulis teks berita sebelum dilaksanakan pembelajaran. Dari jumlah 41 siswa, yang memperoleh nilai dengan kategori sangat baik sebanyak 11 orang atau sebesar 26,83%, kategori baik sebanyak 16 siswa atau sebesar 39,02%, kategori cukup sebanyak 3 siswa atau 7,32%, kategori kurang sebanyak 11 siswa atau sebesar 26,83%.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang termasuk dalam kategori cukup dan dianggap kurang maksimal. Perlu dilakukan pembelajaran siklus I sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis teks berita pada siswa.

4.2 Siklus I

Siklus I terdiri dari data tes dan non tes dengan hasil sebagai berikut. Data tes diperoleh dari keterampilan menulis teks berita pada tes siklus II yaitu hasil tes menulis teks berita dengan tema bebas setelah dilakukan pembelajaran pada siswa, sedangkan data nontes diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan guru selama pembelajaran berlangsung, wawancara terhadap siswa, dan jurnal yang diisi oleh siswa setelah pembelajaran berlangsung.

4.2.1 Data Tes

Data tes keterampilan menulis teks berita pada tes siklus I diperoleh dari hasil tes menulis teks berita dengan tema bebas setelah dilakukan pembelajaran pada siswa. Hasil tes siklus I dapat dilihat pada tabel 5 berikut.


65

Tabel 5 Hasil Keterampilan Menulis Teks Berita

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

Rata-rata

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

85-100

70-84

55-69

0-54

11

18

7

4

1005

1302

492

256

26,83

43,90

17,07

9,76

74,51%

Kategori Baik

Jumlah

41

3055

100

Tabel 5 menunjukkan peningkatan rata-rata skor dalam keterampilan menulis teks berita setelah melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Rata-rata skor pada siklus I ini menunjukan peningkatan dibandingkan dengan rata-rata skor pada prasiklus menjadi 74,51%. Nilai dengan kategori sangat baik meningkat menjadi 11 siswa atau sebesar 26,83%, siswa yang memperoleh skor dengan kategori baik sebanyak 18 siswa atau sebesar 43,90%, kategori cukup sebanyak 7 siswa atau 17,07%, kategori kurang sebanyak 4 siswa atau sebesar 9,76%.

Hasil tes dari masing-masing aspek di paparkan sebagai berikut.

1. Kelengkapan Isi Berita

Hasil tes kelengkapan isi berita pada siklus I dapat dilihat pada tabel 6 berikut.


66

Tabel 6 Hasil Kelengkapan Isi Berita

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

30

25

20

15

19

12

10

-

570

300

400

-

29,27

24,39

46,34

-

26,09

86,99%

Kategori Sangat Baik

Jumlah

41

1070

100

Tabel 6 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek kelengkapan isi berita pada siklus I sebesar 26,09 atau 86,99%. Siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat baik sebanyak 19 orang atau sebesar 29,27%, kategori baik sebanyak 12 siswa atau sebesar 24,39%, kategori cukup sebanyak 10 siswa atau 46,34%, pada siklus I aspek ini tidak terdapat siswa yang mendapatkan nilai kategori kurang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada aspek kelengkapan termasuk dalam kategori sangat baik setelah dilaksanakan pembelajaran siklus I. Jika dilihat dari frekuensi pemerolehan nilai masih terdapat 10 siswa yang mendapat nilai cukup sehingga perlu dilakukan pembelajaran siklus II.


67

2. Keruntututan Pemaparan

Hasil tes keruntututan pemaparan (isi urut dan jelas sehingga mudah dipahami) pada siklus I dapat dilihat pada tabel 7 berikut.

Tabel 7 Hasil Keruntututan Pemaparan

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

15

10

5

3

12

10

19

-

180

100

95

-

29,27

24,39

46,34

-

9,88

65,85%

Kategori Cukup

Jumlah

41

405

100

Tabel 7 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek keruntututan pemaparan pada siklus I sebesar 9,88 atau 65,85%. Siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat baik sebanyak 12 orang atau sebesar 29,27%, kategori baik sebanyak 10 siswa atau sebesar 24,39%, kategori cukup sebanyak 19 siswa atau 46,34%, pada siklus I aspek ini tidak terdapat siswa yang mendapatkan nilai kategori kurang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada aspek keruntututan pemaparan termasuk dalam kategori cukup setelah dilaksanakan pembelajaran siklus I. Jika dilihat dari kuantitas pemerolehan nilai


68

masih terdapat 19 siswa yang mendapat nilai cukup sehingga perlu dilakukan pembelajaran siklus II.

3. Penggunaan Kalimat

Hasil tes penggunaan kalimat pada siklus I dapat dilihat pada tabel 8 berikut.

Tabel 8 Hasil Penggunaan Kalimat

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

15

10

5

3

7

26

8

-

105

260

40

-

17,07

63,41

19,51

-

9,88

65,85%

Kategori Cukup

Jumlah

41

405

100

Tabel 8 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek penggunaan kalimat pada siklus I sebesar 9,88 atau 65,85%. Siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat baik sebanyak 7 orang atau sebesar 17,07%, kategori baik sebanyak 26 siswa atau sebesar 63,41%, kategori cukup sebanyak 8 siswa atau 19,51%, pada siklus I aspek ini tidak terdapat siswa yang mendapatkan nilai kategori kurang.


69

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada aspek penggunaan kalimat pemaparan termasuk dalam kategori cukup setelah dilaksanakan pembelajaran siklus I. Jika dilihat dari frekuensi pemerolehan nilai masih terdapat 8 siswa yang mendapat nilai cukup sehingga perlu dilakukan pembelajaran siklus II.

4. Kosakata yang Digunakan

Hasil tes kosakata yang digunakan adalah bahasa yang tepat pada siklus I dapat dilihat pada tabel 9 berikut.

Tabel 9 Hasil Kosakata yang Digunakan

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat

Baik

Baik

Cukup

Kurang

15

10

5

3

13

27

1

-

195

270

5

-

31,71

65,85

2,44

-

11,46

76,42%

Kategori Baik

Jumlah

41

470

100

Tabel 9 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek kosakata yang digunakan adalah bahasa yang tepat pada siklus I sebesar 11,46 atau 76,42%. Siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat baik sebanyak 13 orang atau sebesar 31,71%, kategori baik sebanyak 27 siswa atau sebesar 65,85%, kategori


70

cukup sebanyak 1 siswa atau sebesar 2,44%, pada siklus I aspek ini tidak terdapat siswa yang mendapatkan nilai kategori kurang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada aspek kosakata yang digunakan termasuk dalam kategori baik setelah dilaksanakan pembelajaran siklus I. Jika dilihat dari kuantitas pemerolehan nilai masih terdapat 1 siswa yang mendapat nilai cukup sehingga perlu dilakukan pembelajaran siklus II.

5. Kemenarikan Judul

Hasil tes kemenarikan judul pada siklus I dapat dilihat pada tabel 10 berikut.

Tabel 10 Hasil Kemenarikan Judul

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

10

8

6

4

24

14

3

-

240

112

18

-

58,54

34,15

7,32

-

8,54

85,36%

Kategori Sangat Baik

Jumlah

41

350

100

Tabel 10 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek kemenarikan judul pada siklus I sebesar 8,54 atau 85,36%. Siswa yang


71

memperoleh skor dengan kategori sangat baik sebanyak 24 orang atau sebesar 58,54%, kategori baik sebanyak 14 siswa atau sebesar 34,15%, kategori cukup sebanyak 3 siswa atau 7,32%, pada siklus I aspek ini tidak terdapat siswa yang mendapatkan nilai kategori kurang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita aspek kemenarikan judul termasuk dalam kategori sangat baik setelah dilaksanakan pembelajaran siklus I. Jika dilihat dari kuantitas pemerolehan nilai masih terdapat 3 siswa yang mendapat nilai cukup sehingga perlu dilakukan pembelajaran siklus II.

6. Ketepatan Penggunaan Ejaan dalam Berita

Hasil tes ketepatan penggunaan ejaan dalam berita pada siklus I dapat dilihat pada tabel 11 berikut.

Tabel 11 Hasil Ketepatan Penggunaan Ejaan dalam Berita

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

15

10

5

3

-

30

11

-

-

300

55

-

-

73,17

26,83

-

8,66

57,72%

Kategori Cukup

Jumlah

41

355

100


72

Tabel 11 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita pada siklus I sebesar 8,66 atau 57,72%. Tidak terdapat siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat baik, kategori baik sebanyak 30 siswa atau sebesar 73,17%, kategori cukup sebanyak 11 siswa atau sebesar 26,83%, tidak terdapat siswa yang memperoleh skor dengan kurang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita termasuk dalam kategori cukup setelah dilaksanakan pembelajaran siklus I. Jika dilihat dari kuantitas pemerolehan nilai masih terdapat 11 siswa yang mendapat nilai cukup sehingga perlu dilakukan pembelajaran siklus II yang lebih menekankan pada perbaikan dari aspek ini.

4.2.2 Data Nontes

Pemerolehan data yang bersifat nontes pada proses pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan pada siklus I adalah sebagai berikut.

1. Observasi

Data observasi pembelajaran siklus I diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Guru mengamati perilaku pada siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 12 berikut.


73

Tabel 12 Hasil Observasi Siklus I

Kategori

dan nilai

Kerja sama kelompok

Keaktifan tugas

Keseriusan pelajaran

Keseriusan model

Tanggapan teknik

sharing

Menyenangkan

Sangat baik nilai 4

18

43,90

16

39,02

19

46,34

23

50,09

11

26,83

5

12,19

1

2,44

Baik

nilai 3

12

29,27

16

39,02

6

14,63

10

24,39

12

29,27

10

24,39

20

48,78

Cukup

nilai 2

7

17,07

9

21,95

9

21,95

8

19,51

3

7,32

19

46,34

18

43,90

Kurang

nilai 1

4

9,76

-

-

7

17,07

-

-

15

36,59

7

17,07

2

4,88

Jumlah

126

130

119

138

101

95

102

Rata-rata

3,07

3,17

2,90

3,37

2,46

2,32

2,49

%

76,83

79,27

72,56

84,15

61,59

57,93

62,19

Observasi dilakukan selama dalam proses pembelajaran berlangsung, dari hasil observasi tersebut dapat diketahui bahwa tingkat persentase siswa yang melakukan kerjasama dengan kelompok 76,83%, mengerjakan tugas 79,27%, serius dalam mengikuti pembelajaran 72,56%, serius dalam mengamati model 84,15%, sikap siswa terhadap teknik pembelajaran 61,59%, sharing dengan teman 57,93%, dan pembelajaran menyenangkan 62,19%.

2. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada 6 siswa dengan perbandingan 2 siswa bernilai paling tinggi, 2 siswa dengan nilai sedang atau rata-rata, dan 2 siswa


74

dengan nilai paling rendah. Wawancara ini dilakukan setelah proses pembelajaran selesai dan telah diketahui hasil akhir atau skor siswa dalam mengerjakan tugas.

Siswa yang mempunyai nilai tinggi menyatakan bahwa selama ini berminat dengan pembelajaran menulis dan telah masuk dalam kepengurusan mading di sekolah, dua orang menyatakan sedikit senang atau biasa saja karena pelajaran menulis sama saja dengan pelajaran yang lainnya, dan dua yang lainnya menyatakan tidak berminat dengan pembelajaran menulis karena pelajaran mengarang adalah palajaran yang sulit. Mereka pernah menulis teks berita ketika mengisi Mading di sekolah, dan mereka merupakan pengurus Mading di sekolah. pengurus Mading, empat siswa yang lain menjawab belum pernah. Siswa yang mempunyai nilai sedang merasa senang dengan pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan karena dapat meningkatkan keterampilan menulis teks berita. Mereka belum pernah menulis teks berita sebelumnya. Bagi siswa yang mempunyai nilai rendah, mereka menyatakan bahwa mereka belum pernah menulis teks berita sebelumnya.

Bagi mereka yang mempunyai nilai tinggi dan sedang pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dapat membiasakan bersikap kritis, dan melatih berbicara di depan kelas, dan satu orang yang menyatakan biasa saja karena terlalu banyak latihan dan tugas untuk mengarang.

Dengan dihadirkannya model yang berupa contoh teks berita mereka termotivasi dan terbantu dalam membuat teks berita. Siswa yang mempunyai nilai tinggi dan sedang, mereka merasa terbantu karena mengakui bahwa sebelumnya


75

yang tidak bisa menjadi bisa dan yang dan dua siswa menjawab tidak terbantu karena masih saja tidak bisa.

Siswa yang mempunyai nilai tinggi juga menyatakan telah menemukan sendiri pengetahuan tentang teks berita dari contoh teks berita yang diberikan, satu siswa yang nilainya rendah menyatakan sedikit, dan tiga siswa menyatakan tidak menemukan sendiri atau dibantu oleh teman dan guru.

Mereka mengaku bahwa setelah diminta menulis berita mereka termotivasi ingin jadi wartawan, menulis teks berita ternyata mudah, dan empat siswa merasa sulit. Berdasarkan wawancara terhadap 6 siswa, mereka mengungkapkan kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis adalah mencari tema, membebedakan unsur apa dan bagaimana, mencari unsur teks berita, dan satu siswa menyatakan sulit semua.

Setelah pembelajaran, yang diinginkan siswa antara lain: satu siswa ingin jadi wartawan, satu siswa menghendaki model atau contohnya jangan terlalu sulit, dua siswa ingin mengulang agar nilainya lebih baik, dan dua siswa ingin dijelaskan oleh guru agar lebih jelas. Saran yang diberikan oleh siswa tentang pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan adalah memperbanyak contoh dan modelnya, agar siswa diberi kesempatan ke perpustakaan untuk mencari contoh teks beita, guru menerangkan tidak terlalu cepat guru memberi ekstra pelajaran kepada siswa yang kurang mampu.

Pendapat yang diberikan oleh siswa tentang contoh teks berita yang diberikan guru addalah agar contohnya lebih bervariasi, agar contoh tidak satu


76

lembar tetapi satu majalah atau koran, agar contohnya tentang kejadian besar, agar contohnya lebih banyak , agar contohnya tidak terlalu sulit, dan kelompok diacak agar siswa yang kurang mampu menjadi terbantu.

3. Jurnal

Jurnal yang diisi oleh siswa menunjukan bahwa mereka merasa senang dengan pembelajaran teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen modeling. Hal ini dapat dibuktikan bahwa sebanyak 37 siswa atau 90,24% menjawab senang mengikuti pembelajaran, 2 siswa atau 4,88% menjawab tidak senang dan 2 siswa atau 4,88% tidak berkomentar. Sebanyak 9 siswa atau 21,95% tidak merasa kesulitan atau tidak berkomentar dan sebanyak 32 siswa atau 78,04% menyatakan kesulitan yang dihadapi adalah ketika mencari unsur-unsur 5W +H di dalam teks berita, mencari tema atau judul ketika akan menulis teks berita, dan menulis teks berita. 15 siswa atau 36,58% menghendaki ingin ke perpustakaan untuk pembelajaran yang akan datang, sebanyak 5 siswa atau 12,19% yang merasa sudah sangat senang dengan pembelajaran hari ini, dan yang lain tidak berkomentar. Banyak sekali hal yang dikemukakan oleh siswa berkenaan dengan pembelajaran yang diikuti antara lain: dapat menambah pengetahuan tentang teks berita, bertambah wawasan karena membaca berita, menemukan kemudahan dalam menulis teks berita.


77

4.3 Siklus II

Pada siklus II terdapat data tes dan nontes. Data tes diperoleh dari keterampilan menulis teks berita pada tes siklus II yaitu hasil tes menulis teks berita dengan tema bebas setelah dilakukan pembelajaran pada siswa, sedangkan data nontes diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan guru selama pembelajaran berlangsung, wawancara terhadap siswa, dan jurnal yang diisi oleh siswa setelah pembelajaran berlangsung.

4.3.1 Data Tes

Hasil tes keterampilan menulis teks berita pada tes siklus II adalah menulis teks berita dengan tema bebas setelah dilakukan pembelajaran pada siklus II dapat dilihat pada tabel 13 berikut.

Tabel 13 Hasil Keterampilan Menulis Teks Berita

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

Rata-rata

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

85-100

70-84

55-69

0-54

22

11

5

3

1991

842

316

159

53,66

36,83

12,19

7,32

80,68%

Kategori Baik

Jumlah

41

3308

100

Tabel 13 menunjukkan peningkatan rata-rata skor dalam keterampilan menulis teks berita setelah melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan pada siklus II. Rata-rata skor yang dicapai pada siklus II


78

sebesar 86.93%, ini menunjukan peningkatan dibandingkan dengan rata-rata skor pada siklus I. Nilai dengan kategori sangat baik meningkat menjadi 22 siswa atau sebesar 53,56%, siswa yang memperoleh skor dengan kategori baik sebanyak 11 siswa atau sebesar 36,83%, kategori cukup sebanyak 5 siswa atau 12,19%, dan 3 siswa atau 7,32% yang memperoleh nilai kategori kurang.

Hasil tes dari masing-masing aspek dipaparkan sebagai berikut.

1 Kelengkapan Isi Berita

Hasil tes kelengkapan isi berita pada siklus II dapat dilihat pada tabel 14 berikut.

Tabel 14 Hasil Kelengkapan Isi Berita

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

30

25

20

15

24

9

8

-

720

225

160

-

58,54

21,95

19,51

-

26,95

89,84%

Kategori Sangat Baik

Jumlah

41

1105

100

Tabel 14 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek kelengkapan isi berita (mengandung 5W + H) pada siklus II sebesar 26,95 atau 89,84%. Siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat baik sebanyak 24 orang atau sebesar 58,54%, kategori baik sebanyak 9 siswa atau sebesar 21,95%,


79

kategori cukup sebanyak 8 siswa atau 19,51%, pada siklus II aspek ini tidak terdapat siswa yang mendapatkan nilai kategori kurang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada aspek kelengkapan termasuk dalam kategori sangat baik setelah mendapat penekanan aspek kelengkapan dalam pembelajaran siklus II. Jika dilihat dari frekuensi pemerolehan nilai cukup berkurang menjadi 8 siswa setelah dilakukan pembelajaran siklus II.

2 Keruntututan Pemaparan

Hasil tes keruntututan pada siklus II dapat dilihat pada tabel 15 berikut.

Tabel 15 Hasil Keruntututan Pemaparan

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

15

10

5

3

19

14

8

-

285

140

40

-

46,34

34,15

19,51

-

11,34

75,61%

Kategori Baik

Jumlah

41

465

100

Tabel 15 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek keruntututan pemaparan pada siklus II sebesar 11,34 atau 75,61%. Siswa yang


80

memperoleh skor dengan kategori sangat baik sebanyak 19 orang atau sebesar 46,34%, kategori baik sebanyak 14 siswa atau sebesar 34,15%, kategori cukup sebanyak 8 siswa atau 19,51%, pada siklus II aspek ini tidak terdapat siswa yang mendapatkan nilai kategori kurang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada aspek keruntututan pemaparan termasuk dalam kategori baik setelah mendapat penekanan aspek keruntututan pemaparan dalam pembelajaran siklus II. Jika dilihat dari frekuensi pemerolehan nilai cukup berkurang menjadi 8 siswa setelah dilakukan pembelajaran siklus II.

3 Penggunaan Kalimat

Hasil tes penggunaan kalimat pada siklus II dapat dilihat pada tabel 16 berikut.

Tabel 16 Hasil Penggunaan Kalimat

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

15

10

5

3

17

17

7

-

255

170

35

-

41,46

41,46

17,07

-

11,22

74,8%

Kategori Baik

Jumlah

41

460

100


81

Tabel 16 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek penggunaan kalimat ( singkat dan jelas) pada siklus II sebesar 11,22 atau 74,8%. Siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat baik sebanyak 17 orang atau sebesar 41,46%, kategori baik sebanyak 17 siswa atau sebesar 41,46%, kategori cukup sebanyak 7 siswa atau 17,07%, pada siklus II aspek ini tidak terdapat siswa yang mendapatkan nilai kategori kurang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada aspek penggunaan kalimat ( singkat dan jelas) termasuk dalam kategori baik setelah mendapat penekanan aspek penggunaan kalimat dalam pembelajaran siklus II. Jika dilihat dari frekuensi pemerolehan nilai cukup berkurang menjadi 7 siswa setelah dilakukan pembelajaran siklus II.

4 Kosakata yang Digunakan

Hasil tes kosakata yang digunakan adalah bahasa yang tepat pada siklus II dapat dilihat pada tabel 17 berikut.

Tabel 17 Hasil Kosakata yang Digunakan

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

15

10

5

3

19

22

-

-

285

220

-

-

46,34

53,66

-

-

12,07

80,49%

Kategori Sangat Baik

Jumlah

41

495

100


82

Tabel 17 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek kosakata yang digunakan adalah bahasa yang tepat pada siklus II sebesar 12,07 atau 80,49%. Siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat baik sebanyak 19 orang atau sebesar 46,34%, kategori baik sebanyak 22 siswa atau sebesar 53,66%, pada siklus II aspek ini tidak terdapat siswa yang mendapatkan nilai kategori cukup dan kategori kurang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada aspek kosakata yang digunakan adalah bahasa yang tepat termasuk dalam kategori sangat baik setelah mendapat penekanan aspek kosakata yang digunakan dalam pembelajaran siklus II. Jika dilihat dari frekuensi pemerolehan nilai cukup berkurang menjadi tidak ada setelah dilakukan pembelajaran siklus II.

5 Kemenarikan Judul

Hasil tes kemenarikan judul pada siklus II dapat dilihat pada tabel 18 berikut.


83

Tabel 18 Hasil Kemenarikan Judul

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

10

8

6

4

18

10

3

-

180

80

18

-

43,90

24,39

7,32

-

8,73

87.32%

Kategori Sangat Baik

Jumlah

41

358

100

Tabel 18 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek kemenarikan judul pada siklus II sebesar 8,73 atau 87.32%. Siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat baik sebanyak 18 orang atau sebesar 43,90%, kategori baik sebanyak 10 siswa atau sebesar 24,39%, kategori cukup sebanyak 3 siswa atau 7,32%, pada siklus I aspek ini tidak terdapat siswa yang mendapatkan nilai kategori kurang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada aspek kemenarikan judul termasuk dalam kategori sangat baik setelah mendapat penekanan aspek kemenarikan judul dalam pembelajaran siklus II. Jika dilihat dari frekuensi pemerolehan nilai cukup berkurang menjadi tidak ada setelah dilakukan pembelajaran siklus II.


84

7. Ketepatan Penggunaan Ejaan dalam Berita

Hasil tes ketepatan penggunaan ejaan dalam berita pada siklus II dapat dilihat pada tabel 19 berikut.

Tabel 19 Hasil Ketepatan Penggunaan Ejaan dalam Berita

No.

Kategori

Interval

Frekuensi

Bobot Skor

%

siswa

Rata-rata

Nilai

Persentase

1

2

3

4

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

15

10

5

3

-

33

7

1

-

330

35

3

-

80,48

17,07

2,44

9,27

61,79%

Kategori Cukup

Jumlah

41

380

100

Tabel 19 menunjukkan peningkatan rata-rata skor pada aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita pada siklus II sebesar 9,27 atau 61,79%. Tidak terdapat iswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat baik, kategori baik sebanyak 33 siswa atau sebesar 80,48%, kategori cukup sebanyak 7 siswa atau sebesar 17,07%, kategori baik sebanyak 3 siswa atau sebesar 2,44%.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa keterampilan menulis teks berita pada aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita termasuk dalam kategori sangat baik setelah mendapat penekanan aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita dalam pembelajaran siklus II. Jika dilihat dari frekuensi pemerolehan nilai kurang menjadi 1 siswa setelah dilakukan pembelajaran siklus II.


85

4.3.2 Data Nontes

Pemerolehan data yang bersifat nontes pada proses pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen modeling pada siklus II adalah:

1. Observasi

Data observasi pembelajaran siklus II diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 20 berikut.

Tabel 20 Hasil Observasi Siklus I

Kategori

dan nilai

Kerja sama kelompok

Keaktifan tugas

Keseriusan pelajaran

Keseriusan model

Tanggapan teknik

sharing

Menyenangkan

Sangat baik nilai 4

22

53,66

15

36,59

25

60,98

26

63,41

11

26,83

5

12,20

3

7,32

Baik nilai 3

11

26,83

21

51,22

9

21,95

14

34,15

17

41,46

15

36,59

25

Cukup nilai 2

8

18,52

5

12,20

7

17,07

1

2,44

13

31,71

12

29,27

11

26,83

Kurang nilai 1

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

9

21,95

2

4,88

Jumlah

137

133

141

148

121

98

111

Rata-rata

3,34

3,24

3,44

3,61

2,95

2,39

2,71

%

83,54

81,08

85,97

90,24

73,28

54,76

67,68

Observasi dilakukan selama dalam proses pembelajaran berlangsung, dari hasil observasi tersebut dapat diketahui bahwa tingkat persentase siswa yang melakukan kerjasama dengan kelompok 83,54%, mengerjakan tugas 81,08%,


86

aktif dan serius dalam mengikuti pembelajaran 85,97%, serius dalam mengamati model 90,24%, sikap siswa terhadap teknik pembelajaran ada 73,28%, sharing dengan teman 54,76%, dan pembelajaran menyenangkan 67,68%.

2. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada 6 siswa dengan perbandingan 2 siswa bernilai paling tinggi, 2 siswa dengan nilai sedang atau rata-rata, dan 2 siswa dengan nilai paling rendah. Apabila terdapat nilai lebih dari dua siswa pada nilai tertinggi, sedang dan nilai terendah, maka diusahaka dipilih narasumber yang belum diwawancari pada siklus I untuk menghindari kesamaan data dan hasil yang sama terhadap siklus I. Wawancara ini dilakukan setelah proses pembelajaran selesai dan telah diketahui hasil akhir atau skor siswa dalam mengerjakan tugas.

Siswa yang mempunyai nilai tinggi dan sedang menyatakan bahwa selama ini berminat dengan pembelajaran menulis karena anggapan bahwa menulis atau mengarang itu sudah tidak sulit, dan siswa yang mempunyai nilai rendah menyatakan tidak berminat dengan pembelajaran menulis karena masih belum mendapat nilai yang baik. Siswa sudah pernah menulis teks berita dengan melalui pembelajaran kontekstual.

Siswa yang mempunyai nilai tinggi, sedang, dan rendah menyatakan senang dengan pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dan hanya yang dilakukan pada siklus II ini karena terdapat variasi dalam pembelajaran, tidak membosankan dengan terus-menerus di kelas,


87

lebih santai. Dengan dihadirkannya model teks berita, siswa juga termotivasi dan terbantu dalam membuat teks berita. Semua siswa menjawab terbantu karena banyak sekali odel atau contoh yang diberikan guru.

Dengan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan semua siswa menyatakan telah menemukan sendiri pengetahuan tentang teks berita dari contoh teks berita yang diberikan. Siswa juga mengungkapkan perasaannya setelah diminta menulis berita yaitu mula-mula sulit menulis teks berita tetapi sekarang bisa, satu siswa menjadi tertarik menulis, dan tiga siswa hanya menjawab senang karena terhibur dengan pembelajaran siklus II.

Kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis adalah dua siswa merasa kesulitan untuk mengawali menulis, dua siswa menentukan judul, dan dua siswa pada menyusun kalimat teks berita. Setelah pembelajaran, yang diinginkan siswa antara lain dua siswa menginginkan lebih mempelajari tentang teknik membuat berita, satu siswa ingin jadi wartawan terkenal, satu siswa menberi pernyataan ingin mengabadikan nilainya karena sudah bisa membuat teks berita dan dua siswa lainnya ingin mengulang lagi. Pendapat yang diberikan oleh siswa tentang pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan adalah siswa lebih bebas dan kreatif, menginginkan teknik pembelajaran ini diterapkan pada materi yang lain, dan hari ini jauh lebih baik daripada kemarin.

Pendapat yang diberikan oleh siswa tentang contoh teks berita yang diberikan guru adalah siswa mencari sendiri contoh teks berita dan lebih banyak sehingga lebih bervariasi, siswa lebih termotivasi untuk membaca karena dengan


88

membaca siswa akan banyak pengetahuan sehingga belajar teks berita sekaligus baca berita, pembelajaran hari ini jauh lebih baik karena siswa lebih aktif dan mandiri, siswa lebih berani dalam menyatakan pendapatnya, membiasakan ke perpustakaan, siswa lebih bebas mencari contoh teks berita, dan banyak membaca banyak ilmunya.

3. Jurnal

Jurnal yang diisi oleh siswa menunjukan bahwa mereka merasa senang dengan pembelajaran teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen modeling. Hal ini dapat dibuktikan bahwa semua siswa menjawab senang mengikuti pembelajaran. Sebanyak 31 siswa atau 75,61% tidak merasa kesulitan atau tidak berkomentar dan sebanyak 10 siswa atau 24,39% menyatakan kesulitan yang dihadapi adalah ketika memulai menulis berita dan menyusun kalimat yang baik dan benar. Banyak sekali hal yang dikemukakan oleh siswa berkenaan dengan pembelajaran yang diikuti antara lain dapat menambah pengetahuan tentang teks berita, membiasakan untuk mengunjungi perpustakaan, bertambah wawasan karena membaca berita, menemukan kemudahan dalam menulis teks berita, sambil menyelam minum air.

4.4 Pembahasan

Setelah dilakukan analisis data tes dan nontes diperoleh kenyataan bahwa pembelajaran teks berita dengan pendekatan kontektual komponen


89

pemodelan dapat meningkatkan keterampilan menulis teks berita siswa kelas VIIIA SMP Negeri I kajoran Kabupaten Magelang.

Pembahasan hasil penelitian mengacu pada pemeroleh skor yang dicapai siswa dalam tes keterampilan menulis. Aspek yang dinilai dalam keterampilan menulis teks berita ini adalah 6 aspek yang meliputi (1) kelengkapan isi berita (mengandung 5W + H); (2) keruntututan pemaparan (isi urut dan jelas sehingga mudah dipahami); (3) penggunaan kalimat (singkat dan jelas); (4) kosakata yang digunakan adalah bahasa yang tepat; (5) kemenarikan judul; dan (6) ketepatan penggunaan ejaan dalam berita.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu prasiklus, siklus I, dan siklus II. Pada tahap prasiklus dilaksanakan tes menemukan unsur-unsur 5W + H dan menuliskan teks berita sebelum dilaksanakan pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Sedangkan pada tahap siklus I dan siklus II juga dilaksanakan tes untuk menuliskan teks berita setelah dilaksanakan pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan.

4.4.1 Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Berita

Secara lengkap peningkatan setiap aspek keterampilan menulis teks berita siswa kelas VIIIA dapat dilihat pada tabel 21.


90

Tabel 21 Rekapitulasi Rata-Rata Pencapaian Keterampilan

PENCAPAIAN KETERAMPILAN

PENINGKATAN KETERAMPILAN

Siklus

Pra

Siklus I

Siklus II

Pra-I

%

I-II

%

Pra-II

%

Kelengkapan isi berita

24,76

26,09

26,95

1,33

5,37

0,86

3,30

2,19

8,84

Keruntututan pemaparan

9,51

9,88

11,34

0,37

3,89

1,46

14,78

1,83

19,24

Penggunaan kalimat

6,58

9,88

11,22

3,3

50,15

1,34

13,56

4,64

70,52

Kosakata

10,61

11,46

12,07

0,85

8,01

0,61

5,32

1,46

13,76

Kemenarikan judul

8,29

8,54

8,73

3,25

61,44

0,19

2,22

0,44

5,30

Ejaan dalam berita

8,54

8,66

6,17

0,12

1,40

2,49

28,75

2,37

27,75

Jumlah

68,29

74,51

80,68

9,22

13,50

6,92

9,29

12,93

18,39

Berdasarkan hasil penelitian tentang pembelajaran menulis teks berita dapat dikatakan ada peningkatan dari prasiklus, siklus I, siklus II. peningkatan keterampilan menulis teks berita tersebut berdasarkan tes yang dilakukan pada siklus I dan siklus ke II. Setelah siswa mengikuti pembelajaran menulis teks berita dengan menggunakan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan keterampilan menulis teks berita meningkat secara bertahap. Keterampilan menulis teks berita siswa pada siklus pertama sudah mengalami perubahan. Pada prasiklus nilai skor rata-rata setiap aspek adalah sebagai berikut: aspek kelengkapan isi berita adalah 24,76; aspek keruntutan pemaparan adalah 9,51; aspek penggunaan kalimat sebesar 6,58; aspek kosakata sebesar 10,61; aspek kemenarikan judul sebesar 8,29; aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita


91

sebesar 8,54. Hasil tes menulis teks berita pada siklus yang pertama, para siswa dapat mencapai rata-rata pada setiap unsurnya yaitu yang pertama, aspek kelengkapan isi berita adalah 26,09; aspek keruntutan pemaparan adalah 9,88; aspek penggunaan kalimat sebesar 9,88; aspek kosakata sebesar 11,61; aspek kemenarikan judul sebesar 8,54; aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita sebesar 8,66. Terjadi kenaikan pada aspek kelengkapan isi berita sebesar 1,33 atau 5,37%; aspek keruntutan pemaparan sebesar 0,37 atau 3,89%; aspek penggunaan kalimat sebesar 3,3 atau 50,15%; aspek kosakata sebesar 0,85 atau 8,01%; aspek kemenarikan judul sebesar 3,25 atau 0,19%; aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita sebesar 0,12 atau 1,40% pada siklus pertama.

Setelah dilakukan pembelajaran pada tahap siklus I, ternyata terjadi peningkatan nilai yang diperoleh siswa, yaitu 11 siswa atau 26,83% mendapat nilai sangat baik, 18 siswa atau 43,90% mendapat nilai sedang, 7 siswa atau 17,07% dengan nilai cukup, dan 4 siswa ata 9,76% mendapat nilai kurang. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah 74,51. Dari hasil siklus I masih perlu dilaksanakan pembelajaran siklus II untuk meningkatkan keterampilan menulis teks berita yang meliputi enam aspek tetapi lebih menekankan aspek penggunaan ejaan yang disempurnakan.

Hasil tes dari siklus I ke siklus II juga mengalami peningkatan pada setiap aspeknya. Pada siklus I aspek kelengkapan isi berita adalah 26,09. Pada siklus II sebesar 26,95. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan 0,86 atau 3,30%. Pada aspek keruntutan pemaparan siklus I sebesar 9,88. Sedangkan pada siklus II sebesar 11,34. Ada peningkatan 3,89 atau 1,46%. Aspek penggunaan


92

kalimat pada siklus I sebesar 9,88. pada siklus II sebesar 11,22. Ada kenaikan sebesar 1,34 atau 13,56%. Aspek kosakata pada siklus I sebesar 11,46. Sedangkan pada siklus II sebesar 12,07. Hal ini menunjukkan bahwa ada kenaikan sebesar 5,32%. Aspek kemenarikan judul pada siklus Isebesar 8,54. Sedangkan pada siklus II sebesar 8,73. Ada kenaikan sebesar 0,19. Aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita pada siklus I sebesar 8,66. Sedangkan pada siklus II sebesar 6,17. Ada kenaikan sebesar 2,49 atau 28,75%. Terjadi kenaikan pada aspek kelengkapan isi berita sebesar 1,33 atau 5,37%; aspek keruntutan pemaparan sebesar 0,37 atau 3,89%; aspek penggunaan kalimat sebesar 3,3 atau 50,15%; aspek kosakata sebesar 0,85 atau 8,01%; aspek kemenarikan judul sebesar 3,25 atau 0,19%; aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita sebesar 0,12 atau 0,12% pada siklus kedua. Peningkatan tersebut disebabkan oleh faktor latihan menulis teks berita yang terus menerus, minat, motivasi, dan model pembelajaran, seta metode yang digunakan dalam pembelajaran, penekanan atau fokus pemebelajaran dari setiap aspek.

Berdasarkan data hasil penelitian pada siklus II terjadi peningkatan dibandingkan pada prasiklus. Pada siklus II aspek kelengkapan isi berita sebesar 26,95. Aspek kelengkapan isi berita pada pra siklus 24,76. ada kenaikan sebesar 2,19 atau 8,84%. Pada aspek keruntutan pemaparan pada siklus II sebesar 11,34. sedangkan pada prasiklus sebesar 9,51. ada kenaikan sebesar 1,83 atau 19,24%. Aspek penggunaan kalimat pada siklus II sebesar 11,22. Pada prasiklus sebesar 6,58. Ada kenaikan sebesar 4,64 atau 70,52%. Aspek kosakata pada siklus II sebesar 12,07. pada pra siklus 10,61. Hal ini menunjukkan bahwa ada kenaikan


93

sebesar 1,46 atau 13,76%. Aspek kemenarikan judul pada siklus II sebesar 8,73. sedangkan pada prasiklus sebesar 8,29. Ada kenaikan sebesar 0,44 atau 5,30%. Aspek ketepatan penggunaan ejaan dalam berita pada siklus II sebesar 6,17. sedangkan pada prasiklus sebesar 8,54. Ada kenaikan sebesar 2,37 atau 27,75%.

4.4.2 Perubahan Perilaku siswa

Pada tahap prasiklus sebagian siswa mengeluh ketika diberikan tugas untuk mengeluh karena tidak percaya diri untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru yaitu menulis teks berita. Namun ketika dilaksanakan pembelajaran pada siklus I, siswa lebih bersemangat dan bisa menerima pembelajaran dengan baik sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan diikuti oleh siswa dengan bersemangat. Dari jurnal yang dibagikan dan hasil observasi guru pada siklus I dan siklus II, diperoleh data bahwa dengan pembelajaran teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan siswa merasa senang dengan pembelajaran ini, siswa lebih bersemangat, aktif, dan lebih mandiri dalam mengerjakan tugasnya. Siswa merasa lebih percaya diri dalam mengerjakan tugas, dan tidak mengeluhkan tugas tersebut.

Secara umum perubahan tingkah laku siswa selama pembelajaran pada siklus I dan siklus II yang diperoleh dari hasil pengamatan atau observasi selam proses pembelajaran berlangsung dapat dilihat pada tabel 22 berikut.


94

Tabel 22 rekapitulasi Hasil Observasi

ASPEK

PERILAKU SISWA

PERUBAHAN POSITIF PERILAKU SISWA

SIKLUS I

SIKLUS II

PENINGKATAN

%

Kerja sama kelompok

126

137

11

8,73

Keaktifan tugas

130

133

3

2,31

Keseriusan pelajaran

119

141

22

18,49

Keseriusan mengamati model

138

148

10

7,25

Tanggapan pembelajaran

101

121

10

9,9

Sharing

95

98

3

3,16

Pembelajaran menyenangkan

102

111

9

8,82

Jumlah

811

889

68

8,38

Dilihat dari tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran tahap siklus I dan siklus II dapat diketahui bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dapat mengubah tingkah laku siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang perubahan tingkah laku siswa


95

yang terjadi adalah perubahan positif. Terjadi peningkatan dari setiap aspek, aspek kerja sama dengan kelompok 8,73%, aspek keaktifan mengerjakan tugas sebesar 2,31%, aspek keaktifan dan keseriusan mengikuti pelajaran sebesar 18,49%, aspek keseriusan mengamati model sebesar 7,25%, aspek sikap atau tanggapan terhadap teknik pembelajaran sebesar 9,9%, sharing dengan teman sebesar 3,16%, dan aspek pembelajaran menyenangkan sebesar 8,38%. Siswa yang semula tidak menyukai materi menulis teks berita menjadi lebih tertarik dan bersemangat untuk menulis teks berita.


BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan pembahasan, penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

Keterampilan menulis teks berita pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang setelah menggunakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan meningkat sebesar 12,39%. Peningkatan rata-rata skor terjadi dalam keterampilan menulis teks berita setelah melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Rata-rata skor pada pra siklus adalah 68,29%, sedangkan siklus I menunjukan peningkatan sebesar 6,92% dari rata-rata skor pada prasiklus yaitu menjadi 74,51%. Rata-rata skor yang dicapai pada siklus II adalah sebesar 80,68%.

Pada tahap prasiklus sebagian siswa mengeluh ketika diberikan tugas untuk mengeluh karena tidak percaya diri untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru yaitu menulis teks berita. Siswa sudah tidak senang dan merasa tidak bisa sebelum mereka mengerjakannya. Namun ketika dilaksanakan pembelajaran pada siklus I, siswa lebih bersemangat dan bisa menerima pembelajaran dengan baik sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan diikuti oleh siswa dengan bersemangat.

Dari jurnal yang dibagikan dan hasil observasi guru pada siklus I, diperoleh data bahwa dengan pembelajaran teks berita dengan pendekatan


97

kontekstual komponen modeling siswa lebih senang dan aktif mengikuti pembelajaran. Siswa lebih termotivasi dan merasa lebih mudah mampelajari teks berita.

Pada tahap siklus II, selain siswa dibagikan jurnal, guru juga memantau dengan data observasi. Dari data tesebut dapat diketahui bahwa siswa merasa senang dengan pembelajaran ini, siswa lebih bersemangat, aktif, dan lebih mandiri dalam mengerjakan tugasnya. Siswa merasa lebih percaya diri dalam mengerjakan tugas, dan tidak mengeluhkan tugas tersebut.

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk Guru

a. Guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya menggunakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan dalam kegiatan menulis teks berita.

b. Guru hendaknya melatih siswa untuk gemar menulis dengan memberikan latihan membuat kalimat ejaan dan tanda baca yang benar.

2. Untuk Siswa

a. Siswa hendaknya menggunakan pembelajaran melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan merupakan cara yang tepat untuk melatih siswa dalam menulis teks berita.


98

b. Siswa hendaknya selalu mengikuti pembelajaran dengan baik dan berlatih menulis khusunya teks berita.

3. Untuk Peneliti

Kepada peneliti hendaknya melakukan penelitian lanjutan dari penelitian ini dengan aspek yang lain, untuk khasanah ilmu bahasa dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti. 1997. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Ardiana, dkk. 2002. Pelatihan Terintegerasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia: Menulis, Modul IND. A.o4. Jakarta: Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.

Asrom, dkk. 1997. Dari Narasi Hingga Argumentasi. Erlangga. Jakarta

Astuti, dwi. 2004 Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Narasi dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan pada Siswa Kelas II PS SMK Negeri 8 Semarang. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

Bagiyo, Thomas. 2004. Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Drama dengan Teknik Modeling pada Siswa-siswi Kelas IV D PL Bernadus Semarang. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

Depdiknas. 2002. Program Peningkatan Mutu SLTP. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah

------------- 2003a. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah

------------- 2003b. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawitah. Jakarta: Depdiknas.

------------- 2003c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Jakarta: Depdiknas.

------------- 2003d. Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah

------------- 2003e. Rencana Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SLTP Kelas 2. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.


100

------------- 2004. Pendekatan Kontekstual: Contextual Teaching and Learning (CTL). Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Djuroto, Totok. 2003. Teknik Mencari & Menulis Berita. Semarang: Dahar Prize.

Nurhadi, dkk. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas). Jakarta: Gramedia Widiasarana.

Nursito. 1999. Penuntun Mengarang. Yogyakarta: Adi Cita Karya Nusa.

Semi, Atar .1990. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya.

Siregar, Ras. 1992. Bahasa Pers Bahasa Indonesia Jurnalistik: Kerangka Teori Dasar. Jakarta: PT Grafikatama Jaya.

Subyantoro, Bambang Hartono. 2003. “Pengembangan Kemampuan Berbicara, Membaca, dan Menulis”. Makalah disajikan pada Pelatihan Teritegrasi berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2003.

Sukris. 2000 Peningkatan Keterampilan Menulis Wacana Narasi Melalui Media Rekacerita Bergambar Siswa Kelas IIE SLTP N 3 Jekulo. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

Suriamiharja, dkk. 1997. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta: Depdikbud.

Suryanto.2004. Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi dengan Teknik Modelling pada Siswa Kelas II SLTP I Sukorejo Kendal. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.

Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Kamis, 17 Desember 2009

Pengembangan Kurikulum

Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran PKn
Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang sangat esensial dalam proses pembelajaran. Ada 4 bagian penting dalam kurikulum meliputi: tujuan, isi/materi, strategi pembelajaran, dan evaluasi. Ke-4 bagian/komponen penting kurikulum ini saling berkaitan dan berinteraksi untuk mencapai perilaku yang diinginkan/dicita-citakan oleh tujuan pendidikan nasional.
Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula dalam memilih isi/materi yang harus dikuasai, strategi yang akan digunakan serta bentuk dan alat evaluasi yang tepat untuk mengukur ketercapaian kurikulum.
Hierarki perumusan tujuan kurikulum dimulai dari tujuan umum pendidikan, kemudian tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional.
Materi/isi kurikulum menurut Saylor dan Alexander adalah fakta-fakta, observasi, data, persepsi, penginderaan, pemecahan masalah yang berasal dari pikiran manusia dan pengalamannya yang diatur dan diorganisasikan dalam bentuk konsep, generalisasi, prinsip, dan pemecahan masalah.
Strategi pembelajaran berkaitan dengan bagaimana menyampaikan isi/materi kurikulum agar tujuan tercapai dan komponen evaluasi kurikulum adalah untuk menilai apakah tujuan kurikulum telah tercapai. Hasil dari evaluasi kurikulum adalah berupa umpan balik apakah kurikulum ini akan direvisi atau tidak.
Kurikulum adalah apa yang akan diajarkan sedangkan pembelajaran adalah bagaimana menyampaikan apa yang diajarkan. Menurut McDonald & Leeper kegiatan kurikulum adalah memproduksi rencana kegiatan, sedangkan pembelajaran adalah kegiatan melaksanakan rencana tersebut. Kurikulum dan pembelajaran pada dasarnya merupakan subsistem dari suatu sistem yang lebih besar, yaitu sistem persekolahan. Kurikulum dan pembelajaran adalah dua sistem yang saling terkait satu sama lain secara terus-menerus dalam suatu siklus.
Menurut Gagne dan Briggs pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang untuk mempengaruhi proses belajar dalam diri siswa. Menurut Gredler proses perubahan sikap dan tingkah laku siswa pada dasarnya terjadi dalam satu lingkungan buatan dan sangat sedikit bergantung pada situasi alami, ini artinya agar proses belajar siswa berlangsung optimal guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Proses menciptakan lingkungan belajar yang kondusif ini disebut pembelajaran.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam mengelola kegiatan pembelajaran adalah:harus berpusat pada siswa yang belajarbelajar dengan melakukan,mengembangkan kemampuan sosial,mengembangkan keingintahuan,imajinasi dan fitrah anakmengembangkan keterampilan memecahkan masalahmengembangkan kreativitas siswa,mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologimenumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik, danbelajar sepanjang hayat.
Pengembangan kurikulum adalah suatu istilah yang ada dalam studi kurikulum, yaitu sebagai alat untuk membantu guru melakukan tugasnya menyampaikan pembelajaran yang menarik minat siswa. Kegiatan pengembangan kurikulum ini perlu dilakukan untuk menghadapi dan mengantisipasi keadaan berikut, yaitu merespons perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan sosial di luar sistem pendidikan, memenuhi kebutuhan siswa dan merespons kemajuan-kemajuan dalam pendidikan.
Masalah yang ada dalam proses pengembangan kurikulum biasanya berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana memilih materi yang diajarkan, apa yang harus dilakukan bila ada pandangan yang bertolak belakang dengan pengembang dan bagaimana menerapkan kurikulum secara meyakinkan.
Landasan Pengembangan Kurikulum
Landasan pengembangan kurikulum pada hakikatnya merupakan faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan pada waktu mengembangkan suatu kurikulum lembaga pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Secara umum terdapat tiga aspek pokok yang mendasari pengembangan kurikulum tersebut, yaitu: landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan sosiologis.
Landasan filosofis berkaitan dengan pentingnya filsafat dalam membina dan mengembangkan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan. Filsafat ini menjadi landasan utama bagi landasan lainnya. Perumusan tujuan dan isi kurikulum pada dasarnya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan filosofis. Pandangan filosofis yang berbeda akan mempengaruhi dan mendorong aplikasi pengembangan kurikulum yang berbeda pula. Berdasarkan landasan filosofis ini ditentukan tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan bidang studi, dan tujuan instruksional.
Landasan psikologis terutama berkaitan dengan psikologi/teori belajar (psychology/theory of learning) dan psikologi perkembangan (developmental psychology). Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana kurikulum itu disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Dengan kata lain, psikologi belajar berkenaan dengan penentuan strategi kurikulum. Sedangkan psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi kurikulum yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan taraf perkembangan siswa tersebut.
Landasan sosiologis dijadikan sebagai salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum karena pendidikan selalu mengandung nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Di samping itu, keberhasilan suatu pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya yang menjadi dasar dan acuan bagi pendidikan/kurikulum. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai produk kebudayaan diperlukan dalam pengembangan kurikulum sebagai upaya menyelaraskan isi kurikulum dengan perkembangan dan kemajuan yang terjadi dalam dunia iptek.
Kegiatan Belajar 2:Prinsip, Pendekatan, dan Langkah-langkah dalam Pengembangan KurikulumRangkumanSetiap pengembangan kurikulum, selain harus berpijak pada sejumlah landasan, juga harus menerapkan atau menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Dengan adanya prinsip tersebut, setiap pengembangan kurikulum diikat oleh ketentuan atau hukum sehingga dalam pengembangannya mempunyai arah yang jelas sesuai dengan prinsip yang telah disepakati.
Secara umum prinsip-prinsip pengembangan kurikulum meliputi prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, serta efisiensi dan efektivitas.
Prinsip relevansi berkenaan dengan kesesuaian antara komponen tujuan, isi, strategi, dan evaluasi. Prinsip fleksibilitas berkenaan dengan kebebasan/keluwesan yang dimiliki guru dalam mengimplementasikan kurikulum dan adanya alternatif pilihan program pendidikan bagi siswa sesuai dengan minat dan bakatnya. Prinsip kontinuitas berkenaan dengan adanya kesinambungan materi pelajaran antarberbagai jenis dan jenjang sekolah serta antartingkatan kelas. Prinsip efisiensi dan efektivitas berkenaan dengan pendayagunaan semua sumber secara optimal untuk mencapai hasil yang optimal.
Sementara itu, prinsip khusus yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi, antara lain: prinsip keimanan, nilai dan budi pekerti luhur, penguasaan integrasi nasional, keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinetika, kesamaan memperoleh kesempatan, abad pengetahuan dan teknologi informasi, pengembangan keterampilan hidup, berpusat pada anak, serta pendekatan menyeluruh dan kemitraan.
Apabila dianalisis secara mendalam beberapa prinsip khusus yang diterapkan dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, pada dasarnya merupakan penjabaran dari empat prinsip umum pengembangan kurikulum.
Ada dua pendekatan dalam pengembangan kurikulum, yaitu pendekatan administratif dan akar rumput. Pendekatan administratif adalah suatu pendekatan dalam pengembangan kurikulum di mana ide atau inisiatif pengembangan muncul dari para pejabat atau pengembang kebijakan seperti Menteri Pendidikan, Kepala Dinas dan lain-lain. Sedangkan pendekatan akar rumput, ide pengembangan muncul dari keresahan para guru-guru yang mengimplementasikan kurikulum di sekolah di mana mereka menginginkan perubahan atau penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan di sekolah.
Ada beberapa langkah dalam pengembangan kurikulum, yaitu analisis dan diagnosis kebutuhan, perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, dan pengembangan alat evaluasi.
Analisis dan diagnosis kebutuhan dilakukan dengan mempelajari tiga hal, yaitu: kebutuhan siswa, tuntutan masyarakat/dunia kerja, dan harapan-harapan dari pemerintah. Adapun caranya dapat dilakukan melalui survei kebutuhan, studi kompetensi, dan analisis tugas.
Langkah pengembangan kurikulum selanjutnya setelah seperangkat kebutuhan tersusun adalah perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, serta pengembangan alat evaluasi.
Kerangka Dasar Kurikulum 2004
Landasan, Prinsip Pengembangan dan Pelaksanaan Sistem Persekolahan, dan Standar KompetensiRangkumanAdanya perkembangan dan perubahan yang terus-menerus dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang dipengaruhi oleh perubahan global, perkembangan pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya menuntut perlunya perubahan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum.
Perbaikan sistem pendidikan ini dimaksudkan untuk memperoleh masyarakat yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut secara khusus untuk mengembangkan aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, pengetahuan, dan keterampilan dari peserta didik agar nantinya memiliki kompetensi untuk bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan kemajuan yang ada.
Penyempurnaan kurikulum dilandasi oleh kebijakan yang ada dalam peraturan UU, yaitu UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.
Prinsip pengembangan kurikulum meliputi peningkatan keimanan dan budi pekerti, keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika, penguatan integritas nasional, perkembangan pengetahuan dan IT, kecakapan hidup 4 pilar pendidikan dan belajar sepanjang hayat.
Prinsip pelaksanaan kurikulum didasarkan pada kesamaan memperoleh kesempatan, berpusat pada anak, pendekatan menyeluruh dan kemitraan.
Jenjang pendidikan terdiri dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi yang diselenggarakan pada jalur formal dan non-formal.
Standar nasional pendidikan meliputi standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidikan, sarana dan prasarana pengelolaan dan penilaian.
Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa per kelas dan satuan pendidikan. Tolok ukur kompetensi di tentukan dalam indikator.
Standar kompetensi lulusan dijabarkan dalam standar isi yang memuat bahan kegiatan, mata pelajaran, dan kegiatan belajar pembiasaan.
Kompetensi lintas kurikulum merupakan kompetensi kecakapan hidup dan belajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh peserta didik melalui pengalaman belajar secara berkesinambungan.
Struktur dan Pelaksanaan Kurikulum 2004Struktur kurikulum berisi tiga hal, yaitu sejumlah mata pelajaran, kegiatan belajar pembiasaan, dan alokasi waktu.Kegiatan belajar pembiasaan dilakukan secara berkesinambungan mulai dari pendidikan taman kanak-kanak, pendidikan dasar, dan menengah.Taman kanak-kanak dan raudhatul athfal merupakan bentuk pendidikan usia dini pada jalur pendidikan formal. Struktur kurikulum TK memuat dua bidang pengembangan, yaitu pengembangan kegiatan belajar pembiasaan dan bentuk-bentuk kemampuan dasar.Penjelasan kegiatan pembiasaan di TK, SD dilakukan dengan pendekatan tematik yang diorganisasikan sekolah.Kurikulum SMA dan MA ada dua jenis, yaitu kurikulum program studi dan struktur kurikulum program pilihan. Struktur program studi terdiri atas ilmu alam, ilmu sosial, dan bahasa.Kurikulum program pilihan di SMA dan MA bertujuan untuk memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih mata pelajaran sesuai dengan potensi, bakat, dan minat peserta didik.Pelaksanaan kurikulum 2004 menerapkan prinsip “Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan”.Standar nasional ditentukan pusat dan cara pelaksanaannya disesuaikan masing-masing daerah/sekolah. Pelaksanaan kurikulum sekolah ini harus memperhatikan:perencanaan dan pelaksanaan sesuai standar yang telah ditetapkan,perluasan kesempatan berimprovisasi dan berkreasi dalam meningkatkan mutu,menugaskan tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah, dan masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam meningkatkan mutu pendidikan,peningkatan pertanggungjawaban kinerja penyelenggaraan pendidikan,mewujudkan ketentuan dan kepercayaan dalam pengelolaan pendidikan sesuai otoritasnya,penyelesaian masalah pendidikan sesuai karakteristik wilayah.Kurikulum dapat didiversifikasi untuk melayani keberagaman penyelenggaraan kebutuhan dan kemampuan sekolah dan melayani minat peserta didik.Kegiatan kurikuler dikelompokkan menjadi kegiatan intrakurikuler, yaitu kegiatan pembelajaran untuk menguasai kompetensi dan ekstrakurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan secara kontekstual dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan untuk memenuhi tuntutan penguasaan kompetensi mata pelajaran, pembentukan karakter, peningkatan kecakapan hidup sesuai kebutuhan dan kondisi sekolah.Kegiatan belajar pembiasaan diselenggarakan secara ber-kesinambungan mulai dari TK, SD, SMA, mengutamakan kegiatan pembentukan dan pengendalian perilaku yang diwujudkan dalam kegiatan rutin, spontan, dan mengenal unsur-unsur penting kehidupan.
Tantangan Kurikulum dan Pembelajaran di Abad XXI
Life Skills (Pendidikan Kecakapan Hidup)Life skills atau pendidikan kecakapan hidup (PKH) adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka dapat hidup mandiri. Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dapat membantu siswa belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerja sama secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan dalam hidupnya.
PKH perlu dikenalkan pada siswa karena dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan belajar (learning how to learn), karena kecakapan ini diperlukan oleh semua orang. Makna kecakapan hidup lebih luas dari keterampilan untuk bekerja karena diharapkan dengan kecakapan ini, seseorang dapat memecahkan masalah yang dihadapinya dengan baik.
PKH terdiri dari:kecakapan personal GLS (kecakapan hidup general),kecakapan sosial GLS,kecakapan akademik SLS (kecakapan hidup spesifik),kecakapan vokasional SLS.
Keempat pilar pendidikan dari UNESCO adalah perwujudan dari siswa yang memiliki kecakapan hidup sesuai standar UNESCO. Keempat pilar ini kemudian diwujudkan dalam berbagai kompetensi yang ada dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Pelaksanaan PKH di sekolah perlu kerja sama semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pendidikan di sekolah, misalnya persetujuan dan bantuan kepala sekolah, guru dan siswanya, guru-guru di kelas lain atau guru mata pelajaran lain, guru perpustakaan, orang tua siswa, staf administrasi sekolah dan lainnya. PKH perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah.
Keterampilan Melek Informasi (Information literacy)Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Sedangkan keterampilan melek informasi adalah serangkaian kemampuan untuk menyadari kebutuhan informasi dan kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi yang dibutuhkan, memanfaatkan informasi secara kritis dan etis, kemudian meng-komunikasikannya secara efektif dan efisien. Keterampilan melek informasi juga berhubungan dengan kemampuan untuk memecahkan. Siswa yang mempunyai keterampilan melek informasi adalah siswa yang independent dan competent, yang dapat beradaptasi dengan perubahan apapun secara mandiri dan fleksibel.
Manfaat keterampilan melek informasi adalah dapat membiasakan siswa untuk selalu belajar untuk meneliti sesuatu dengan menggunakan strategi ilmiah, mengajak mereka untuk rajin membaca dan menulis untuk menambah pengetahuan, wawasan, maupun kecerdasan siswa sebagai bekal menuju manusia berkualitas.
Pelaksanaan keterampilan melek informasi di kelas dapat menggunakan metode ilmiah. Penilaian keterampilan ini juga perlu penilaian menyeluruh yang dapat menilai kemampuan dan hasil kerja siswa.
Pengembangan Rencana Pembelajaran
Ada banyak model pengembangan rencana pembelajaran diantaranya model Gagne, model Kemp, model Gerlach & Ely, model Dick dan Carey, model Banathy, dan model PPSI. Masing-masing model memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaan dari model tersebut adalah mengandung 3 kegiatan pokok, yaitu: mengidentifikasikan masalah; mengembangkan pemecahannya; dan menilai pemecahan, dan mengandung unsur dasar yang sama yaitu siswa, tujuan, metode dan kegiatan belajar-mengajar.
Ada 5 kriteria untuk memilih model, yaitu harus sederhana, lengkap, dapat diterapkan, luas, dan teruji.
Langkah-langkah pengembangan model Banathy adalah:Merumuskan tujuan belajar secara spesifik dan objektif,Menyusun tes untuk mengukur ketercapaian tujuan,Menentukan tugas-tugas yang akan diberikan agar tujuan dicapai, danMenganalisis sistem yang meliputi analisis fungsi tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana, siapa yang akan melakukannya, membagi fungsi pada tiap komponen, dan menentukan jadwal kapan pelaksanaannya dan di mana tempatnya.
Adapun langkah pengembangan model Dick & Carey meliputi:Merumuskan tujuan pembelajaran.Menentukan macam kegiatan belajar/keterampilan yang me-mungkinkan tujuan pembelajaran tercapai.Mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa untuk menentukan pola strategi pembelajaran.Merumuskan tujuan khusus.Menyusun butir-butir tes berdasarkan acuan patokan.Mengembangkan strategi pembelajaran, berupa pengalaman belajar yang akan dialami siswa.Mengembangkan dan memilih materi/bahan pembelajaran.Mengadakan evaluasi formatif.Mengadakan revisi sistem hasil evaluasi formatif.Mengadakan evaluasi sumatif.
Adapun langkah-langkah mengembangkan model Gerlach & Ely adalah:Pertama: menentukan materi yang akan diajarkan serta merumuskan tujuan pembelajaran.Kedua: menilai perilaku siswa yang belajar.Ketiga: melakukan lima hal secara simultan, yaitu: menentukan strategi; mengatur pengelompokan siswa; mengalokasikan waktu; menentukan tempat atau ruangan mengajar, dan memilih sumber belajar yang akan digunakan.
Kegiatan Belajar 2:Perencanaan Kegiatan EkstrakurikulerRangkumanDari beberapa sumber, terdapat beberapa kesamaan pengertian ekstrakurikuler, yaitu pertama, kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang diprogramkan di luar jam pelajaran sekolah; kedua, kegiatan ekstrakurikuler diarahkan untuk membantu ketercapaian program kurikuler.Perbedaan antara kegiatan ekstrakurikuler dengan kegiatan kurikuler dapat ditinjau dari sifat kegiatan, waktu pelaksanaan, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, teknis pelaksanaan, serta kriteria evaluasi keberhasilan.Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh kegiatan ekstrakurikuler diantaranya adalah memperluas, memperdalam pengetahuan dan kemampuan/kompetensi yang relevan dengan program intrakurikuler, memberikan pemahaman terhadap hubungan antarmata pelajaran, menyalurkan minat dan bakat siswa, mendekatkan pengetahuan yang diperoleh dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat/lingkungan, serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya.Dalam upaya mencapai tujuan kegiatan ekstrakurikuler, ada sejumlah kegiatan yang dapat diprogramkan diantaranya adalah kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pembinaan kehidupan berbangsa dan bernegara, pembinaan kedisiplinan dan hidup teratur, pembinaan kemampuan berorganisasi dan kepemimpinan, pembinaan keterampilan, hidup mandiri dan kewiraswastaan, pembinaan hidup sehat dan kesegaran jasmani, serta pembinaan apresiasi dan kreasi seni. Kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan untuk membantu secara langsung program kurikuler sekolah.Keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya, sumber daya manusia yang tersedia seperti kepala sekolah, guru-guru; dana, sarana dan prasarana; serta perhatian orang tua siswa.Perencanaan program kegiatan ekstrakurikuler perlu disusun oleh kepala sekolah bersama guru agar memperoleh hasil yang maksimal. Terdapat sejumlah komponen yang harus dirumuskan dalam perencanaan kegiatan ekstrakurikuler diantaranya bidang atau materi kegiatan, jenis kegiatan, tujuan atau hasil yang diharapkan, sarana penunjang, kendala atau hambatan yang mungkin muncul, waktu pelaksanaan, dan penanggung jawab. Sedangkan untuk pelaksanaan kegiatan, perlu diperhatikan beberapa prinsip diantaranya berorientasi pada tujuan, prinsip sosial dan kerja sama, prinsip motivasi, prinsip pengkoordinasian dan tanggung jawab, serta prinsip relevansi.
Konsep Dasar Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran berarti penyusunan langkah-langkah pelaksanaan suatu kegiatan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu. Komponen perencanaan pembelajaran terdiri dari kemampuan mendeskripsikan kompetensi pembelajaran, memilih dan menentukan materi, mengorganisasi materi, menentukan metode/strategi pembelajaran, menentukan perangkat penilaian, menentukan teknik penilaian, dan mengalokasikan waktu. Komponen-komponen itu merujuk pada apa yang akan dilakukan guru dan siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan, sebelum kegiatan pembelajaran yang sesungguhnya dilaksanakan.
Manfaat perencanaan pembelajaran adalah sebagai berikut.sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun siswanya.sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat dapat diketahui ketepatan dan kelambatan kerjanya.sebagai bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.perencanaan pembelajaran dibuat untuk menghemat waktu, tenaga, alat dan biaya.
Kegiatan Belajar 2: Pengembangan Silabus dan Rencana atau Satuan PelajaranRangkumanSilabus adalah garis besar ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok materi pelajaran. Silabus adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada kelas dan jenjang tertentu, sebagai hasil dari seleksi, pengelompokan, pengurutan dan penyajian materi kurikulum, yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat.
KBK atau Kurikulum 2004 menyebutkan silabus sebagai:Seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas dan penilaian hasil belajar.Komponen silabus menjawab 1) kompetensi apa yang akan dikembangkan pada siswa? 2) bagaimana cara mengembang-kannya? 3) bagaimana cara mengetahui bahwa kompetensi sudah dicapai siswa?Tujuan pengembangan silabus adalah membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi perencanaan pembelajaran.Sasaran pengembangan silabus adalah guru, kelompok guru mata pelajaran di sekolah, kelompok kerja guru, dan dinas pendidikan.
Isi silabus minimal harus mencakup unsur:tujuan mata pelajaran,sasaran mata pelajaran,keterampilan yang diperlukan agar dapat menguasai mata pelajaran tersebut dengan baik,uraian topik-topik yang akan diajarkan,aktivitas dan sumber-sumber belajar pendukung keberhasilan pembelajaran,berbagai teknik evaluasi yang akan digunakan.
Komponen silabus terdiri dari: 1) bidang studi yang akan diajarkan, 2) tingkat sekolah dan semester, 3) pengelompokan standar kompetensi, kompetensi dasar, 4) indikator, 5) materi pokok, 6) strategi pembelajaran, 7) alokasi waktu, dan bahan/alat/media. Komponen pokok silabus terdiri dari: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan materi pembelajaran.
Manfaat silabus adalah sebagai pedoman dalam pengembangan seluruh kegiatan pembelajaran.
Prinsip pengembangan silabus adalah: ilmiah, memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa, sistematis, dan relevan.
Proses pengembangan silabus berbasis kompetensi terdiri atas tujuh langkah utama, yaitu: 1) penulisan identitas mata pelajaran, 2) perumusan standar kompetensi, 3) penentuan kompetensi dasar, 4) penentuan materi pokok dan uraiannya, 5) penentuan pengalaman belajar, 6) penentuan alokasi waktu, dan 7) penentuan sumber bahan.
Rencana mengajar merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam penentuan pengalaman belajar. Guru dapat mengembangkan rencana pembelajaran dalam berbagai bentuk.
Perencanaan pembelajaran dapat dibagi menjadi rencana mingguan dan harian. Rencana harian adalah rencana pembelajaran yang disusun untuk setiap hari mengajar.
Dalam menyusun rencana pembelajaran harian ini guru perlu selalu berpusat pada siswa, dan semua kegiatan pembelajaran yang dapat melibatkan siswa dalam kegiatan belajar baik secara fisik maupun mentalnya.
Prinsip-prinsip persiapan mengajar adalah harus sederhana, dan fleksibel, kegiatan yang dikembangkan sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan, persiapan pembelajaran harus utuh dan menyeluruh serta jelas indikatornya, kemudian, harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program sekolah.
Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran PKn
Dalam persekolahan di negara kita, nama mata pelajaran PKn SMP/SMA pernah muncul dalam kurikulum tahun 1957 dengan istilah Kewarganegaraan yang merupakan bagian dari mata pelajaran Tata Negara. Kemudian, pada tahun 1961 muncul istilah civics dalam kurikulum sekolah di Indonesia. Pada tahun 1968, mata pelajaran Civics berubah nama menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) atau Civic Education. Dalam kurikulum 1975 nama mata pelajaran PKN berubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP), kemudian dalam kurikulum 1994 berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Selanjutnya, dalam kurikulum tahun 2004 nama mata pelajaran PPKn berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Para ahli memberikan definisi Civics dalam rumusan yang berbeda-beda, tetapi pada dasarnya memiliki makna yang sama, yaitu bahwa Civics merupakan unsur atau cabang keilmuan dari ilmu politik yang secara khusus terutama membahas hak-hak dan kewajiban warga negara.
Dalam standar kompetensi kurikulum 2004, ditegaskan bahwa “Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Education)” adalah merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945.
Sedangkan dalam Encyclopedia of Educational Research dijelaskan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan dapat dibagi 2, yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit, pendidikan kewarganegaraan membahas masalah hak dan kewajiban. Sedangkan dalam arti luas, pendidikan kewarganegaraan membahas masalah: moral, etika, sosial, serta berbagai aspek kehidupan ekonomi (Suriakusumah, 1992). Sedangkan Turner dkk., mengungkapkan bahwa Civics merupakan suatu studi tentang hak-hak dan kewajiban dari warga negara.
Mata pelajaran PKn sangat esensial diberikan di persekolahan di negara kita sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil dan berkarakter (National Character Building) yang setia dan memiliki komitmen kepada bangsa dan negara Indonesia yang majemuk. Selain itu, pentingnya mata pelajaran PKn diberikan di sekolah adalah dalam rangka membina sikap dan perilaku siswa sesuai dengan nilai moral Pancasila dan UUD 1945 serta menangkal berbagai pengaruh negatif yang datang dari luar baik yang berkaitan dengan masalah ideologi maupun budaya.
Rumusan tujuan untuk masing-masing satuan pendidikan mengacu pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan-peraturan pemerintah yang menyertainya. Dalam merumuskan tujuan dan materi pelajaran PKn SMP dan SMA, di samping harus memperhatikan tingkat perkembangan siswa juga harus melihat kesinambungan, kedalaman, dan sekuen antarkelas dan/atau antarjenjang pendidikan untuk menghindari terjadinya pengulangan yang mungkin saja akan mengakibatkan kebosanan siswa.
Dalam standar kompetensi kurikulum PKn tahun 2004, ditegaskan bahwa mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai tujuan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan sebagai berikut.Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.Berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab, serta bertindak secara sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
Dalam kurikulum PKn 2004 dikenal rumus indikator. Indikator-indikator tersebut merupakan indikator minimal untuk mengukur keberhasilan belajar peserta didik. Artinya, guru PKn dapat menambah dan mengembangkan indikator tersebut jika Anda menganggap indikator yang sudah ada belum memadai, dengan catatan tidak mengurangi indikator yang sudah ada.
Pembinaan Pribadi Siswa
Membahas tujuan PKn tidak bisa dipisahkan dari fungsi mata pelajaran PKn karena keduanya saling berkaitan, di mana tujuan menunjukkan dunia cita, yakni suasana ideal yang harus dijelmakan, sedangkan fungsi adalah pelaksanaan-pelaksanaan dari tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu, fungsi menunjukkan keadaan gerak, aktivitas dan termasuk dalam suasana kenyataan, dan bersifat riil dan konkret.
Demikian pula membicarakan fungsi PKn memiliki keterkaitan dengan visi dan misi mata pelajaran PKn. Mata pelajaran PKn memiliki visi, yaitu “terwujudnya suatu mata pelajaran yang berfungsi sebagai sarana pembinaan watak bangsa (nation and character building) dan pemberdayaan warga negara”. Upaya pembinaan watak/ karakter bangsa merupakan ciri khas dan sekaligus amanah yang diemban oleh mata pelajaran PKn atau Civic Education pada umumnya.
Sedangkan misi mata pelajaran PKn, yaitu “membentuk warga negara yang baik yakni warga negara yang sanggup melaksanakan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bernegara, dilandasi oleh kesadaran politik, kesadaran hukum, dan kesadaran moral”. Untuk mewujudkan misi di atas, jelas bahwa peserta didik harus memiliki kemampuan kewarganegaraan yang multidimensional agar dapat menjalankan hak dan kewajibannya dalam berbagai aspek kehidupan.
Sementara itu, mata pelajaran PKn berfungsi sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil, dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.
Jika rumusan fungsi PKn tersebut dihubungkan dengan dimensi keilmuan PKn maka fungsi PKn tersebut dapat dikelompokkan menjadi:fungsi PKn dalam membina kecerdasan /pengetahuan peserta didik;fungsi PKn dalam membina keterampilan peserta didik;fungsi PKn dalam membina watak/karakter peserta didik.
Melalui mata pelajaran PKn diharapkan peserta didik bukan hanya memiliki pengetahuan yang luas tentang materi pokok PKn yang meliputi politik, hukum, dan moral (pengetahuan kewarganegaraan), tetapi juga memiliki keterampilan dalam merespon berbagai persoalan politik, hukum, moral, dan terampil menggunakan hak dan kewajibannya di bidang politik, hukum, dan moral (keterampilan kewarganegaraan). Selain itu, melalui PKn diharapkan peserta didik memiliki sikap, rasa tanggung jawab dan hormat terhadap peraturan yang berlaku (watak kewarganegaraan).
Lingkup Materi PKn
Ruang lingkup materi PKn atau Civics menurut Hanna dan Lee meliputi berikut ini.Informal content.Formal Disciplines.The response of pupils both to the informal and the formal studies.
Materi informal content merupakan bahan-bahan yang diambil dari kehidupan masyarakat sehari-hari yang ada di sekitar kehidupan siswa, meliputi berikut ini.Bahan-bahan yang saling bertentangan (controversial issues).Masalah yang sedang hangat dibicarakan dalam kehidupan masyarakat (current affairs).Masalah yang tabu (taboo) atau Closed area yang terdapat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dalam kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran yang menghubungkan materi yang diajarkan dengan masalah-masalah kehidupan masyarakat dikenal dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Dalam pembelajaran CTL, peserta didik didorong untuk belajar melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan yang alamiah.
Sejalan dengan seringnya perubahan nama atau label mata pelajaran PKn dari masa ke masa maka ruang lingkup materi PKn pun mengalami perubahan sejalan
dengan dinamika dan kepentingan politik. Dalam kurikulum 1957, isi pelajaran Kewarganegaraan membahas cara-cara memperoleh kewarganegaraan dan cara-cara kehilangan kewarganegaraan Indonesia; sedangkan isi materi mata pelajaran Civics pada tahun 1961 adalah sejarah kebangkitan nasional, UUD, pidato politik kenegaraan, yang terutama diarahkan untuk “nations and character building” bangsa Indonesia. Dalam kurikulum 1968, muatan bahan PKN (Civic Education) sangat luas, karena bukan hanya membahas Civics dan UUD 1945, tetapi meliputi pula muatan sejarah kebangsaan Indonesia dan bahkan di Sekolah Dasar mencakup ilmu bumi.
Selanjutnya, dalam standar kompetensi kurikulum PKn 2004 diuraikan bahwa ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ditekankan pada bidang kajian Sistem Berbangsa dan Bernegara dengan aspek-aspeknya sebagai berikut.Persatuan bangsa.Nilai dan norma (agama, kesusilaan, kesopanan dan hukum).Hak asasi manusia.Kebutuhan hidup warga negara.Kekuasaan dan politik.Masyarakat demokratis.Pancasila dan konstitusi negara.Globalisasi.
Menurut pandangan Suryadi dan Somardi (2000) sistem kehidupan bernegara (sebagai bidang kajian PKn) merupakan struktur dasar bagi pengembangan pendidikan kewarganegaraan. Konsep negara tersebut didekati dari sudut pandang sistem, di mana komponen-komponen dasar sistem tata kehidupan bernegara terdiri atas sistem personal, sistem kelembagaan, sistem normatif, sistem kewilayahan, dan sistem ideologis sebagai faktor integratif bagi seluruh komponen.
Dilihat dari struktur keilmuannya, Pendidikan Kewarganegaraan paradigma baru mencakup tiga dimensi keilmuan, yaitu dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan (civic skills), dan karakter atau watak kewarganegaraan (civic dispositions).
Sistem Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Permasalahan yang mendasar dalam dunia pendidikan kita adalah berkenaan dengan kualitas, kuantitas, dan relevansi. Berbicara kualitas pendidikan salah satu komponen yang perlu mendapatkan perhatian adalah masalah materi pelajaran yang ada dalam kurikulum, dengan tidak melupakan unsur guru, input/siswa, dan sarana prasarana pendidikan. Khusus yang berkaitan dengan kurikulum, dipandang perlu untuk memberikan berbagai upaya, terutama yang berkaitan dengan pembaharuan atau perubahan sehingga kurikulum yang berkembang dapat memenuhi harapan masyarakat.
Berkenaan dengan permasalahan materi pelajaran, Pendidikan Kewarganegaraan dalam kurikulum 2004 telah mengalami perubahan yang sangat besar, dari pengembangan materi dalam kurikulum sebelumnya. Dalam kurikulum 2004 pengembangan materi PKn, baik untuk jenjang SMP maupun SMA lebih bercirikan keilmuan. Hal ini tidak terlepas dari adanya karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn ) dengan paradigma baru, yaitu bahwa PKn merupakan suatu bidang kajian ilmiah dan program pendidikan di sekolah dan diterima sebagai wahana utama serta esensi pendidikan demokrasi di Indonesia yang dilaksanakan melalui Civic Intellegence, yaitu kecerdasan dan daya nalar warga negara baik dalam dimensi spiritual, rasional, emosional maupun sosial; Civic Responsibility, yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang bertanggung jawab dan Civic Participation, yaitu kemampuan berpartisipasi warga negara atas dasar tanggung jawabnya, baik secara individual, sosial maupun sebagai pemimpin hari depan.
Ruang lingkup pada bidang kajian dan aspek-aspeknya sebagai berikut persatuan bangsa; nilai dan norma (agama, kesusilaan, kesopanan, dan hukum); hak asasi manusia; kebutuhan hidup; kekuasaan dan politik; masyarakat demokratis; Pancasila dan konstitusi negara dan globalisasi.
Urutan Logis Materi PKn
Jika kemampuan dasar dan indikator dirumuskan dalam bentuk kata kerja maka standar materi dirumuskan dalam bentuk kata benda, atau kata kerja yang dibendakan. Selanjutnya, pokok-pokok materi tersebut perlu dirinci atau diuraikan kemudian diurutkan untuk memudahkan kegiatan pembelajaran. Setelah jenis dan cakupan materi ditentukan, langkah berikutnya adalah mengurutkan (squencing) materi tersebut sesuai dengan urutan mempelajarinya. Sama halnya dengan cara mengurutkan kemampuan dasar dan standar kompetensi, materi pelajaran dapat diurutkan dengan menggunakan pendekatan prosedural, hierarkis, dari sederhana ke sukar, dari konkret ke abstrak, spiral, tematis, dan terpadu.
Nilai, Moral, dan Norma dalam Materi PKn
Kompetensi penguasaan bahan ajar dalam PKn mencakup 3 aspek, yaitu memahami Pengetahuan Kewarganegaraan (Civic Knowledge), memahami Keterampilan Kewarganegaraan (Civic Skills), dan memahami Etika Kewarganegaraan (Civic Ethic). Modul ini ditujukan untuk mengembangkan kompetensi penguasaan bahan ajar, pada aspek kompetensi tentang pemahaman Pengetahuan Kewarganegaraan (Civic Knowledge) khusus pada subkompetensi pemahaman nilai, norma, dan moral.
Nilai merupakan sesuatu yang paling dasar, sesuatu yang bersifat hakiki, esensi, intisari atau makna yang terdalam. Nilai adalah sesuatu yang abstrak, yang berkaitan dengan cita-cita, harapan, keyakinan, dan hal-hal yang bersifat ideal. Norma berisi perintah atau larangan itu didasarkan pada suatu nilai, yang dihargai atau dijunjung tinggi karena dianggap baik, benar atau bermanfaat bagi umat manusia atau lingkungan masyarakat tertentu. Nilai merupakan sumber dari suatu norma. Norma merupakan aturan-aturan atau standar penuntun tingkah laku agar harapan-harapan itu menjadi kenyataan. Moral dalam pengertian sikap, tingkah laku, atau perbuatan yang baik yang dilakukan oleh seseorang adalah merupakan perwujudan dari suatu norma dan nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tersebut. Dengan demikian secara hierarkis dapat dikemukakan bahwa nilai merupakan landasan dari norma, selanjutnya norma menjadi dasar penuntun dari moralitas manusia, yakni sikap dan perbuatan yang baik.
Metode dan Media Pendidikan Kewarganegaraan
Setelah Anda mencocokkan hasil diskusi dengan rambu-rambu kunci jawaban di atas, cermati dengan baik rangkuman materi Kegiatan Belajar 1 sebagai berikut.
Ciri utama PKn (baru) tidak lagi menekankan pada mengajar tentang PKn tetapi lebih berorientasi pada membelajarkan PKn atau pada upaya-upaya guru untuk ber-PKn atau melaksanakan PKn. Oleh karena itu, guru hendaknya memiliki kemampuan untuk memilih dan menggunakan metode pembelajaran PKn yang efektif, tepat, menarik, dan menyenangkan untuk membelajarkan PKn tersebut.
Istilah strategi pembelajaran lebih luas daripada metode pembelajaran karena strategi pembelajaran diartikan sebagai semua komponen materi, paket pembelajaran, dan prosedur yang digunakan untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan metode lebih menunjuk kepada teknik atau cara mengajar. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi, strategi (metode) pembelajaran yang akan digunakan guru dalam proses pembelajaran mesti dirumuskan terlebih dahulu dalam desain pembelajaran.
Penguasaan metode pembelajaran merupakan salah satu persyaratan utama yang harus dimiliki seorang guru. Kemampuan dalam menggunakan berbagai metode pembelajaran akan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa baik keberhasilan aspek kognitif maupun aspek afektif dan psikomotor. Ketidaktepatan memilih dan menggunakan metode pembelajaran akan mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut rambu-rambu pembelajaran PKn dalam Kurikulum 2004, ditegaskan bahwa pembelajaran dalam mata pelajaran Kewarganegaraan merupakan proses dan upaya membelajarkan dengan menggunakan pendekatan belajar kontekstual (CTL) untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan, keterampilan, dan karakter warga negara Indonesia. Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Terdapat 7 komponen CTL, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
Dalam PKn dikenal suatu model pembelajaran, yaitu model VCT (Value Clarification Technique/Teknik Pengungkapan Nilai), yaitu suatu teknik belajar-mengajar yang membina sikap atau nilai moral (aspek afektif). VCT dianggap cocok digunakan dalam pembelajaran PKn yang mengutamakan pembinaan aspek afektif. Pola pembelajaran VCT dianggap unggul untuk pembelajaran afektif karena pertama, mampu membina dan mempribadikan (personalisasi) nilai-moral. Kedua, mampu mengklarifikasi dan mengungkapkan isi pesan nilai-moral yang disampaikan. Ketiga, mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai-moral diri siswa dalam kehidupan nyata. Keempat, mampu mengundang, melibatkan, membina dan mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya. Kelima, mampu memberikan pengalaman belajar berbagai kehidupan. Keenam, mampu menangkal, meniadakan, mengintervensi dan menyubversi berbagai nilai-moral naif yang ada dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang. Ketujuh, menuntun dan memotivasi hidup layak dan bermoral tinggi.
Alternatif Media Pembelajaran PKn
Perolehan pengetahuan dari pengalaman langsung dengan melihat, mendengar, mengecap, meraba serta menggunakan alat indra dapat dianggap permanen dan tidak mudah dilupakannya karena kata-kata yang mereka peroleh benar-benar mereka kenal yang diperolehnya melalui pengalaman yang konkret. Media pembelajaran adalah sarana yang membantu para pengajar. Ia bukan tujuan sehingga kaidah proses pembelajaran di kelas tetap berlaku.
Media pengajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses kegiatan pada diri siswa. Di samping itu, media dapat membawakan pesan atau informasi belajar dengan keandalan yang tinggi, yaitu dapat diulang tanpa mengalami perubahan isi.
Prinsip pengajaran yang baik adalah jika proses belajar mampu mengembangkan konsep, generalisasi, dan bahan abstrak dapat menjadi hal yang jelas dan nyata. Konsep media pembelajaran lebih luas daripada pengertian alat peraga, sebab alat peraga hanya merupakan sebagian dari media pembelajaran. Secara umum yang dapat dijadikan media pembelajaran, antara lain slide, proyektor, peta, globe, grafik, diagram, gambar, film, bagan, diorama, tape recorder, dan radio.
Edgar Dale (1969) mengemukakan jenis media yang terkenal dengan istilah kerucut pengalaman (the cone of experience), yaitu (1) pengalaman langsung; (2) pengalaman yang diatur; (3) dramatisasi; (4) demonstrasi; (5) karyawisata; (6) pameran; (7) gambar hidup; (8) rekaman, radio, dan gambar mati; (9) lambang visual; (10) lambang verbal.
Burton membagi media berdasarkan pengalaman langsung dan pengalaman tak langsung. Sedangkan Heinich mengklasifikasikan media menjadi dua kelompok, yaitu pertama, media yang tidak diproyeksikan, kedua, media yang diproyeksikan.
Terdapat beberapa persyaratan yang hendaknya diperhatikan dalam pengembangan media pengajaran Pendidikan Nilai dan Moral, yaitu (1) membawakan sesuatu/sejumlah isi-pesan harapan; (2) memuat nilai/moral kontras atau dilematis; (3) diambil dari dunia kehidupan nyata (siswa,lokal,nasional atau dunia); (4) menarik minat dan perhatian siswa atau melibatkan diri siswa; (5) oleh kemampuan belajar siswa.

Implementasi Kurikulum Terintegrasi TIK dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menyongsong Era Digital

Implementasi Kurikulum Terintegrasi TIK dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menyongsong Era Digital
Implementasi Kurikulum Terintegrasi TIK dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menyongsong Era Digital Temu Ilmiah Nasional Guru yang akan diselenggarakan pada 7-8 Agustus mendatang, merupakan kegiatan yang bertujuan membangun sinergi dan komitmen profesional guru melalui pertemuan ilimiah. Dengan mengangkat tema “Profesionalisme Guru untuk Pembelajaran yang Berkualitas: Berbagi Gagasan Keunggulan dan Pengalaman Terpetik” acara yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka (UT) ini akan dibuka oleh Mendiknas di UTSS, Tangerang, Banten. Acara yang digelar nanti juga akan dihadiri oleh berbagai nara sumber dari Kualalumpur, Bangkok, Filipina. Brunei, Singapore dan Dirjen PMPTK serta Dikti. Selain nara sumber dari negara tetangga, hadir nara sumber dari kalangan guru di seluruh Indonesia, salah satunya adalah Penulis (Elizabeth T dari SMA Xaverius 1 Jambi) yang terpilih dalam menyajikan makalah pada acara tersebut. Berikut petikan tulisan yang akan turut memperkaya pengalaman belajar dalam dunia pendidikan kita. Kurikulum Pendidikan (KTSP), Seberapa Pentingkah?Kata kurikulum, kerap terkait dengan hal-hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari. Tugas-tugas yang dikerjakan dan diselesaikan sudah seharusnya dilakukan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan harapan memperoleh hasil yang memuaskan. Oliva (1984), seorang ahli kurikulum, menyebutkan bahwa pada awal munculnya kata "curriculum" di jaman Romawi mempunyai arti yaitu jalur atau gelanggang pacu yang harus dilewati pada perlombaan kereta kuda. Ternyata, dua puluh satu abad kemudian. kata kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan dan berkembang menjadi konsep yang artinya luas. Memahami kata kurikulum sendiri bak memasuki hutan rimba yang penuh dengan segala kemungkinan. Definisi yang diberikan bisa saja dipandang dari segi teknis, segi isi, atau bahkan dianggap sebagai kompas yang akan menentukan ke arah mana suatu proses pendidikan akan berjalan. Dampak yang terjadi seringkali dikatakan bahwa proses pendidikan dikendalikan, diatur, dan dinilai berdasarkan kriteria yang ada dalam kurikulum. Sebelum melangkah lebih jauh dalam mengembangkan kurikulum agar mencapai tujuan kurikulum yang merupakan bagian dari proses keberhasilan pendidikan, para pengembang kurikulum perlu memahami pengertian dan posisi kurikulum yang akan menentukan apa yang seharusnya menjadi tolok ukur keberhasilan kurikulum, sebagai bagian dari keberhasilan pendidikan. Berbagai literatur mengemukakan bahwa kurikulum diartikan sebagai suatu dokumen berisi rencana tertulis mengenai kualitas pendidikan yang diharapkan harus dimiliki oleh peserta didik melalui suatu pengalaman belajar. Salah satunya dikemukakan oleh Oliva (1997:12) bahwa "Curriculum itself is a construct or concept, a verbalization of an extremely complex idea or set of ideas". Sementara pendapat George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa : “ A Curriculun is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935). Adapun kurikulum dalam UU No 20/2003 dinyatakan sebagai "seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu" (pasal 1 ayat 19). Pendidikan harus membekali peserta didik baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat, sehingga mampu mengembangkan potensinya dalam menghadapi kehidupan. Intinya adalah kurikulum sebagai upaya untuk mengembangkan diri peserta didik, pengembangan disiplin ilmu, atau kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik untuk suatu pekerjaan tertentu. Sementara definisi kurikulum dalam arti teknis pendidikan, memandang keterkaitan antara kurikulum dengan proses pembelajaran dalam kelas, Saylor, Alexander,dan Lewis, 1981 mengemukakan bahwa kurikulum adalah rencana bagi guru untuk mengembangkan proses pembelajaran. Adapun Zais,1976:10 mengatakan bahwa kurikulum adalah dokumen tertulis yang berisikan berbagai komponen sebagai dasar bagi guru untuk mengembangkan aktivitas yang akan terjadi dalam kelas. Dari berbagai ulasan pengertian kurikulum, tentunya kita dapat menempatkan bahwa kurikulum adalah jantung pendidikan. Semua aktivitas kependidikan yang dilakukan sekolah didasarkan pada apa yang direncanakan kurikulum sekolah tersebut sehingga outcome yang diharapkan merupakan bukti terhadap keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Hal ini sekaligus merupakan salah satu bentuk akuntabilitas (academic accountability) suatu lembaga pendidikan terhadap masyarakat. Tidaklah berlebihan jika sebelum memasukkan anaknya ke dalam suatu sekolah, hendaknya orangtua perlu melihat dan mengkaji kurikulum sekolah tersebut untuk mengetahui kegiatan sekolah apa yang akan dilaksanakan dan apa yang ingin dihasilkan oleh sekolah tersebut, meskipun kenyataannya jarang orangtua yang menanyakan hal ini. Kendati kenyataan yang terjadi dalam sistem pendidikan di Indonesia yang telah berganti-ganti kurikulum sejak 1975, kurikulum yang berlaku saat ini masih berisi kumpulan materi dari berbagai disiplin ilmu yang lebih dominan menekankan pada penguasaan konsep dan teori. Oleh karena itu, sesuai dengan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006/Nomor 6 Tahun 2007 bahwa sekolah-sekolah telah diberi amanat untuk menerapkan kurikulum KTSP mulai tahun pelajaran 2006/2007. Sementara adanya Undang-Undang (UU) Republik Indonesia (RI) Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, menegaskan bahwa kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hal ini merupakan angin segar yang mendorong pelaksanaan KTSP justru merupakan kesempatan bagi setiap lembaga pendidikan untuk menjawab kebutuhan pendidikan yang ada saat sekarang dan bukan teoretis semata. Artinya bahwa KTSP merupakan tantangan untuk menjawab apakah kurikulum dapat mengakomodir berbagai masalah sosial yang berkenaan dengan pendidikan, apakah kurikulum dapat membangun kehidupan masa depan seiring dengan era yang terjadi saat sekarang, atau kurikulum hanyalah “construct" yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan, tanpa melihat kebutuhan peserta didik dan masyarakat yang ada. Sesuaikah Kurikulum (KTSP) dengan Teori Pendidikan?Keterkaitan antara kurikulum dengan teori pendidikan berdasarkan atas pemikiran bahwa kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum dan teori kurikulum dijabarkan berdasarkan teori pendidikan tertentu. Menurut Sukmadinata (1997), dikenal 4 teori pendidikan. Teori pertama menyatakan bahwa jika peserta didik dilatih agar menggunakan daya pikirnya berupa ide melalui proses belajar yang mengakomodasi latihan meneliti, menemukan sesuatu (inquiry) serta ekspositori berarti kurikulum disusun berdasarkan teori pendidikan klasik. Pada bagian ini, kurikulum sendiri bersifat akademis karena berfokus pada pemberian pengetahuan bagi peserta didik. Sementara teori pendidikan pribadi yang mengakomodir model kurikulum humanis berfokus pada masalah sosial sehingga peserta didik dilatih mengembangkan diri, memiliki kesadaran diri, serta mampu mengaktualisasi diri. Teori pendidikan berbasis teknologi pendidikan menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum teknologis, yaitu model kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi para peserta didik, melalui berbagai teknologi baik metode pembelajaran atau media pembelajaran sehingga peserta didik dapat menguasai keterampilan-keterampilan dasar tertentu. Teori pendidikan keempat yaitu pendidikan interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi sosial, yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para peserta didik pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Implementasi yang sesuai untuk model kurikulum ini salah satunya adalah PBL (problem based learning) sebagai salah satu model pembelajaran yang mendorong peserta didik berkolaborasi dalam kelompok untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Mencermati uraian di atas, kurikulum KTSP sangat sesuai diterapkan mengingat KTSP dapat mengakomodir ke-4 teori pendidikan yang menjadi dasar penyusunan kurikulum disesuaikan dengan keadaan, kemampuan dan kepentingan sekolah masing-masing. Seharusnya hal ini bukanlah hambatan bagi setiap sekolah khususnya guru selaku ujung tombak pembelajaran agar mampu melaksanakan KTSP, yang karena fleksibilitasnya justru akan membawa peningkatan proses dan hasil belajar sesuai dengan apa yang diharapkan.Guru sebagai Salah Satu Implementator KurikulumImplementasi kurikulum merupakan bagian dari proses pengembangan kurikulum yang akan dipengaruhi berbagai faktor seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, ilmu, dan teknologi. Seperti pada ulasan sebelumnya, dikatakan bahwa kurikulum yang dikembangkan akan menjadi rangkaian kegiatan proses pembelajaran yang bakal dilaksanakan dalam kelas maka sudah seharusnya aspek kualitas manusia yang bagaimana yang akan dikembangkan sehingga diperoleh masyarakat dengan kualitas yang bagaimana juga, merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan sejak awal tanpa menyimpang dari tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, guru sebagai penanggung jawab kegiatan belajar dalam kelas perlu memahami kurikulum secara luas sehingga akan terhindar dari jerat bahwa seolah pendidikan hanya untuk mencapai target demi mengantarkan peserta didik mencapai nilai setinggi-tingginya pada Ujian Nasional. Cara pandang ini menuntut guru untuk mampu berkreativitas, merancang proses pembelajaran yang menjawab kebutuhan siswa dalam menghadapi eranya, memfasilitasi kegiatan belajar yang melibatkan aktivitas siswa secara penuh sehingga pengalaman belajar diingat seumur hidup. Intinya bahwa orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik (learner centred). Dengan berbekal pemahaman terhadap aspek pedagogi seharusnya bukanlah menjadi beban bagi guru dalam melaksanakan berbagai model, pendekatan, atau strategi pembelajaran dalam kelas demi memfasilitasi tercapainya tujuan pembelajaran yang ada. Integrasi TIK dalam Kurikulum sebagai Tantangan Era Digital?Seperti telah dibahas di awal bahwa pengembangan kurikulum harus mampu menjawab tantangan pendidikan di era digital abad ke-21 ini. Penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar memungkinkan proses pendidikan yang lebih interaktif dan membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di era digital ini, yaitu ICT literacy, kemampuan berkolaborasi, kemampuan berkomunikasi secara efektif, berpikir kritis dan problem solver. Dengan ditunjang semakin murah, mudah, dan cepatnya akses internet bukan alasan lagi jika guru mulai mengintegrasikan TIK dalam menunjang perubahan paradigma bahwa peserta didik adalah pelaku aktif pembelajaran dan guru sebagai fasilitator. Di balik idealisme tercapainya outcome pendidikan yang mampu menjawab tantangan era digital, ternyata kehadiran TIK akan turut memengaruhi tatakelola sekolah, terkait dengan merumuskan visi dan misi serta menata ulang pola pengelolaan sekolah dan reformasi terhadap kurikulum yang dilaksanakan. Implikasinya, perubahan model pembelajaran dalam konteks pranata pendidikan yang diarahkan kepada manajemen pendidikan berbasis TIK tidak bisa ditawar-tawar lagi. Namun, persoalan yang mengemuka, pertama, guru dihadapkan oleh persoalan yang amat pelik dalam hal perubahan paradigma pola pembelajaran TIK masih dimaknai sebagai kajian teoritis belaka dan belum menyentuh akar persoalan dalam menerapkannya dalam pembelajaran sehari-hari. Kondisi ini diperparah oleh sebagian guru menganggap pola pembelajaran yang inovatif dan kolaboratif masih sebatas wacana. Dalam perspektif pedagogis, yang merujuk pada Sulinet Digital Knowledge Base (SDKB) merekomendasikan empat komponen utama dalam mewujudkan guru dalam penguasaan dasar pengetahuan standar digital dalam konteks pembelajaran. Standar ini memfasilitasi penguasaan guru dalam merancang desain instruksional yang berwilayahkan pada kertas kerja siswa, sistem umpan balik dari siswa, standar multimedia dan penguasaan kurikulum dengan menggunakan kata operasional secara terukur berbasis TIK. Perubahan paradigma guru dari pola pembelajaran secara tradisional bermigrasi ke arah sistem komunikatif yang diimbangi oleh pemecahan berbasis masalah serta didukung oleh sistem evaluasi pembelajaran berbasis portofolio perlu didukung kompetensi guru dalam penguasaan model-model pembelajaran. Jika dicermati, setidaknya terdapat tiga wilayah untuk menyikapi pembelajaran berbasis TIK terkait dengan keterampilan dan kemampuan integratif TIK. Pertama, bagi guru dibutuhkan kemampuan dan strategi berkomunikasi dalam menumbuhkan belajar secara kolaboratif. Kedua, integrasi TIK sebagai bentuk perwujudan teknologi dapat memberikan kontribusi dalam pembelajaran. Ketiga, desain pembelajaran sebagai bentuk peningkatan guru dalam memperbaiki kurikulum serta desain instruksionalnya. Untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengintegrasi TIK dalam bidang studi telah dikembangkan di berbagai negara. Berbagai kegiatan telah dilakukan melalui kursus hingga pendidikan formal. Bahkan, dalam ranah kebijakan terkait dengan kompetensi guru di bidang TIK dan integrasinya dalam pembelajaran UNESCO secara gamblang menuangkannya dalam dokumen ICT competency standards for teachers (2008). Sementara menurut (Bate, 2008) secara teknis berikut komponen terkait dengan kolaborasi dan kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran berbasis TIK yakni Engaged learning principles: Design tenets for each facet of the program reflect our belief that technology is best employed when paired with engaged learning strategies. Activities reflect engaged learning principles. Curriculum planning skills: The heart of technology integration is effective teaching practices. Planning is key to effective teaching. Program will practice using tools and processes that provide a framework for planning standards-based, technology-rich learning activities. Modeling: Model different instructional strategies to engage participants in active learning. Technology skills: Use technology, including software, resources from Learning Essentials, and other ICT tools, to help them develop the skills and comfort needed to assist other teachers to use these same teaching tools in their classrooms. Intinya adalah perubahan paradigma dalam perspektif pedagogi baru dan untuk ini dibutuhkan komitmen pribadi dalam diri guru untuk mau berubah dengan banyak belajar dan berlatih serta dedikasi yang tinggi terhadap kemajuan peserta didik.Tips Mengimplementasikan Kurikulum Terintegrasi TIK di SekolahIsu penting yang menyangkut integrasi TIK dengan kurikulum terdapat komponen utama yang harus dimiliki bahkan sebagai bentuk komitmen untuk membangun kapasitas sekolah berbasis TIK. Pertama, pentingnya strategi penerapan terkait dengan subtansi pembelajaran dan aspek teknisnya. Kedua, ketersediaan sumber belajar secara memadai yang didukung oleh infrastruktur berbasis TIK. Sedangkan yang ketiga adalah kompetensi guru dalam aspek pedagogi baru untuk melaksanakan manajemen kelas yang mengikuti kaedah-kaedah pembelajaran berbasis TIK. Pengalaman Penulis selama mengajar bidang studi kimia di SMA Xaverius 1 Jambi telah menerapkan hal-hal ini khususnya pada kelas XI IPA baik melalui multimedia, pembelajaran berbasis website dengan merancang website khusus yang digunakan sebagai interaksi belajar antar murid dan guru. Hasilnya ternyata kita dapat menemukan bahwa setiap peserta didik mampu mengembangkan kapasitasnya baik dari segi kognitif, psikomotorik, maupun afektif dalam bentuk soft skill disertai suasana belajar yang menyenangkan sehingga belajar menjadi bermakna di samping bekal keterampilan TIK bagi peserta didik dalam menunjang era digital.Dukungan kebijakan untuk menyongsong pembelajaran berbasis TIK, Departemen Pendidikan Nasional telah menghadirkan buku putih tentang TIK sebagai sarana pembelajaran. Setidaknya, telah dirumuskan dalam tujuh komponen penting peran TIK dalam pembelajaran, mulai dari sebagai sumber belajar hingga ranah kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa dalam pembelajaran. Dengan demikian, mengimplementasikan TIK dalam pembelajaran yang terintegrasi disertai keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum, dukungan sekolah, serta tuntutan kebutuhan era demi peningkatan kualitas outcome pendidikan merupakan hal urgen yang tidak bisa ditawar lagi. Sanggupkah??
bloguez.com